Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Bapak diusir, Non!


__ADS_3

Hari-hari sepi telah dijalani Anne selama dua minggu ini. Setiap hari ia berangkat ke kantor seorang diri, makan sendiri, tidur sendiri dan semuanya sendiri. Ia hanya berteman dengan sepi kala malam mulai hadir di persimpangan waktu.


Dua minggu ini, semua pekerjaan berjalan lancar. Anne tidak bertemu ataupun berkomunikasi dengan sang suami. Nyatanya hingga saat ini, ia belum menggugat cerai om Rudi. Ada pekerjaan yang banyak menyita waktunya. Kesehatannya pun pada akhirnya sedikit terganggu.


"An, ini aku buatkan teh hangat untukmu," ucap Risa setelah meletakkan segelas minuman hangat di meja kerja Anne.


Risa cukup prihatin melihat kondisi Anne dua hari ini. Wanita yang saat ini menjadi bosnya itu terlihat tidak sehat. Menjelang sore, tubuhnya tiba-tiba saja lemas hingga membuatnya mual dan berakhir muntah.


"Jangan lembur, An! Lebih baik kamu pulang saja," ucap Risa saat melihat Anne meraih gelas yang ada di meja kerjanya.


"Sepertinya kali ini saya harus mengikuti saran bu Risa, saya mau pulang saja!" ucap Anne setelah meneguk minuman dari Risa.


"Tolong sampaikan kepada pak Pras, agar menghandle pekerjaan sore ini," ucap Anne sebelum meninggalkan Risa di ruangannya.


Kepala Anne berdenyut, rasanya ia tidak sanggup berjalan keluar dari gedung ini. Namun, ia tetap berusaha terlihat baik-baik saja hingga pada akhirnya ia sampai di samping mobil kesayangannya.


Mobil putih itu pada akhirnya melenggang dari area perusahaan. Anne mengarahkan mobilnya ke jalan menuju kediamannya. Ia berusaha fokus dengan kemudinya agar tidak membahayakan pengendara lain.


"Sepertinya menikmati es puter di sana enak," gumam Anne ketika melewati taman kota yang rindang. Ia melihat beberapa pedagang kaki lima dikelilingi anak-anak.


Tanpa berpikir panjang, Anne mengarahkan setir mobilnya menuju taman tersebut. Ia mencari tempat parkir yang dekat dengan penjual es puter. Segera ia keluar dari mobilnya untuk ikut antre dengan anak-anak yang lain.


Anne mengembangkan senyumnya saat berada di tengah kerumunan anak-anak tersebut. Ia sampai memborong es puter agar bisa dibagikan kepada semua orang yang ada di sana. Perasaan hangat menjalar dalam hatinya ketika melihat senyum merekah dari anak kecil yang ada di sana.


"Kalian harus tetap tersenyum sebelum menghadapi kerasnya kehidupan," gumam Anne setelah duduk di bawah bangku panjang yang ada di bawah pohon.

__ADS_1


Tatapan matanya tak beralih dari sepasang suami istri yang sedang tertawa lepas bersama putrinya. Ketiga orang yang tak jauh dari tempat Anne berada saat ini berhasil membuat bibir berwarna merah muda itu mengembang. Apa yang ada di hadapannya itu berhasil mengingatkan kenangan indah bersama mendiang orang tuanya. Ia tidak pernah melupakan semua kenangan yang sudah terekam dengan jelas dalam angan.


Bayang-bayang tawa renyah ayahnya tiba-tiba saja terlintas dalam ingatan. Anne kembali tersenyum saat mengingat betapa hangatnya kasih kedua orang tuanya dulu. Kelembutan ibunya tetap terasa hingga saat ini.


Sebuah bola yang menggelinding ke arahnya berhasil membuyarkan semua kenangan manis itu. Anne termangu tatkala ada seorang anak laki-laki datang menghampirinya.


"Maaf kakak, bola saya tidak sengaja mengenai kaki kakak," ucap pria kecil itu setelah mengambil bola di dekat kaki Anne, "Kakak cantik, Es puternya sampai meleleh loh. Kakak jangan melamun di sini, nanti diculik om kunti loh!" kelakar pria kecil itu sebelum pergi dari hadapan Anne.


