Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Dara pulang,


__ADS_3

Tiga bulan kemudian ....


"Mibung ...." teriak Dara tatkala melihat Anne dan om Rudi berdiri di terminal penjemputan.


Rasa rindu membuat Dara begitu antusias saat bertemu Anne dan ayahnya. Ia meninggalkan Juna dengan kedua kopernya. Dara menghambur begitu saja dalam pelukan hangat Anne setelah sampai di tempat kedua orangtuanya berada saat ini.


"Jadi, Papi gak dipeluk nih?" tanya om Rudi setelah melihat putrinya asyik sendiri dengan Anne.


Dara segera mengurai tubuhnya saat mendengar suara pria yang menjadi cinta pertamanya selama ini, ia menghamburkan diri ke dalam pelukan pria tersebut.


"Dara kangen sama Papi," ucap Dara setelah menengadahkan kepala agar bisa menatap wajah om Rudi.


Kehadiran Juna di sana membuat Dara segera mengurai tubuhnya. Tak lupa Juna memberi salam hormat kepada calon mertuanya itu. Setelah berbincang beberapa menit, mereka segera keluar dari gedung raksasa itu. Dara dan Juna harus terpisah karena Juna langsung melakukan perjalanan darat ke Bandung.


"Hati-hati, Say," ucap Dara sebelum berpisah dengan Juna.


Aura bahagia terlihat jelas di wajah gadis berambut cokelat itu. Di sepanjang perjalanan, Dara tak henti tersenyum, apalagi saat berbagi cerita dengan Anne mengenai pengalaman selama di Jepang beberapa bulan ini.


Kepulangan Dara dan Juna kali ini adalah untuk melaksanakan lamaran. Rencananya dua hari lagi Juna beserta keluarganya akan datang ke kediaman om Rudi. Berbagai persiapan di rumah untuk menyambut keluarga tersebut pun sudah selesai disiapkan.


"Berapa hari kamu pulang ke Indonesia?" tanya Anne setelah tidak ada pembahasan lagi.


"Mungkin sepuluh hari, karena liburan hanya dua minggu saja," ucap Dara seraya menatap Anne dari samping.


"Ya ... cuma sebentar aja nih!" Anne terlihat kecewa setelah mendengar jawaban dari Dara.


Suara gelak tawa kedua wanita yang sudah lama tidak bertemu itu menggema di dalam mobil yang dikendarai oleh om Rudi sendiri. Berpisah lama membuat Dara dan Anne terus ngobrol hingga mobil yang dikendarai om Rudi sampai di halaman luas rumahnya. Mereka tiba tepat pukul setengah tujuh malam.


"Lebih baik sekarang kamu mandi, bi Sari sudah menyiapkan makan malam spesial untuk menyambut kedatanganmu," ucap Anne setelah sampai di lantai dua. Ia mengantar Dara sampai di depan kamarnya.


"Oke, aku mau istirahat dulu, nanti jangan lupa panggil aku ya kalau sudah waktunya makan malam," ucap Dara sebelum masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Anne melambaikan tangan sebelum Dara menutup pintu kamar. Anne pun bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap makan malam bersama Dara.


Waktu telah mengantarkan ketiga anggota keluarga itu sampai di waktu makan malam. Berbagai hidangan tersaji di atas meja makan tersebut. Semua yang disiapkan bi Sari adalah makanan favorit Dara selama ini. Kehangatan keluarga dirasakan Dara setelah beberapa bulan terakhir merasakan suasana sepi di Jepang. Senyum manis seakan tak bisa pudar dari wajah cantik itu.


"Pi, malam ini Dara mau tidur sama Mici!" ujar Dara setelah menghabiskan makanannya.


"Mici?" Om Rudi menaikkan satu alisnya setelah mendengar putrinya menyebut kata 'Mici'.


"Iya Mici, Pi!" jawab Dara seraya menatap Anne, "Mici itu Mami kecil. Dara memutuskan untuk mengganti panggilan kepada istri papi ini," ucap Dara seraya tersenyum penuh makna.


"Malam ini biarkan Mici tidur di kamar Dara!" ujar Dara seraya menatap om Rudi.


Om Rudi belum menjawab permintaan putrinya. Beliau melanjutkan makanan yang masih tersisa di piring. Rasanya, begitu berat harus membiarkan Anne tidur bersama Dara.


"Kenapa Mici harus di kamarmu, Nak? Papi nanti sendirian dong!" ucap om Rudi setelah meneguk segelas air putih.


