Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Kembali ke Indonesia,


__ADS_3

"Hati-hati, Pi ... Mib!" ucap Dara saat om Rudi pamit pulang. Sepasang suami istri itu sudah siap check in di bandar udara Haneda.


Dara memberikan pelukan hangat dan kecupan di pipi kanan dan kiri Anne. Ia tersenyum manis untuk mengantar kepulangan kedua orang tuanya itu. Sama halnya dengan Juna, pria itu menjabat tangan om Rudi sebelum calon mertuanya itu berlalu pergi.


"Saya titipkan Dara kepadamu! Jangan sampai terjadi apapun kepada dia," ucap om Rudi dengan pandangan yang tak lepas dari wajah Juna.


"Pasti, Om. Saya akan menjaga Dara sekuat tenaga yang saya miliki," ujar Juna dengan penuh keyakinan.


Sepasang suami istri itu pun akhirnya berlalu dari hadapan Dara dan Juna. Lambaian tangan dari Dara mengantarkan keberangkatan mereka menuju Indonesia.


Kondisi Anne jauh lebih naik dari sebelumnya. Bisa dikatakan jika wanita itu sembuh total dari sakit yang beberapa hari terakhir ia rasakan. Setelah ini, kehidupannya akan berjalan normal seperti biasanya tanpa harus bermain petak umpet yang melelahkan.


"Say, apa keputusanku sudah benar?" tanya Dara setelah orangtuanya hilang dari pandangan.


"Tentu, Yang. Apa yang kamu lakukan adalah benar. Aku bangga kepadamu," ujar Juna seraya mengusap rambut Dara dengan lembut.


"Ayo kita berangkat ke kampus," ucap Juna sebelum meraih tangan Dara untuk digandeng saat berjalan menuju pintu keluar.


Kedua sejoli itu berjalan dengan mesranya di tengah-tengah keramaian bandara Haneda. Keduanya mengulas senyum manis untuk menggambarkan perasaan bahagia yang hadir dalam jiwa.


...🛫🛫🛫🛫🛫🛫🛫...


Menjelang sore, sepasang suami istri itu sampai di halaman rumah megah bergaya america itu. Mereka segera keluar dari mobil dan mengayun langkah menuju teras rumah. Anne bergelayut manja di lengan sang suami saat masuk ke dalam rumah. Kebahagiaan tidak bisa disembunyikan lagi dari raut wajahnya.


"Pi, saya bahagia banget hari ini," ucap Anne saat menatap om Rudi sekilas.


"Katakan, apa yang membuatmu bahagia?" tanya om Rudi tatkala sampai di anak tangga pertama.

__ADS_1


"Karena saya bisa hidup normal tanpa rasa was-was lagi." Senyum manis terus mengembang di wajah cantik itu.


Setelah sampai di lantai dua, Anne melepaskan tangannya dari lengan sang suami. Ia berniat masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan ganti baju. Namun, langkahnya terhenti saat om Rudi menarik pergelangan tangannya.


"Mau kemana?" tanya pria matang itu.


"Ke kamar lah, Pi! Mau mandi dulu!" jawab Anne seraya menatap sang suami.


"Kamar kamu bukan di situ! Mulai hari ini kita tidur di kamar utama," ujar om Rudi.


"Iya, tapi saya mau ambil barang-barang dulu!" sergah Anne.


"Semua barang-barangmu sudah disimpan di walk in closet kamar utama. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk kamu masuk ke kamar itu!" Om Rudi mulai menuntun tangan Anne menuju kamar yang biasa beliau tempati.


Ya, sebelum om Rudi menyusul Anne ke Jepang. Beliau menyuruh bu Una dan bi Sari untuk memindahkan semua barang-barang Anne ke dalam kamar beliau. Setelah ini kehidupan rumah tangga normal pun akan dijalani oleh sepasang suami istri beda usia itu.


"Mari Papi tunjukkan dimana barang-barangmu!" ucap om Rudi setelah sampai di dalam kamar.


"Oke, saya paham, Pi!" ucap Anne setelah om Rudi selesai menjelaskan semuanya.


Om Rudi segera berlalu dari ruangan tersebut. Entah beliau mau pergi kemana, yang pasti di ruangan tersebut tinggallah Anne seorang diri. Ia mengamati perubahan ruangan tersebut. Anne beranjak dari tempatnya saat ini, karena penasaran dengan isi almarinya.


