Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Papi!!


__ADS_3

Waktu terus berputar tanpa kenal lelah. Angin malam memulai menyapa wanita yang sedang membungkukkan tubuh di pagar pembatas balkon kamar. Ia termenung seorang diri dan tatapannya terlihat kosong karena sedang asyik berkelana menembus waktu di masa lalu, di mana segala kenangan indah bersama sang mantan tersimpan.


Malam semakin larut, suasana semakin sunyi sepi. Bahkan, sang dewi malam pun mulai bersembunyi di balik awan hitam. Meski begitu, Anne tidak sedikitpun berniat masuk ke dalam kamar. Apa yang sudah ia lihat di media sosial sang mantan berhasil mengusik pikiran. Inilah akibatnya, jika masih suka stalking akun mantan. Resah dan gelisah ketika melihat sebuah unggahan foto buket yang sudah diterima Anne dengan caption yang menyedihkan.


Untuk kamu yang jauh di sana dan belum bisa aku gapai. Aku titipkan rindu ini lewat rangkaian bunga yang menandakan kesucian, seperti cinta yang aku miliki selama ini.


Wahai sang pemilik hati, aku berbisik lewat angin yang berhembus kencang untuk mengungkapkan betapa aku mencintaimu, betapa aku ingin memilikimu. Aku masih berharap, takdir akan mempertemukan kita, walau aku harus menunggu sampai tugasmu bersamanya telah usai.


Air mata menggenang di pelupuk mata karena terharu setelah mengetahui sang mantan masih menyimpan perasaan. Rasa sakit yang ditinggalkan oleh Anne nyatanya tidak bisa menghapus rasa cinta yang ada di hati sang mantan. Tetap terjaga dan terungkap lewat rangkaian kata indah yang tertulis di media sosial.


"Sampai kapan kamu berada di sini?" Seketika lamunan tentang pria manis itu, hilang begitu saja saat Anne mendengar suara sang suami di belakang tubuhnya, "Apa pria itu yang membuatmu tak kunjung tidur?" Anne hanya mengerjapkan mata setelah mendengar pertanyaan itu.


"Tidak! Saya memang tidak bisa tidur saja." Anne mengalihkan pandangan ke arah lain karena takut menatap mata yang sedang menatapnya dengan lekat.


Anne bergegas masuk setelah om Rudi menggeser tubuhnya untuk memberikan ruang kepada Anne. Hidup bersama selama beberapa bulan membuat Anne sedikit paham bahasa tubuh sang suami.


Sebelum naik ke atas ranjang, Anne sempat melirik tong sampah yang ada di kamarnya. Buket pemberian Bagus sudah berpindah tempat di sana, padahal Anne tadi meletakkan buket tersebut di meja rias, berdampingan dengan buket pemberian dari 'om genit'.


"Sekali lagi pria itu berani mengirim barang kepadamu, akan aku pastikan dia tidak ada lagi di kota ini!" ujar om Rudi seraya menatap Anne dengan lekat.


Tubuh Anne meremang ketika mendengar hal itu. Baginya sikap om Rudi terlalu berlebihan. Bahkan, ia sendiri tidak tahu jika Bagus akan melakukan hal itu. Buket itu datang tiba-tiba tanpa pernah ia duga sebelumnya.

__ADS_1


"Terus kenapa Papi marah? Memang salah saya di mana?" Anne mencoba memberanikan diri menatap wajah sang suami.


"Kamu masih berhubungan dengan dia?" tanya om Rudi dengan pandangan yang tidak lepas dari paras cantik itu.


"Tidak, lah! Mana mungkin sama masih berhubungan dengan dia!" sergah Anne, "pasti Papi juga tahu 'kan apa saja yang sudah saya lakukan selama ini!" ujar Anne tanpa gugup.


Om Rudi mengalihkan pandangan ke arah lain setelah mendengar ujaran sang istri. Ya, tidak bisa dipungkiri kebenarannya memang seperti itu adanya. Anne tidak pernah melakukan apapun di belakang beliau.


