
Malam penuh warna telah hilang seiring dengan berjalannya waktu. Bahkan, sinar sang surya berhasil menerobos masuk ke dalam kamar hotel karena jendela kaca itu dibiarkan terbuka. Dekorasi perayaan ulang tahun pun masih lengkap dan rapi seperti sebelumnya.
Bagus mengerjap pelan saat tidurnya terusik karena kilau cahaya yang masuk ke dalam kamar. Ia memicingkan mata untuk menyesuaikan cahaya tersebut. Tangannya meraba tempat yang ada di sisinya yang ternyata tidak berpenghuni.
"An, Anne ... kamu di mana?" teriak Bagus setelah mengamati kamar hotel tersebut.
Bagus segera turun dari ranjang, Ia mengayun langkah menuju kamar mandi untuk mencari sang kekasih. Bagus tertegun di ambang pintu kamar mandi karena ternyata Anne tidak ada di sana. Ia berpikir sejenak dan setelah itu memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum mencari keberadaan Anne.
Dua puluh menit, waktu yang dibutuhkan Bagus melakukan segala aktifitas di dalam kamar mandi. Wajah itu terlihat berseri karena bunga-bunga cinta masih bermekar indah di dalam jiwa. Sekali lagi, senyum itu mengembang sempurna kala melihat noda merah yang menghiasi sprei berwarna putih itu.
"Lebih baik aku telfon Anne terlebih dahulu," gumam Bagus setelah duduk di tepi ranjang. Ia meraih ponsel yang ada di atas nakas.
Bagus mengernyitkan keningnya setelah kunci ponselnya terbuka. Layar tersebut menampilkan menu galeri atau lebih tepatnya sebuah rekaman video yang belum sempat terputar, karena penasaran ... Bagus memutuskan untuk melihat isi video tersebut sebelum menghubungi Anne.
Pria berwajah manis itu semakin bingung setelah video tersebut mulai terputar. Wajah cantik Anne terlihat menghiasi seluruh layar ponsel tersebut. Bagus semakin bingung saat melihat Anne menangis dalam rekaman itu. Ia tahu bahwa rekaman itu di buat di dalam kamar mandi hotel ini.
"Bee ... mungkin saat kamu melihat video ini, aku sudah tidak ada di sisimu lagi. Maafkan aku karena membuatmu bingung dan pastinya kamu sedang panik mencariku,"
Bagus semakin penasaran dengan isi video tersebut, dengan sabar ia menunggu Anne yang masih terisak dengan kepala yang tertunduk.
"Aku sudah berbohong kepadamu, Bee. Sebenarnya keadaan ibu sangat memprihatinkan karena ibu belum sadar pasca operasi. Aku terpaksa membohongimu karena aku ingin menghabiskan malam denganmu—Malam terakhir yang bisa kita lalui bersama untuk mengungkapkan rasa cinta,"
"Setelah kamu melihat video ini, aku mohon ... Jangan mencariku lagi, Bee. Hubungan kita berakhir mulai detik ini. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita karena ..."
__ADS_1
Bulir air matapun lolos begitu saja dari pelupuk mata pria manis bernama Bagus itu. Apa yang diucapkan Anne bagai pisau yang menyayat hati. Bagus tidak kuasa melihat Anne semakin terisak dengan air mata yang menganak sungai.
"Hubungan kita harus berakhir sampai di sini, Bee, karena aku telah menjual diri kepada seseorang yang tidak bisa aku tunjukkan padamu. Sebentar lagi aku akan menikah dengannya karena itulah syarat yang harus aku lakukan agar dia bersedia membayar semua biaya rumah sakit bu Ningrum,"
"Aku sangat berharap jika setelah ini kamu membenciku, Bee! Aku bukan wanita baik-baik, Bee! Aku kotor, Bee! Kotor!"
Bagus mengusap wajahnya kasar setelah mendengar pengakuan sang kekasih. Ia tidak pernah menyangka jika malam indah yang ia lalui adalah sebuah awal perpisahan yang menyakitkan.
