
Pertanyaan yang dilayangkan oleh Anne berhasil membuat ketenangan om Rudi terusik. Duda satu anak itu mengepalkan tangannya dengan pandangan yang terpaku pada gadis berparas cantik itu. Ada perasaan tidak suka yang merayap dalam hati ketika membayangkan Anne berhubungan dengan seorang pria.
Ruangan luas itu mendadak menjadi sunyi sepi. Keduanya sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing hingga beberapa saat kemudian suara helaian napas om Rudi berhasil memecah keheningan yang terasa.
"Jujur saja Om kecewa mendengar hal itu, An," ucap om Rudi, "Tapi jika memang begitu adanya, Om tidak mempermasalahkan hal itu, yang pasti setelah kamu menikah dengan Om, jangan pernah berhubungan dengan pria manapun!" ujar om Rudi dengan suara yang tegas.
Anne tersenyum kecut mendengar hal itu. Saat ini, bahkan ia tidak perduli apapun yang dikatakan oleh pria matang yang ada di hadapannya itu. Rasa kecewa, sedih dan marah telah bersatu menjadi keputusasaan dalam diri Anne saat ini.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit pergi! Saya harus kembali ke rumah sakit!" Anne beranjak dari tempat duduknya saat ini.
"Kita belum selesai bicara, Anne!" ujar om Rudi yang berhasil menghentikan langkah Anne.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Om! Bukankah Om sudah berhasil menguasai hidup saya? Silahkan lakukan apa saja yang Om mau!" ujar Anne sebelum melanjutkan langkahnya.
Om Rudi hanya bisa menatap kepergian Anne. Beliau tidak bisa mencegah gadis keras kepala itu agar berhenti melangkah. Suara pintu yang tertutup dengan keras berhasil membuat om Rudi kembali ke posisinya.
__ADS_1
"Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku, Anne!" gumam om Rudi seraya tersenyum penuh kemenangan.
***
Tepat pukul delapan malam Anne sampai di rumah sakit. Ia melangkah gontai di sepanjang koridor rumah sakit. Mata indah itu terlihat sembab karena bulir bening terus mengalir sejak ia melenggang dari rumah megah milik om Rudi.
Langkah kaki Anne harus terhenti di ruang tunggu yang ada di depan ruang operasi. Lampu berwarna merah yang ada di atas pintu ruang operasi menandakan jika di dalam sana sedang ada tindakan medis. Mungkin saja, di sana bu Ningrum sedang berjuang untuk sembuh.
"Ibu harus sembuh! Ibu harus kembali tersenyum seperti dulu karena hanya bu Ningrum yang benar-benar tulus menyayangi saya!" gumam Anne dengan pandangan lurus ke depan.
Anne tidak tahu lagi harus bagaimana. Bahkan, ia sendiri tidak tahu bagaimana ke depannya saat dirinya benar-benar menjadi istri sah om Rudi. Kesehatan dan keselamatan bu Ningrum yang menjadi prioritasnya saat ini.
Anne merogoh tasnya untuk mencari ponsel. Bahkan, ia sampai lupa tidak memberikan kabar apapun kepada kekasihnya itu. Anne membaca satu persatu rentetan pesan yang dikirim oleh Bagus.
Bee ... besok malam ketemuan yuk! I miss u,
__ADS_1
Anne menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas setelah mengirim balasan pesan untuk sang kekasih. Malam ini, ia harus menemukan jalan keluar perihal hubungannya bersama Bagus. Ia tidak mau Bagus bermasalah dengan om Rudi, biar bagaimanapun, Anne tahu bagaimana sosok om Rudi selama ini.
Rangkaian yang terjadi hari ini membuat Anne lupa makan dan mandi. Ia tidak memperdulikan lagi penampilannya saat ini, biarlah apa adanya dan berantakan seperti suasana hatinya saat ini.
Anne beranjak dari tempat duduknya ketika pintu ruang operasi terbuka. Ia melihat bu Ningrum terbaring lemah di sana dengan kepala yang terbalut perban. Bahkan, kaki wanita yang merawatnya selama ini pun ikut terbalut perban.
"Kenapa kaki ibu saya diperban, Sus?" tanya Anne kepada perawat yang mendorong brankar bu Ningrum.
"Ternyata kaki ibu Anda mengalami cidera, jadi, tim medis sekalian melakukan tindakan," ucap Suster tersebut.
Anne membekap mulutnya mendengar hal itu, ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi bu Ningrum, pasti semuanya terasa menyakitkan.
"Anne dan Ibu sama-sama merasakan sakit saat ini, Bu! Mari kita berjuang ya, Bu agar kita bisa kembali berkumpul," gumam Anne dalam hatinya.
...🌹Selamat membaca🌹...
__ADS_1
...FB: Titik Pujiningdyah || IG: @tie_tik...
...🌷🌷🌷🌷...