"Hah, ini kan dress yang ada di koper saat pindahan dari apartemen dulu!" Anne menaikkan satu alisnya tatkala melihat deretan pakaian yang ada di sana. Ia membuka semua almari yang sudah ditunjukkan om Rudi kepadanya beberapa menit yang lalu.


Anne berdecak tak percaya melihat isi almarinya, ia melenggang dari ruangan tersebut dan sampailah di sisi ranjang tempat sang suami berada saat ini. Ia menatap om Rudi yang sedang membuka kancing kemeja dengan tatapan sinis.


"Maksud Papi apa mengisi almari saya dengan pakaian mini?" tanya Anne dengan tangan yang bersedekap.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Hubungan kita sudah diketahui semua orang yang ada di sini. Mereka tahu kalau kita suami-istri, jadi ... untuk apa kamu resah memakai pakaian sexy di rumah ini?" jawab om Rudi dengan santainya.


"Ih! Bukan begitu konsepnya, Pi!" sergah Anne dengan pandangan yang tak lepas dari wajah sang suami, "Oke, lah! Kalau di kamar tidak masalah pakai lingerie atau gak pakai baju sekalipun, tapi masalahnya kalau di luar kamar, apa saya harus pakai mini dress atau hotpant seperti yang ada di almari? Saya malu kali, Pi kalau ada bapak-bapak pekerja yang masuk rumah!" cerocos Anne tanpa jeda.


"Kamu ini kenapa ribet banget sih! Tinggal ganti pakaian kan beres! Lagi pula tidak akan ada pria masuk ke rumah ini selain tamu! So ... gak usah protes lagi! Saya suka melihat kamu tampil sexy, Sayang!" ucap om Rudi dengan kerlingan mata yang genit sebelum berlalu dari hadapan Anne.


Anne menghentakkan kakinya di lantai marmer tersebut karena kesal. Ia tidak nyaman saja jika setiap di rumah harus memakai pakaian sexy seperti koleksi yang ada di almarinya saat ini. Ternyata semakin kesini, suaminya itu banyak maunya.


"Dasar Om-om genit! Ingat umur, dong! Belum pernah rasanya encok kali itu orang!" umpat Anne setelah duduk di tepi ranjang.


Anne mengalihkan pandangan untuk menatap foto berukuran dua puluh R yang terpasang di tembok atas ranjangnya. Foto yang diambil saat dirinya wisuda dulu. Anne hanya bisa tersenyum melihat foto itu, foto yang diambil dengan rasa was-was karena takut ketahuan Dara.


"Biasanya, orang-orang itu memasang foto pernikahan di kamarnya. Lah, ini malah foto wisuda!" gumam Anne dengan pandangan yang tak lepas dari foto tersebut.


Cukup lama Anne mengamati foto tersebut, sampai orang yang sejak tadi menghabiskan waktu di kamar mandi telah selesai. Om Rudi tak segera masuk ke walk in closet untuk mengambil pakaian, beliau malah berjalan menuju ranjang untuk menemui sang istri.


"Apa ada yang salah dengan foto itu?" tanya om Rudi setelah duduk di belakang Anne. Beliau melingkarkan kedua tangannya di perut sang istri.


"Kenapa bukan foto kita waktu menikah dulu, Pi, yang dicetak?" tanya Anne tanpa melepaskan pandangan dari foto tersebut.


Om Rudi tak segera menjawab, beliau kembali turun dari ranjang dan mendekat ke nakas. Beliau menarik laci tersebut untuk mengambil barang yang tersimpan di dalam sana.


"Coba kamu lihat album ini!" Om Rudi menyerahkan album foto berwarna hitam kepada Anne, "saya memang tidak mau memasang foto saat kita melangsungkan akad nikah dulu, karena semua foto yang diambil tidak ada yang bagus. Kamu menangis, cemberut dan ya ... kamu bisa melihat sendiri di situ!" ujar om Rudi setelah menyerahkan album tersebut kepada Anne.


...🌹Selamat membaca 🌹...


...Kuy yang punya vote, sumbangin ke om Rudi buat persiapan khilap biar gak encok😂...

__ADS_1


...Oh ya, sekedar pemberitahuan, dikarenakan selama satu minggu ini othor banyak acara yang tidak bisa ditunda, maka othor akan selow up, diusahakan up 2bab setiap hari sih tapi insyaallah kalau bisa, mengingat padatnya jadwal acara. Mungkin, senin depan othor akan crazy up😍...


......🌷🌷🌷🌷🌷......


__ADS_2