Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Menenangkan diri,


__ADS_3

Suasana nyaman dan sejuk begitu terasa di sekitar danau yang ada di pulau dewata—Bali. Anne menghirup udara sejuk khas pegunungan setelah membuka pintu villa yang ditempati sejak kemarin malam. Kamar villa berbentuk melingkar ini begitu nyaman karena menghadap langsung ke arah pegunungan dan danau Batur. Pemandangan indah disuguhkan di sana untuk melepas rasa lelah dalam tubuh.


"Rasanya aku tidak mau pulang dari sini," gumam Anne setelah pintu kaca itu terbuka lebar.


Anne menutup pintunya sebelum berjalan menuju tepi danau. Di tepi danau terdapat kolam renang dengan konsep infinity pool yang terarah langsung ke sisi danau. Anne hanya bisa mengembangkan senyumnya melihat keindahan desain di tempat tersebut. Hawa dingin khas pegunungan berhasil menembus kulit mulus itu. Anne menghentikan langkahnya di salah satu spot yang ada di tepi danau.


"Suatu saat aku pasti bisa membangun villa seperti ini," gumam Anne setelah mengedarkan pandangan ke segala penjuru.


Bunyi alarm dari dalam perut berhasil membuat Anne beranjak dari tempatnya. Ia berjalan menuju restoran yang sangat dekat dengan tepi danau untuk sarapan. Setelah memilih menu, Anne berjalan menuju tempat makan outdoor yang ada di tepi danau. Ia duduk di sana sambil mengamati panorama yang tersuguh di depan mata. Sang mentari yang sedang tersenyum penuh arti di pagi hari berhasil menghangatkan wanita hamil yang termenung di tempatnya.


"Sampai kapan aku seperti ini," gumam Anne dalam hati.


Sambil menunggu menu sarapannya datang, Anne termenung di tempatnya. Ia sedang berpikir bagaimana hidupnya setelah ini. Hati dan pikiran sedang tidak sinkron saat ini. Terlebih ada sosok yang harus Anne pikirkan nasibnya nanti.


"Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku kepadanya! Semua terasa begitu membingungkan!" Helaian napas berat terdengar di sana saat Anne selesai bergumam.


Semua angan harus terbang begitu saja saat seorang waiters mengantar menu yang sudah dipesan oleh Anne. Ia memutuskan untuk menikmati sarapan tanpa memikirkan siapapun.


"Enak," gumam Anne setelah menghabiskan satu sendok makanan yang tersaji di mejanya.


Tiga puluh menit kemudian, Anne berlalu dari restoran setelah membayar makanannya. berjalan kembali di sisi Danau untuk merasakan hembusan angin yang menerpa rambutnya. Udara di tempat ini bisa dikatakan dingin walau matahari bersemangat menampakkan keangkuhannya.


"Lebih baik aku istirahat dulu," ucap Anne setelah membuka kunci pintu kamarnya.

__ADS_1


Setelah membersihkan tangan dan kaki di kamar mandi, pada akhirnya Anne naik ke atas ranjang. Ia duduk bersandar di headboard ranjang memeluk guling yang diselimuti dengan jaket denim milik om Rudi. Kondisi tubuh Anne terasa nyaman tanpa keluhan setelah dekat dengan jaket itu. Setiap saat ia mencium aroma wangi yang tertinggal di jaket tersebut.


"Apakah aku harus kembali ke rumah demi masa depan anakku?" gumam Anne dengan kedua tangan memeluk erat guling tersebut.


"Akan tetapi, aku sangat canggung jika harus kembali kepada dia! Apakah dia tidak akan membalas semua yang aku lakukan?" Tatapan Anne tak lepas dari pemandangan danau yang bisa dilihat langsung dari kamarnya, karena tirai berwarna cokelat itu dibiarkan terbuka.


Liburan kali ini dipakai Anne untuk merenung, memikirkan masa depan, perasaan, luka dan nasib buah cinta dari sang suami yang sedang tumbuh di rahimnya. Setelah cukup lama berpikir dan belum menemukan titik terang, pada akhirnya Anne merebahkan diri di atas ranjang tersebut. Ia melepas jaket om Rudi dari guling yang ada di sisinya. Ia memakai jaket tersebut untuk dijadikan selimut yang menghangatkan tubuhnya. Kerinduan akan pelukan hangat om Rudi, membuatnya melakukan semua ini. Setidaknya jaket ini bisa sedikit mengobati rasa rindunya.


