
"Panggilan ditujukan kepada Nyonya Anne Malilla Soedrajat. Silahkan masuk ke ruangan dokter Martha."
Anne beranjak dari tempat duduknya setelah mendengar namanya dipanggil. Ia tersenyum manis kepada om Rudi yang tak melepaskan genggaman tangannya sejak datang ke klinik ini. Sepasang suami istri itu segera masuk ke dalam ruangan untuk bertemu dokter kandungan.
"Selamat pagi," sambut dokter Martha saat mereka berdua duduk di sebrang meja kerja dokter cantik tersebut.
Sepasang suami istri itu mulai konsultasi dengan dokter perihal program hamil. Dokter cantik itu mengarahkan Anne ke bed yang ada di balik tirai. Kandungan Anne harus diperiksa terlebih dahulu, untuk memastikan kondisinya. Asisten dokter Martha mulai menuang gel khusus yang dipakai untuk USG di perut Anne. Tidak lama setelah itu, dokter Martha mulai mengarahkan alat yang ada dalam genggaman tangannya ke perut tersebut.
"Kondisi rahim Nyonya sehat. Tidak ada lemak ataupun kista. Kita bisa memulai program hamil secepatnya. Nanti saya akan memberikan vitamin untuk kesuburan Tuan dan Nyonya," ucap dokter Martha tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor USG.
Pemeriksaan terus berlanjut hingga sepasang suami istri itu menerima resep obat dari dokter Martha. Setelah mengerti dengan saran dari dokter Martha, Anne pamit pergi dari ruangan ini. Senyum manis terus mengembang dari bibir itu, karena bahagia setelah rencananya berjalan dengan lancar.
"Mas, kita jalan-jalan dulu yuk! Kita makan di Mall, sekalian beli mainan untuk Kiran," ajak Anne sebelum masuk ke dalam apotek.
"Oke, Sayang. Kita serahkan resep ini dulu!" ucap om Rudi setelah sampai di dalam ruangan, "obatnya dikirim saja," ucap om Rudi saat menyerahkan resep kepada Apoteker.
Setelah menyelesaikan transaksi di apotek, om Rudi dan Anne keluar dari tempat tersebut. Kebahagiaan terlihat jelas dari raut wajah keduanya, karena berita yang disampaikan oleh dokter Martha. Tidak ada kendala dalam proses program hamil yang sudah diprogramkan oleh dokter cantik itu.
"Kita kemana dulu?" tanya om Rudi sambil memasang kaca mata hitamnya.
"Ke Mall yang biasanya saja, Mas," ucap Anne seraya memakai seatbelt di tubuhnya.
Mobil hitam itu pun akhirnya mulai melaju. Membelah jalanan kota yang cukup padat. Setelah berada di jalan selama beberapa puluh menit, pada akhirnya mobil yang dikendarai om Rudi sampai di lokasi. Mereka segera keluar dari mobil dan berjalan dengan mesra menuju gedung raksasa itu.
"Kita belanja untuk Kiran dulu, ya, Mas," ucap Anne setelah berada di lobby mall tersebut.
"Oke, terserah kamu saja," ucap om Rudi tanpa mengalihkan pandangan ke samping.
__ADS_1
Sepasang suami istri itu pada akhirnya sampai di lantai tiga. Di sana tersedia khusus untuk perlengkapan bayi dan anak-anak. Anne begitu antusias saat belanja untuk cucu suaminya itu. Bahkan, ia tidak perlu berpikir panjang saat melihat mainan ataupun pakaian lucu untuk bayi menggemaskan itu.
Sama hal nya dengan Anne, pria matang yang sudah dipanggil 'Opa' itu sangat antusias saat memilih barang untuk Kiran. Mereka berdua seakan berlomba-lomba untuk mendapatkan barang terbaik untuk bayi menggemaskan itu.
"Mas, yakin kita bisa bawa barang sebanyak ini?" tanya Anne setelah berdiri di dekat kasir. Ia mengamati semua barang pilihan yang terkumpul di sana.
"Nanti kita minta dikirim saja lah," jawab om Rudi tanpa berpikir panjang.
Anne mengacungkan jempolnya setelah mendengar usul om Rudi. Ia tersenyum penuh arti seraya menatap om Rudi agar segera membayar semua barang-barang tersebut.
"Kamu yakin semua ini sudah cukup, Sayang?" tanya om Rudi setelah mengamati barang-barang yang sedang di susun SPG di meja kasir.