"Aku sudah menyerahkan semuanya kepadamu, Bee! Hanya kamu yang berhak mendapatkan apa yang aku jaga selama ini. Hanya itu yang bisa aku berikan kepadamu sebagai bukti betapa besarnya rasa cinta yang aku punya,"
"Jika memang kamu benar-benar mencintaiku, Bee ... Aku mohon setelah ini jangan mencari tahu apapun tentang diriku. Simpan rahasia ini hanya untukmu, Bee! Jangan sampai Dara tahu karena aku tidak mau kamu dan Dara ikut terseret dalam masalah ini,"
"Sekali lagi, aku mohon kepadamu, Bee ... Jangan mencari aku ataupun mendekat ke arahku lagi! Calon suamiku orang yang berbahaya, Aku tidak mau terjadi sesuatu kepadamu jika dia tahu, kamu adalah pemilik hatiku yang sesungguhnya. Tolong jangan sampai Dara tahu jika aku akan menikah karena pernikahan ini adalah pernikahan tersembunyi,"
"Aku minta maaf karena aku tidak punya keberanian untuk berbicara langsung kepadamu, Bee. Aku terlalu takut menatap kedua mata indahmu, aku takut tidak mampu melepaskan diri darimu, Bee, maka dari itu aku lebih memilih cara ini untuk mengungkapkan semua yang terjadi,"
Bagus menghempaskan diri di atas ranjang setelah video itu berakhir. Ia tidak dapat menahan air mata yang turun semakin deras. Apa yang sudah diungkapkan Anne tadi malam mulai menari-nari dalam ingatan. Semua rasa tengah bercampur aduk di dalam hati sampai Bagus tidak tahu harus bagaimana setelah ini.
"Anne!" teriak Bagus dengan suara yang sangat keras, ia sedang mengeluarkan segala rasa yang tersimpan di dalam jiwa.
***
Sementara itu, di rumah sakit ... Anne terus menangis di ruang tunggu ICU. Ia sedang membayangkan bagaimana hancurnya sang kekasih setelah bangun dari tidurnya. Bahkan, Anne tidak menghiraukan beberapa orang yang ada di sekitarnya. Ia hanya bisa menangis untuk meluapkan segala rasa yang membelenggu hatinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bee ... maaf!" Anne bergumam dengan suara yang sangat lirih.
Rasa cinta harus ia korbankan demi sosok yang belum sadar di dalam ruang ICU. Kondisi bu Ningrum belum ada peningkatan. Ibu angkatnya Anne itu belum mampu merespon siapapun meski Anne sudah membisikkan kata-kata penyemangat saat ada jam besuk di pagi hari.
"Anne,"
Anne segera menegakkan kepalanya saat mendengar suara bariton yang ada di hadapannya. Bulir air mata itu semakin turun deras saat melihat kehadiran om Rudi di sana.
"Apa yang sedang terjadi hingga membuatmu menangis seperti ini?" tanya om Rudi setelah duduk di samping Anne.
Ekspresi wajah itu mendadak berubah menjadi dingin ketika om Rudi berani menggenggam tangannya. Jujur saja, Anne merasa risih akan hal itu. Jika mampu, ingin sekali Anne menampar pipi itu untuk melampiaskan semua rasa sakit yang ada dalam hati.
"Ada apa Om datang kemari? Apa Om tidak takut jika Dara datang menemui saya?" tanya Anne seraya melepaskan tangannya dari genggaman om Rudi.
"Itu tidak mungkin terjadi karena aku mengizinkan Dara liburan di Bandung selama beberapa hari ke depan," ucap Om Rudi dengan sikap yang sangat tenang, "bukankah Dara akan bahagia jika berada di Bandung karena bebas bertemu kekasihnya itu!" ujar om Rudi dengan menekankan kata 'kekasih'.
Anne mengalihkan pandangannya, ia paham betul jika om Rudi sedang menyindirnya karena selama ini Anne lah yang melindungi Dara saat putri semata wayang om Rudi itu berbohong. Om Rudi tidak suka jika putrinya menjalin hubungan dengan pria yang tidak sepadan dengan keluarganya.
"Katakan saja, apa tujuan Om menemui saya di sini?" tanya Anne tanpa menatap om Rudi.
Om Rudi hanya tersenyum melihat sikap yang ditunjukkan Anne di hadapannya. Pria berusia hampir setengah abad itu merasa tertantang untuk menaklukkan kerasnya hati Anne.
"Berikan kartu identitas dan semua data dirimu karena asisten Om akan mengurus surat-surat pernikahan kita," ucap om Rudi dengan suara yang lirih, "bersiaplah, beberapa hari ke depan kita akan melaksanakan akad nikah," lanjut om Rudi dengan diiringi senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
🌹Kenapa aku yang sedih sih waktu nulis episode ini😥🌷
...🌹🌹🌹🌹...