
Pine hill Cibodas, Bandung. Lokasi yang dipilih Anne untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan Dara. Konsep pernikahan outdoor dengan konsep yang begitu indah membuat siapa saja menyukai tempat ini. Tidak sia-sia om Rudi membayar mahal EO yang mengatur semua ini.
Upacara pernikahan akan digelar tiga puluh menit lagi. Semua keluarga sudah hadir di sini untuk mengiringi Dara dan Juna yang akan naik ke atas pelaminan. Semua orang memakai pakaian berwarna putih, sesuai dengan dress code pagi ini.
Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Sebuah delman dengan dua kuda berwarna putih masuk ke area pernikahan itu. Tentu delman tersebut telah dihias dengan berbagai macam pernah-pernik hingga terlihat seperti kendaraan yang biasa ada di cerita dongeng. Delman itu ditempati Dara seorang diri, sementara Juna naik di atas kuda yang ada di depan delman sang istri. Mereka seperti pangeran dan tuan putri yang ada di negeri dongeng.
Juna segera turun dari kuda berwarna cokelat itu. Ia berjalan menuju tempat sang istri berada saat ini. Senyum yang sangat manis untuk menyambut tuan putri yang baru saja turun dari delman. Dara terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin yang sengaja di desain seperti pakaian yang ada di serial kartun kesayangan Dara. Ia terlihat seperti barbie dalam bentuk nyata dan semua itu berhasil membuat semua orang takjub dibuatnya.
Om Rudi menitikkan air mata setelah melihat betapa bahagianya Dara saat ini. Beliau tidak mampu mengucapkan sepatah katapun karena hal ini. Rasanya, beliau tidak percaya bahwa putrinya sudah tumbuh dewasa dan kini telah dipersunting sang pujaan hati.
"Mami, lihatlah! Putrimu sangat cantik!" batin om Rudi saat teringat mendiang ibunya Dara.
Satu persatu rangkaian acara pada akhirnya telah dilaksanakan. Pagi ini acara memang untuk keluarga dan beberapa orang khusus, sedangkan untuk tamu umum akan hadir nanti sore hingga malam.
"Sayang, mari ikut Papi menemui keponakan Papi di sana!" ucap om Rudi setelah menghampiri Anne yang sedang berbincang dengan salah satu keluarga pak Arif.
Sebelum pergi bersama sang suami, tak lupa Anne pamit terlebih dahulu. Ia berjalan di sisi sang suami ke tempat yang dimaksud. Jujur saja, saat ini Anne begitu gugup berada di antara keluarga om Rudi. Meski semua ini bukan yang pertama kalinya.
Waktu telah membawa semua insan berada di penghujung acara sesi pertama. Tepat sebelum makan siang acara tersebut selesai. Acara akan berlanjut nanti sore hingga malam. Semua keluarga besar istirahat di villa yang ada di sana. Mereka harus mengisi energi sebelum melanjutkan acara nanti sore.
Resepsi mewah sesuai dengan mimpi Dara telah diwujudkan om Rudi. Tanggung jawab sebagai orang tua telah ditunaikan oleh pria matang itu. Beliau benar-benar bahagia karena bisa mewujudkan semua mimpi putrinya.
__ADS_1
Bukankah memang begitu? Tidak ada hal yang membahagiakan bagi orang tua selain melihat anak-anak bisa meraih mimpinya. Segala hal pasti akan dilakukan demi kebahagiaan sang buah hati.
...♦️♦️♦️♦️...
Dua hari sejak acara pernikahan Dara telah berlalu begitu saja. Banyak keluarga yang sudah kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan beberapa orang masih tinggal di villa untuk mengantarkan sepasang pengantin baru itu ke tempat yang masih dirahasiakan oleh om Rudi dan Anne.
"Mari kita berangkat sekarang," ucap om Rudi setelah semua orang siap. Pak Arif beserta istrinya pun segera beranjak dari tempatnya saat ini.