"Dih ... Papi!" Dara berdecak kesal setelah mendengar protes dari ayahnya, "Bertahun-tahun Papi kan tidur sendirian, masa iya minjem Mici beberapa hari aja gak boleh!" protes Dara dengan pandangan yang tak lepas dari wajah ayahnya.


"Syukurin dah! Kalah 'kan sama anak sendiri! Selamat menikmati tidur sendiri selama sepuluh hari, Papi!" Anne bergumam dalam hati setelah Dara berhasil mengalahkan ayahnya. Malam ini Anne akan tidur bersama Dara.


****


Malam semakin larut, suara hewan malam mulai terdengar bagai melodi untuk menemani tidur nyenyak semua insan. Namun, suara Anne dan Dara masih terdengar riuh di kamar bernuansa merah muda itu, meski penunjuk waktu sudah berada di angka dua belas malam.


"Kamu tidak berbuat macam-macam sama Juna kan selama di Jepang?" tanya Anne seraya mengalihkan pandangannya ke samping, "jawab jujur!" Anne memicingkan matanya saat Dara terkekeh setelah mendengar pertanyaan darinya.


Semburat merah muncul di kedua pipi Dara, ia malu untuk menceritakan apa yang sudah ia alami bersama Juna di Jepang. Menyembunyikan semuanya pun rasanya percuma, karena Anne pasti akan mengejar jawabannya.


"Oke, oke, aku jujur! Tapi jangan bilang papi!" Dara mengubah posisinya menjadi miring.


"Aku sudah pernah ci*man bersama Juna. Kamu tahu ... awalnya itu tidak sengaja loh, tapi karena udah terlanjur dan rasanya enak, jadi ... ya, keterusan," ucap Dara tanpa ragu.

__ADS_1


Anne tertawa lepas setelah mendengar hal itu. Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, "kamu yakin tidak melakukan lebih dari itu?" selidik Anne.


"Eh buset dah! Sumpah, demi Tuhan ...aku gak berani kali melakukan itu! Sumpah, Mi. Cuma ci*man aja kok!" ujar Dara tanpa ragu.


Obrolan kedua wanita itu harus terhenti tatkala mereka berdua mendengar suara gagang pintu yang ditarik dari luar. Dara heran, siapa kiranya yang berani masuk ke dalam kamarnya. Kedua wanita itu pun hanya diam sambil menunggu siapa yang berusaha masuk ke dalam kamar ini.


"Papi!" teriak Anne dan Dara bersamaan.


"Papi mau ngapain?" tanya Dara sebelum turun dari ranjang untuk menemui ayahnya.


Om Rudi terlihat salah tingkah karena beliau tertangkap basah kedua wanita yang masih terjaga itu. Ekspresi wajahnya terlihat resah dan gelisah. Sungguh, saat ini apa yang dilakukan om Rudi benar-benar konyol.


"Ada apa, Pi? Apa Papi sakit?" tanya Anne setelah menyusul Dara yang sedang berdiri di sisi om Rudi.


Deretan gigi putih itu terlihat rapi saat om Rudi tersenyum lebar. Beliau berusaha menutupi kelalaian yang berhasil mempermalukannya. Niat hati ingin membawa sang istri kembali ke kamar, ternyata gagal total.


"Hehehe ... Papi tadi ingin menjemput kamu, ternyata Dara belum tidur," ucap om Rudi seraya mengusap leher belakangnya beberapa kali.


Gelak tawa kedua wanita itu menggema di sana. Dara tidak habis pikir jika ayahnya menjadi seperti ini sejak menikah dengan Anne. Sikap tegas dan penuh wibawa yang selalu ditunjukkan om Rudi, malam ini harus hilang begitu saja.


"Ya ampun! Ternyata Papi sangat manja, ya! Bisa-bisanya Papi mau menculik Mici dari Dara! No, Pi! Noooo! Mici tetap tidur di sini, Dara masih kangen loh ini!" gerutu Dara sambil menghentakkan kakinya beberapa kali.


...🌷Selamat membaca🌷...


...Aduh bayi gedenya Anne gak bisa bobok tuh😂...


➖➖➖➖➖➖❤️❤️❤️❤️➖➖➖➖➖➖


Selamat siang bestie😍 Othor ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih❤️Karya dari author AdindaRa dengan judul Gadis Scorpio, wajib kalian baca😎Kuy buruan kepoin karyanya 👇👇👇


__ADS_1


__ADS_2