"Perasaan sudah, Mas! Kita sudah membelikan semua perlengkapan untuk Kiran." Anne mengedarkan pandangan setelah menjawab pertanyaan sang suami.
"Eh, kita belum membelikan Kiran sepeda loh, Mas!" ujar Anne ketika melihat deretan sepeda yang dipajang di depan counter tersebut.
Cukup lama sepasang suami istri itu berada di dalam counter tersebut. Om Rudi telah menyelesaikan transaksi dengan kasir yang bertugas. Tak lupa beliau memberikan alamat lengkap agar pihak counter segera mengirim barang-barang untuk Kiran.
"Waktunya kita makan!" Anne menarik pergelangan tangan om Rudi keluar dari area tersebut.
Mereka berjalan menuju lantai teratas gedung ini untuk memilih resto yang cocok dengan selera mereka berdua. Setelah sampai di lantai tersebut, Anne memilih masuk ke dalam resto yang menyediakan masakan lokal. Ia ingin sekali menikmati bebek bakar yang terkenal di tempat ini.
"Eits! Mas gak boleh pesan bebek! Ingat! Asam urat!" Anne memberi peringatan kepada om Rudi saat pria matang itu mengucapkan menu yang sama kepada waiters.
"Satu bebek bakar dan satu gurame bakar saja!" ujar Anne seraya menatap waiters yang sedang menyimak apa saja yang dipesan oleh om Rudi.
Tidak ada pilihan lain bagi om Rudi selain menerima keputusan sang istri. Beliau mencoba tersenyum manis meski hati menjerit karena ingin menikmati makanan lezat itu. Akan tetapi, om Rudi tidak bisa menghindar dari pengawasan satpam wanita yang ada di hadapannya—satpam makanan—yang galak dan menyeramkan saat marah.
__ADS_1
****
"Bunda membeli semua barang-barang ini?" tanya Juna sambil berkacak pinggang setelah melihat barang-barang yang ada di ruang tamu.
Dara menggeleng beberapa kali seraya menatap Juna. Ia mengalihkan pandangan ke arah luar, di mana dua orang kurir masih menurunkan beberapa box cokelat dari mobil bak terbuka.
"Tolong tanda tangan di sini, Pak," ucap kurir tersebut seraya menyerahkan tanda terima barang kepada Juna.
"Apa semuanya sudah dibayar?" tanya Juna sebelum menandatangani surat tersebut.
"Sudah, Pak. Semua sudah dibayar atas nama Pak Rudianto Baskoro," ucap kurir tersebut kepada Juna.
Dara semakin bingung dibuatnya. Jelas ia tahu apa saja barang-barang yang ada di ruang tamu ini. Semua ini adalah keperluan bayi perempuan karena kebanyakan warnanya didominasi warna merah muda.
Serah terima barang sudah selesai. Kurir tersebut pada akhirnya pamit undur diri karena sudah menyelesaikan tugasnya. Kini, tinggallah Juna dan Dara yang masih bingung menerka semua barang ini.
"Lebih baik kita tunggu Papi pulang saja," ucap Dara sebelum menghempaskan diri di atas sofa.
Satu jam kemudian, derap langkah Anne dan om Rudi mulai terdengar di teras rumah. Dara segera berdiri dari tempatnya untuk membukakan pintu utama. Ia membawa Kiran dalam gendongannya untuk menyambut kedatangan om Rudi dan Anne.
"Pi, apakah benar semua barang ini punya Papi?" tanya Dara setelah pintu terbuka lebar. Ia menyambut kedatangan dua orang tersebut dengan sebuah pertanyaan.
"Ya, benar! Apakah sudah kamu buka? Bagaimana? Apakah semua barang-barangnya cocok untuk Kiran?" tanya om Rudi dengan antusias, "Semua ini Papi beli khusus untuk cucu Papi yang cantik ini!" ujar om Rudi seraya menoel pipi gembul Kiran.
Dara terperangah setelah mendengar jawaban ayahnya. Ia sampai menepuk jidat dengan telapak tangannya sendiri. Ia tidak menyangka jika orang tuanya bisa memiliki ide konyol seperti saat ini.
"Pi, kenapa gak sekalian tokonya saja yang Papi beli? Papi menyuruh Dara buka toko perlengkapan bayi ini namanya!" ujar Dara sambil menatap om Rudi dan Anne bergantian.
__ADS_1
...🌹Selamat membaca🌹...