Ada tiga mobil yang akan pergi ke tempat yang dimaksud om Rudi. Anne, Dara, Juna dan om Rudi berada dalam satu mobil. Sedangkan dua mobil yang lain membawa keluarga besar Juna. Mereka beriringan menuju salah satu kawasan elit di Bandung.
"Papi, kita mau kemana sih?" tanya Dara seraya menatap sosok yang sedang fokus dengan kemudinya.
"Sudahlah, kalian nanti pasti tahu sendiri," jawab om Rudi tanpa mengalihkan pandangannya.
Setelah beberapa puluh menit membelah jalanan padat kota kembang itu, pada akhirnya mobil yang dikendarai om Rudi masuk ke salah satu pintu gerbang rumah mewah yang terbuka itu. Beliau segera turun dari mobil diikuti dengan anak dan istrinya.
Om Rudi menunggu orang tua Juna terlebih dahulu sebelum mengajak putrinya masuk. Ada hal yang harus disampaikan om Rudi mengenai rumah yang ada di hadapannya. Tidak lama setelah itu, pak Arif dan keluarganya sampai di rumah ini. Mereka segera mendekat ke tempat om Rudi berada.
"Baiklah, berhubung semua sudah berkumpul, saya ingin menyampaikan sesuatu," ucap om Rudi seraya tersenyum ke arah pak Arif.
"Rumah yang ada di depan kita semua ini adalah hadiah yang saya berikan kepada Dara dan Juna. Setelah ini kalian bisa menempati rumah ini. Saya harap kalian bisa hidup bahagia di rumah ini," ucap om Rudi dengan sikap penuh wibawa.
__ADS_1
Dara terkesiap mendengar hal itu. Begitupun dengan Juna dan keluarganya. Mereka tercengang mendengar ucapan om Rudi. Segera Dara menghambur ke dalam pelukan hangat ayahnya.
"Papi, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Dara yang sedang terisak di dada ayahnya.
"Tidak, Sayang. Semua ini memang sudah Papi persiapkan jauh-jauh hari," ucap om Rudi setelah mengurai tubuh sang putri. Beliau mengusap air mata yang membasahi pipi putrinya itu.
"Terima kasih, Pi. Terima kasih banyak," ucap Dara seraya menatap ayahnya dengan perasaan yang membuncah di dada.
"Berterima kasihlah kepada Mici, karena dia sendiri yang memilih rumah ini sebagai hadiah pernikahanmu," ucap om Rudi seraya menatap sang istri penuh arti.
Dara menghambur begitu saja ke dalam pelukan hangat ibu sambung sekaligus sahabatnya itu. Ia sangat bersyukur memiliki Anne dalam hidupnya. Sungguh, tidak ada lagi yang bisa Dara ucapkan kepada sosok wanita sedang mengembangkan senyum di hadapannya.
"Papi, terima kasih atas semua ini. Maaf saya belum bisa memberikan apapun kepada putri Papi. Selama ini saya hanya bisa mencurahkan kasih dan sayang saya kepada Dara," ucap Juna tanpa melepaskan pandangan dari sang mertua.
"Semoga kamu akan tetap seperti ini, Nak! Jaga putri kecil Papi dengan baik. Jangan sakiti hatinya! Itu saja sudah cukup bagi Papi." Om Rudi menepuk bahu menantunya beberapa kali.
Pak Arif sangat bahagia melihat putranya diperlakukan dengan baik oleh besannya itu. Beliau menemui pak Rudi untuk mengucapkan rasa terima kasihnya. Pak Arif tidak pernah menyangka pria yang terlihat angkuh itu ternyata sangat baik dan bijaksana.
"Kalau begitu mari kita semua masuk ke dalam. Mari kita lihat bagaimana suasana di dalam," ucap om Rudi setelah berbicara dengan pak Arif, "lebih baik kamu saja yang membuka pintunya, Dar!" ujar om Rudi seraya menatap putrinya penuh arti.
...🌹Selamat membaca🌹...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...