"Dia hanya mengirim ucapan selamat untuk saya! Tidak lebih! Papi gak usah berlebihan seperti itu!" Kali ini justru Anne yang memaki sang suami, ia merasa kesal saja kepada pria yang merangkak naik ke atas ranjangnya.


Om Rudi menatap Anne dengan intens. Rasa cinta yang besar berhasil membuat beliau bersikap berlebihan. Beliau mengusap wajahnya kasar setelah melihat wajah sang istri yang tertekuk. Ya, beliau tahu jika Anne sedang dongkol dengannya saat ini.


Anne harus menahan senyumnya melihat sikap yang ditunjukkan sang suami saat ini. Dalam hati ia bersorak-sorai karena berhasil menurunkan ego pria matang yang tengah mengembangkan senyumnya itu. Padahal yang sebenarnya, Anne tidak punya niat untuk bersikap seperti itu tapi demi keselamatan sosok pria manis yang pernah mengisi hatinya, terpaksa drama harus dimainkan.


"Pikir saja sendiri!" Anne merebahkan tubuhnya dan membelakangi sang suami. Ia meremat ujung bantal itu untuk menahan tawa yang bergemuruh dalam dada.


Mata indah itu mulai terpejam kala tubuh merasakan sentuhan hangat dan menggelitik. Kemampuan pria dewasa itu memang tidak diragukan lagi dalam menaklukkan istri yang tengah merajuk. Bibir yang mengerucut hilang sudah karena terdesak lenguhan yang tak tertahankan. Pada akhirnya, kemarahan itu berakhir di atas ranjang panas yang mulai terguncang dahsyat karena kuasa sang raja.


Berkali-kali Anne mencapai puncak nirwana karena terbuai permainan piawai pria dewasa yang sedang mengukungnya saat ini. Lagi dan lagi tubuhnya terguncang karena senjata sakti itu berhasil mengoyak istana sang ratu.


"Apa semuanya belum cukup untuk mendapatkan maaf darimu, Sayang?" tanya om Rudi saat menghentikan permainannya sejenak.

__ADS_1


...♦️♦️♦️♦️...


Suara alarm di ponsel om Rudi mulai terdengar nyaring di atas nakas. Mata sipit itu mulai mengerjap karena suara berisik yang tak jauh di sisinya. Alarm yang menandakan jika waktu sudah berada di angka tiga dini hari, waktunya pergi dari kamar sang istri.


"Kebiasaan!" om Rudi mendengus setelah melihat Anne tidur pulas tanpa memakai piyamanya terlebih dahulu. Alhasil om Rudi harus merapikan keadaan sang istri sebelum keluar dari kamar ini.


Pria matang itu turun dari ranjang dan merapikan diri terlebih dahulu sebelum melakukan tugasnya. Beliau membersihkan sisa tissu yang berserakan di lantai, membenarkan posisi bantal dan ranjang yang tadi beliau tempati.


"Haah!" om Rudi menghela napas setelah menyibak selimut tebal itu. Tubuh menggoda sang istri terpampang jelas tanpa sehelai benang pun. Di sini, om Rudi harus menahan hasratnya agar tidak melakukan hal itu lagi.


Satu persatu pakaian kembali melekat di tubuh sang istri. Sebelum pergi beliau memastikan keadaan kamar Anne aman tanpa aroma parfum yang tertinggal, ranjang rapi dan tidak meninggalkan bekas apapun yang mengundang kecurigaan sang putri.


Kecupan penuh rasa mendarat di kening Anne seperti biasa saat om Rudi akan keluar dari kamar ini. Beliau tersenyum tipis melihat wajah tenang sang istri. Buru-buru om Rudi keluar dari kamar tersebut sebelum ada yang memergoki.


"Papi!" Om Rudi terpaku setelah menutup pintu kamar Anne dengan hati-hati. Beliau bahkan belum berani membalikkan tubuh karena mendengar suara Dara di balik tubuhnya.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Nah loh! Panik kan! panik gak tuh!🤣...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2