Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Dua garis Merah


__ADS_3

Dua bulan kemudian,


Sang dewi malam bergerak pelan menuju arah barat. Bentuknya yang sempurna mulai hilang sebelum fajar mulai hadir di ujung timur. Langit gelap gulita karena persimpangan waktu sebentar lagi akan terjadi. Suara adzan subuh pun mulai terdengar di segala penjuru.


Suara alarm ponsel yang berdering beberapa kali di atas nakas, berhasil membuat Anne membuka kelopak matanya. Ia meraih ponsel tersebut agar tidak berisik lagi. Tidak lama setelah itu, ia segera turun dari ranjang untuk melaksanakan rencana yang sudah di rancang sejak tadi malam. Sebelum masuk ke kamar mandi, Anne mengambil sesuatu yang ada di laci nakas.


"Mudah-mudahan sesuai rencana," gumam Anne setelah masuk ke dalam kamar mandi.


Anne harus menunggu beberapa menit untuk bisa melihat hasil tes kehamilan yang ia lakukan. Ia tidak sabar untuk melihat berapa garis yang ada di alat tes tersebut.


"Hah! Ini serius?" Anne terbelalak ketika melihat dua garis merah di tespeknya.


"Jadi aku benar-benar hamil?" Anne bergumam tanpa melepaskan pandangan dari tespek tersebut.


Setelah selesai membersihkan diri, Anne bergegas keluar. Ia harus memberitahu om Rudi dengan berita membahagiakan ini. Ia tidak perduli, meski di luar sana langit masih gelap. Suaminya itu harus segera bangun dan melihat kejutan darinya.


"Mas, bangun! Buruan!" Anne menepuk pipi om Rudi beberapa kali.


"Mas!" teriak Anne sekali lagi.


"Hmmm ... ada apa?" tanya om Rudi tanpa membuka kelopak matanya.

__ADS_1


Anne menunjukkan tespek di depan mata om Rudi, "jangan merem dong! Coba lihat, aku punya kejutan untuk Mas!" ujar Anne sambil menepuk pipi om Rudi.


Kelopak mata itu mengerjap beberapa kali untuk memastikan apa yang ada di hadapannya. Om Rudi mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di ranjang. Beliau meraih alat tersebut dari genggaman tangan Anne.


"Ini serius, Sayang?" tanya om Rudi setelah melihat dua garis merah di alat tersebut, "kamu benar-benar hamil?" Sekali lagi, om Rudi memastikan kebenaran tes tersebut.


Anne tersenyum manis sebelum mengangguk pelan. Anne sangat bahagia pagi ini karena yang ia harapkan selama ini pada akhirnya terkabul. Begitu pun dengan om Rudi, binar bahagia terlihat jelas di wajah pria matang itu. Beliau segera meraih tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Kecupan mesra beberapa kali mendarat di rambut Anne.


"Nanti kita ke dokter Martha saja untuk memastikan semua ini," ucap om Rudi tanpa melepaskan tautan tangannya.


"Iya, Mas." Anne semakin menenggelamkan wajah di tempat nyaman tersebut .


Rasa kantuk yang menyerang mata om Rudi tiba-tiba saja hilang entah kemana. Harapan yang selama ini ditunggu pada akhirnya telah tiba. Pria matang itu sangat bersyukur atas semua karunia Sang pencipta pagi ini.


Senyum manis seakan tak bisa pudar dari bibir Anne. Rasanya, ia sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam ruangan dokter Martha, akan tetapi ia harus menunggu satu pasien lagi yang masih diperiksa.


"Kamu tidak lapar, Sayang?" tanya om Rudi seraya menatap Anne.


"Tidak, Mas," jawab Anne dengan diiringi senyum yang sangat manis.


Sebelum berangkat ke klinik dokter Martha, Anne tidak mau sarapan terlebih dahulu. Wanita yang. sedang diselimuti kebahagiaan itu menolak saat diajak om Rudi sarapan. Ia berdalih jika masih kenyang.

__ADS_1


"Ayo, Mas!" Anne buru-buru berdiri dari tempat duduknya saat mendengar namanya dipanggil.


Kedatangan mereka berdua disambut oleh asisten dokter Martha. Anne diarahkan untuk berbaring di atas bed yang ada dibalik tirai. Tidak lama setelah itu, dokter Martha pun masuk untuk melakukan pemeriksaan.


Anne menunjukkan tespek miliknya kepada dokter Martha. Pemeriksaan USG pun segera dilakukan dokter Martha untuk memastikan kehamilan Anne. Dokter cantik itu tersenyum manis ketika melihat hasil pemeriksaan di layar monitor.


"Selamat, Nyonya. Anda benar-benar hamil," ucap dokter seraya menatap Anne dan om Rudi bergantian, "kapan terakhir Nyonya datang bulan? usia janinnya sudah empat minggu loh ini," tanya dokter Martha.


"Saya lupa, dok," jawab Anne, karena memang ia sendiri lupa kapan terakhir kali tamu bulanannya datang.


"Saya pikir tidak hamil, dok, karena saya tidak merasakan mual seperti sebelumnya. Saya tidak pusing atau mengalami hal-hal yang biasa terjadi pada ibu hamil." Anne menjelaskan bagaimana kondisinya akhir-akhir ini.


"Tidak semua wanita hamil mengalami mual dan muntah di awal kehamilan. Terkadang, ada yang mengalami mual saat hamil tua. Jadi, alhamdulillah jika Nyonya tidak mengalami morning sickness atau perubahan mood yang biasa dialami wanita hamil pada umumnya," ucap dokter Martha setelah selesai melakukan pemeriksaan.


Program hamil yang dipantau dokter Martha, akhirnya berhasil. Dokter cantik itu ikut senang saat pasiennya berhasil hamil sesuai estimasi waktu yang ditentukan. Sebelum Anne pergi, tak lupa dokter Martha memberi resep obat.


"Terima kasih, ya, dok," ucap Anne sebelum pamit keluar dari ruangan tersebut.


Kedua sudut bibir om Rudi tertarik ke dalam, setelah mendengarkan semua hasil pemeriksaan yang baru saja dilakukan. Beliau beberapa kali mengusap perut sang istri dengan gerakan lembut, tidak perduli meski banyak pasang mata yang menatap beliau.


"Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Semoga tidak ada kendala apapun sampai anak kita lahir nanti," ucap om Rudi sebelum mendaratkan kecupan mesra di puncak kepala sang istri.

__ADS_1


...🌹Selamat membaca🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2