...♦️♦️♦️♦️♦️...



Bu bos dalam kondisi baik dan sehat. Tidak ada musuh yang mendekat. Situasi di sekitar aman dalam pantauan.


Suara ketukan pintu beberapa kali berhasil membuat om Rudi meletakkan ponselnya di atas meja. Beliau mengalihkan pandangan ke arah pintu yang terbuka. Ternyata ada Pras yang datang bersama seorang pria.


"Silahkan duduk!" Om Rudi mempersilahkan keduanya duduk di kursi hitam yang ada di seberang meja kerjanya.


"Maaf sudah mengganggu waktu, Bapak," ucap Pras dengan sopan, "Ini adalah salah satu warga yang menjadi korban Roy, Pak," ucap Pras seraya menatap pria yang sedang tertunduk di sisinya.


"Baiklah, silahkan perkenalkan diri Anda," ujar om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari wajah pria tersebut.


Pria berkulit sawo matang itu menegakkan kepalanya, ia memberanikan diri menatap om Rudi. Pria tersebut ternyata bernama Jamal. Ia adalah salah satu pendemo yang membuat proyek pariwisata tersebut harus dihentikan. Jamal mengaku jika semua warga yang berdemonstrasi adalah orang-orang yang sengaja dibayar oleh Roy. Tak hanya itu, selain menekan dan membayar warga, Roy pun menyebarkan berita hoax yang membuat warga marah.

__ADS_1


"Kenapa Anda dan warga yang lain mau melakukan demo tersebut?" tanya om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari wajah pria bernama Jamal itu.


"Kalau saya awalnya tidak mau, Pak, akan tetapi pria bernama Roy datang ke rumah saya. Dia mengancam akan mengambil anak saya dan dijadikan tumbal proyek pariwisata itu. Saya diancam oleh dia, Pak! Maka dari itu saya pun mengikuti kemauan dia demi keselamatan anak-anak saya. Dia pun membayar saya dengan uang sebesar tiga ratus ribu karena bersedia ikut demo," ucap Jamal dengan suara bergetar karena takut melihat tatapan nyalang om Rudi.


"Kalau warga yang lain bagaimana?" tanya om Rudi lagi.


"Semua orang yang ikut demo dibayar tiga ratus ribu, Pak. Mereka kebanyakan dihasut dengan isu pariwisata tersebut akan memakan tumbal. Akan tetapi ada beberapa warga yang seperti saya. Mereka diancam ketika menolak diajak demo," ujar Jamal dengan yakin. Sebenanrnya ia sendiri takut membuka semua ini, akan tetapi Pras berhasil meyakinkannya jika semua akan baik-baik saja.


"Lalu, apakah pak Jamal kenal dengan pemimpin demo saat itu?" tanya om Rudi lagi.


"Tidak, Pak. Pemimpin demo bukan warga di sekitar proyek. Mungkin dia orang suruhan pak Roy, karena saat itu keluar dari mobil bersama pak Roy." Jamal pun menceritakan semua kejadian kala itu.


Om Rudi mengepalkan tangannya di atas meja. Sangat jelas sekali jika Roy sengaja menghancurkan proyek sang istri. Beliau mendengarkan penjelasan pria bernama Jamal itu hingga selesai. Sebelum Jamal keluar dari ruangan ini, tak lupa om Rudi memberikan beberapa lembar rupiah sebagai pesangon.


Setelah Jamal keluar dari ruangan bersama Risa yang mengantarnya hingga lobby depan, om Rudi mulai menyusun strategi bersama Pras. Kabar tidak sedap yang baru saja diterima oleh Pras dari orang-orang kepercayaannya, berhasil membuat kedua pria tersebut geram, karena Roy berhasil menyembunyikan diri dari orang-orang yang memantaunya.


"Kurang ajar! Dia sudah berani mempermainkan aku! Pras, cari motif lain kenapa dia melakukan semua ini! Cari tahu apakah dia memiliki ambisi untuk memiliki istriku!" ujar Om Rudi dengan rahang yang mengeras.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Maaf ye tekat up, othor baru bangun karena semalam habis begadang sampai tadi pagi,🤭...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2