
"Nak, Jangan putus asa! Kamu harus menghadapi semua rintangan yang sedang menghadangmu,"
"Kamu harus sukses biar Papa dan Mama bangga! Kamu tidak boleh sedih karena masih banyak tugas yang harus kamu selesaikan, Sayang!"
Pandangan Anne tak lepas dari gedung-gedung yang menjulang tinggi. Tatapannya menerawang jauh—mengingat pesan ibu kandungnya saat datang di mimpinya beberapa hari yang lalu. Anne lebih banyak diam sejak kepergian bu Ningrum karena ia sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana di hadapan Dara.
Siang ini, cuaca panas sedang melanda kota Jakarta. Setelah dirawat di salah satu rumah sakit yang ada di Bekasi selama beberapa hari. Akhirnya, Anne diboyong om Rudi pulang ke rumah megah miliknya.
"An, kamu tau gak dosen ekonomi sering cari-cari kamu, katanya ada yang perlu direvisi! Ih, kesel deh! Dia sepertinya suka tuh sama kamu!" gerutu Dara yang duduk di kursi depan atau lebih tepatnya di sisi om Rudi.
Om Rudi menatap Anne lewat kaca spion dalam. Terbesit rasa tidak suka saat putrinya menceritakan bahwa ada dosen yang tertarik dengan istrinya.
"Memangnya Anne juga naksir sama dia, Dar?" tanya om Rudi seraya mengalihkan pandangan ke arah Dara sekilas.
"Ya Enggak lah, Pi! Anne mana suka pria setengah tua seperti dosen itu! Bukan selera Anne kali!" sangkal Dara setelah mendengar pertanyaan dari ayahnya.
Anne hanya bisa menyimak semua obrolan di antara Dara dan om Rudi. Ia tidak tertarik sama sekali untuk bergabung dalam pembahasan yang sedang berlangsung.
"Kamu hanya tidak tahu saja, Dar, jika suamiku lebih tua dari dosen itu," gumam Anne dalam hatinya.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, mobil yang dikendarai om Rudi akhirnya sampai di depan rumah bergaya america itu. Mereka bertiga segera keluar dari mobil dan tidak lupa Dara membantu Anne berjalan menaiki satu persatu anak tangga menuju teras.
"Kamu mau istirahat di kamarku atau di kamarmu sendiri, An?" tanya Dara saat kedua gadis itu mulai menapaki tangga penghubung menuju lantai dua.
__ADS_1
"Aku istirahat di kamarku saja, Dar," jawab Anne dengan suara yang lirih.
"Oke, aku antar sampai di kamar, ya!" Anne tersenyum manis sambil menatap Anne sekilas.
"Selamat beristirahat, An. Aku mau istirahat di kamar," pamit Dara setelah mengantar Anne sampai di kamarnya.
Anne menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang. Pikirannya mulai berkelana untuk mencari sebuah titik terang dalam hidupnya. Anne tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini, haruskah ia nekat kabur dari om Rudi? lalu bagaimana dengan semua hutang atas biaya rumah sakit ibu angkatnya? Haruskah ia melupakan tanggung jawab itu?
Tidak. Itulah jawaban yang ada dalam hati. Ia harus bangkit dari keterpurukan ini. Menjalani hari yang sulit dalam sebuah hubungan. Anne seperti terbelenggu benang kusut yang tidak tahu di mana ujungnya.
Semua angan dan rencana hilang begitu saja kala pintu kamarnya terbuka. Pria matang yang tak lain adalah om Rudi, masuk ke dalam kamar tersebut dengan membawa satu tas besar yang berisi pakaian dan beberapa barang milik Anne yang diambil dari rumah bu Ningrum.
"Jangan khawatir! Saya tidak akan lama berada di kamar ini," ucap Om Rudi saat melihat sorot ketakutan muncul dari mata indah sang istri.
Setelah meletakkan tas Anne di dekat almari, om Rudi kembali ke tempat Anne berada. Beliau duduk di tepi ranjang king size seraya mengembangkan senyumnya.
"Surat?" Anne terlihat bingung saat menerima surat tersebut.