Mendengar kata 'om kunti' disebut, Anne segera mengedarkan pandangannya. Tentu ia tidak asing dengan dua kata itu. Kenangan kebersamaannya bersama om Rudi tiba-tiba saja hadir untuk menemaninya di bangku panjang itu.


"Tidak ada dia di sini," gumam Anne setelah mengamati keseluruhan taman tersebut.


Anne menghela napasnya panjang karena hal itu. Ia segera menghabiskan es puter yang sudah dipesannya dan segera pergi dari taman tersebut karena bola raksasa berwarna jingga akan segera turun ke peraduan.


...♦️♦️♦️♦️♦️...


"Tentu, Say! Aku tiba-tiba kangen banget sama orang-orang rumah. Semenjak hamil aku belum pernah pulang ke Jakarta," ucap Dara setelah beranjak dari tempatnya.


Sepasang suami istri itu baru saja keluar dari food counter yang ada di rest area jalan tol Bandung-Jakarta. Juna menghentikan mobilnya di rest area hanya untuk mengisi perut dan istirahat sejenak karena Dara tiba-tiba saja mual. Ia khawatir dengan kondisi sang istri, karena kondisinya belum sepenuhnya fit. Beberapa kali ia masih mengalami morning sickness karena usia kandungan pun baru menginjak minggu ke dua belas.


"Kalau nanti pengen muntah, taruh di kantong saja, oke!" ujar Juna setelah keduanya masuk ke dalam mobil.


"Oke!" Dara mengacungkan jempolnya.


Mobil hitam itu melenggang dari rest area. Juna mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang karena tidak mau melihat sang istri tegang ataupun tidak nyaman. Malam telah hadir bersamaan dengan munculnya ribuan bintang. Langit Jakarta nampak indah dengan hiasan tersebut.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan panjang. Pada akhirnya mobil yang dikendarai Juna sampai di halaman luas rumah megah bergaya america itu. Mereka segera keluar dari mobil dengan membawa beberapa paperbag berisi oleh-oleh untuk om Rudi dan juga Anne.


Suasana di dalam rumah terasa sunyi sepi. Tidak biasanya rumah megah itu terasa dingin walau penghuninya hanya beberapa orang saja. Mereka terus berjalan sampai di ruang keluarga. Juna menghempaskan diri di sofa panjang tersebut setelah meletakkan paperbag di atas meja. Sementara Dara mengayun langkah menuju dapur untuk mencari asisten rumah tangganya.


"Bi Sari," ucap Dara setelah melihat asisten rumah tangganya itu sedang mencuci piring.


Bi Sari terkejut bukan main setelah melihat kehadiran Dara di sana. Ekspresi wajahnya mendadak berubah menjadi ketakutan saat melihat wajah cantik itu. Beliau hanya takut Dara bertanya di mana keberadaan om Rudi, karena semua orang yang ada di sini diperintahkan oleh Anne agar tidak memberi tahu Dara apapun yang terjadi di rumah ini.


"Bi Sari baik-baik saja?" tanya Dara setelah melihat asisten rumah tangga ayahnya termenung di tempatnya.


"Emm ... iya, Non! Saya baik-baik saja," ucap bi Sari dengan gugup.


"Papi dan Mici kemana? Kok sepi?" tanya Dara seraya menatap wajah bi Sari.


Wanita setengah baya itu terlihat gugup setelah mendengar pertanyaan dari Dara. Beliau bingung harus menjawab apa, posisinya menjadi serba salah saat ini.


"Nyonya ada di ruang kerja, Non. Kalau pak Rudi ... itu ... emm ... Pak Rudi ...." Bi Sari menghentikan ucapannya karena takut menjawab yang sebenarnya.


Dara mengernyitkan keningnya setelah mendengar jawaban bi Sari. Ia yakin ada sesuatu hal yang tidak beres terjadi di rumah ini, "Katakan dengan jelas, Bi. Ada apa? Kemana Papi?" Dara terus mendesak bi Sari agar berkata jujur.


"Itu, Non! Emmm itu ... Bapak diusir Nyonya! Bapak tidak tinggal di rumah ini lagi!" jawab bi Sari dengan kepala yang tertunduk.


...🌹Selamat membaca 🌹...


...Huhuhu! Othor pengaaap🤭sebentar lagi semua akan terbongkar! Siap-siap menahan emosi! 😎...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2