"Bukankah kamu sendiri yang sudah menandatangani surat ini? Kenapa sekarang kamu terlihat bingung?" tanya om Rudi.
Anne segera membuka surat tersebut. Matanya terbelalak sempurna saat membaca isi surat yang sangat mengejutkan itu. Setelah membaca surat tersebut sampai selesai, gadis berambut cokelat itu menatap om Rudi dengan lekat.
"Sejak kapan saya menandatangani surat ini? Untuk apa Om membuat surat perjanjian yang isinya menguntungkan Om semua!" hardik Anne. Rahangnya mengeras karena marah dengan pria tersebut.
__ADS_1
"Surat ini kamu tanda tangani setelah kita melangsungkan akad nikah!" jawab om Rudi dengan sikap yang tenang.
Anne menggeleng pelan. Rasa sayang yang dulu pernah ada kini mendadak sirna. Kemarahan dan rasa kecewa sedang menyelimuti hati dan pikiran Anne kepada sosok yang pernah dianggapnya sebagai dewa penolong itu.
"Beristirahatlah! Kamu harus cepat sembuh," ucap om Rudi sebelum pergi dari kamar tersebut.
Selembar kertas yang tadinya rapi dan bersih, kini menjadi kusut karena diremat oleh Anne. Ia kesal membaca surat perjanjian yang memberatkan dirinya. Surat perjanjian tanpa banyak poin penting tapi sangat berpengaruh dalam hidup Anne. Surat tersebut berisikan, bahwa Anne tidak bisa menceraikan atau meninggalkan om Rudi sampai kapanpun dan jika sampai hal itu terjadi maka Anne wajib mengembalikan semua biaya rumah sakit bu Ningrum sebanyak sepuluh kali lipat.
"Aaaargh! Om-om sialan! Kurang ajar!" teriak Anne sambil menarik rambutnya.
Anne beranjak dari tempatnya saat ini. Ia berjalan menuju jendela besar yang tak jauh dari ranjang. Ia berdiri sambil menatap kolam renang dengan air yang terlihat berkilau karena diterpa sinar matahari.
"Aku tidak bisa begini terus! Aku sudah terlanjur terjerumus dalam lubang neraka ini!" gumam Anne dengan pandangan yang tak lepas dari kolam renang tersebut.
Anne mulai menfokuskan pikirannya. Menata hidupnya yang hancur berantakan. Anne mulai memikirkan cara agar puing-puing kehancuran itu kembali utuh dan membuatnya tersenyum kembali. Mau tidak mau setelah ini Anne harus menjalani hidup layaknya seorang aktris profesional—Ia harus bisa memainkan peran ganda di rumah ini, menjadi ibu tiri sekaligus sahabat Dara.
Hidup tidak selamanya sesuai keinginan. Adakalanya kebahagiaan dan angan harus dipatahkan oleh kenyataan. Jika memang sudah begini, melawan pun tidak ada gunanya lagi. Menerima dengan hati yang lapang mungkin bisa membuat hidup sedikit berwarna.
Cukup lama Anne termenung di depan jendela itu. Banyak hal yang perlu ia siapkan setelah ini dan salah satunya adalah kesiapan mental karena tidak lama setelah dirinya sembuh, om Rudi pasti meminta haknya sebagai seorang suami. Anne hanya bisa menggeleng pelan saat membayangkan dirinya berada dalam dekapan pria yang seumuran dengan ibunya itu. Ada rasa risih yang menyelimuti diri hingga tubuhnya meremang. Membayangkan hal itu, Anne jadi teringat malam indah sebelum dirinya meninggalkan Bagus di kamar hotel.
Rasa rindu kembali menggebu kala wajah manis itu terlintas dalam pikiran. Mata indah itu kembali berembun karena tidak sanggup menahan rasa yang membuncah di dada. Sekuat hati, ia harus melupakan cinta pertamanya itu.
"Semuanya sudah hancur! Orang yang aku sayang sudah pergi jauh dariku. Setelah ini aku harus bangkit dan kembali meraih kebahagiaanku yang dirampas oleh om Rudi!" ujar Anne sambil mencengkram korden putih itu hingga lusuh.
__ADS_1
...🌹Selamat membaca🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...