Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Mibung?


__ADS_3

Obrolan harus terhenti saat kedua wanita itu mendengar suara pintu yang terbuka. Anne membelalakkan mata saat melihat kehadiran sang suami di sana karena ia belum tahu jika sejak kemarin Om Rudi yang menunggunya.


"Papi!" ujar Anne seraya berusaha bangun dari tempatnya saat ini.


"Eh! Mau ngapain?" Dara berdiri tempatnya seraya menatap Anne, "udah tetap istirahat aja! Biar Papi yang kesini!" ujar Dara dengan ketus. Inilah sikap yang biasa ditunjukkan Dara saat mengkhawatirkan Anne.


Pada akhirnya, Om Rudi sampai di sisi bed sang istri. Beliau duduk di tepi bed tersebut seraya menatap Anne dengan sorot penuh kasih. Beliau pun memberi isyarat agar Anne tetap beristirahat.


"Sejak kapan Papi datang?" tanya Anne tanpa melepaskan pandangan dari wajah tampan sang suami.


"Kemarin," jawab om Rudi, "kenapa makanannya masih utuh? Kamu belum makan, Sayang?" tanya om Rudi tanpa sadar jika memanggil Anne dengan kata 'Sayang' di depan Dara.


Anne terlihat kikuk di hadapan Dara, ia memberikan kode kepada sang suami agar menjaga sikap di hadapan putrinya. Anne takut jika Dara tiba-tiba saja berubah pikiran saat melihat kemesraan ayahnya.


Dara berdecak kesal mendengar hal itu karena merasa geli. Ia menatap ayahnya dan Anne bergantian setelah membayangkan sesuatu yang menggelitik pikiran. Wajahnya merona karena menahan tawa setelah membayangkan hal-hal konyol yang terlintas dalam pikiran.


"hiii ... ogah!" gumam Dara seraya menggelengkan kepala hingga membuat Anne dan om Rudi menjadi bingung dibuatnya.


"Kamu kenapa, Dar?" tanya Anne penasaran.


"Gak papa, An! Cuma geli aja," jawab Dara dengan jujur, "Kenapa kamu manggil papi begitu? Harusnya panggil 'Mas' dong, biar lebih mesra!" protes Dara.


Pipi Anne bersemu merah setelah mendengar protes dari Dara. Entah mengapa hal itu membuatnya menjadi malu. Anne mengulum senyum karena Dara terus menggodanya.

__ADS_1


"Dara mau keluar sebentar," pamit Dara setelah beranjak dari tempatnya saat ini.


"Mau kemana?" tanya om Rudi ketika melihat Dara meraih tasnya.


"Menemui dokter syaraf, Pi! Dara mau periksa karena takut ada syaraf yang kendor karena melihat kemesraan pasangan yang ... emm sedang di mabuk cinta!" kelakar Dara sebelum pergi dari sisi bed tersebut.


Suara teriakan Anne terdengar serak di ruangan itu. Ia gemas saja melihat perubahan sikap Dara kepadanya. Anne hanya takut Dara bersikap seperi semula hanya sebatas berpura-pura untuk menutupi rasa kecewa. Namun, segera Anne mennepis keraguan itu, ia harus percaya jika Dara memang bisa menerimanya sebagai ibu sambung.


"Papi suapin, ya!" Om Rudi berdiri dari bed tersebut. Beliau mendekat ke nakas untuk mengambil makanan untuk sang istri.


Ekspresi bahagia tidak bisa disembunyikan lagi oleh Anne. Bibirnya terus mengembangkan senyum di sela-sela menikmati makanan yang disuapkan oleh sang suami. Anne tak melepaskan pandangannya dari sosok pria yang selalu perhatian kepadanya itu. Curahan kasih sayang seakan tidak ada habisnya dari pria matang yang sedang menatapnya penuh kasih itu.


Melihat pemandangan indah di dalam ruang inap itu, membuat bulir air mata Dara turun begitu saja. Ia menyaksikan sendiri betapa mesranya pasangan suami istri yang ada di dalam sana. Sebenarnya Dara tidak pergi kemana-mana, ia hanya ingin memberikan ruang kepada ayahnya dan ia pun ingin tahu bagaimana sikap keduanya saat berdua saja.


"Jika Anne adalah sumber kebahagiaan Papi, maka Dara merelakan dia menggantikan posisi Mami di rumah kita, Pi." Dara bergumam dengan suara yang sangat lirih.


Berjalan menapaki lorong rumah sakit yang sepi membuat pikiran Dara kemana-mana. Ia membayangkan betapa susahnya menjadi Anne di saat menikahi ayahnya. Dara tahu bagaimana selera Anne selama ini, tentu bukan seperti ayahnya, meski tidak bisa dipungkiri jika ayahnya pun termasuk golongan pria matang yang tampan.


"Duh! Gak kebayang gimana malam pertama mereka!" Dara menggeleng pelan karena membayangkan hal itu.


...💠💠💠💠💠...


Hari terus berganti mengikuti putaran waktu yang terus berlalu tanpa henti. Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, kondisi Anne kembali pulih. Ia sudah diperbolehkan pulang dengan beberapa pesan dari dokter. Anne dilarang banyak pikiran atau setres agar asam lambungnya tidak naik drastis dan pencernaannya menjadi lancar.

__ADS_1


"Papi nginep di rumah Dara saja!" ujar Dara setelah ketiganya masuk ke dalam mobil. Kali ini om Rudi sendiri yang mengemudikan mobil putrinya.


"Tapi Papi pengen nginep di hotel," sergah om Rudi setelah melajukan mobilnya keluar dari tempat parkir rumah sakit.


Dara mendekatkan kepalanya di antara dua kursi depan. Ia mencoba merayu Anne agar mau menginap di tempat tinggalnya, "Mibung, ayolah! Rayu papi biar mau nginep di rumahku," ucap Dara seraya menatap wajah Anne dari samping.


Anne berdecak kesal setelah mendengar Dara memanggilnya dengan sebutan 'Mibung', yang tak lain adalah singkatan dari Mami samBung. Sejak kemarin Dara terus memanggil Anne dengan sebutan itu hingga membuat Anne kesal. Padahal ia sudah mengatakan jika tidak mau dipanggil seperti itu. Anne hanya ingin Dara memanggil seperti biasanya.


"Mibung! please! Lakukan sesuatu!" Dara memohon agar ayahnya menginap di rumah.


"Dar! Jangan panggil begitu, ih!" protes Anne. Ia geli saja saat mendengar Dara menyebut kata itu.


Sementara itu, om Rudi hanya mengembangkan senyumnya melihat istri dan putrinya akrab seperti saat ini. Beliau sendiri tidak perduli Dara mau memanggil Anne dengan sebutan apa, karena yang terpenting adalah, beliau kembali memiliki keluarga yang utuh. Terlepas dari panggilan khusus Dara kepada Anne—Mau Mibung, Mihun, Matir, Bunda atau apalah itu.


"Sudah! Jangan merengek!" ujar om Rudi tanpa mengalihkan tatapannya dari depan, "hari ini Papi nginep di rumahmu tapi besok pagi Papi harus kembali ke Indonesia," ucap Om Rudi.


Dara tertawa lepas setelah mendengar hal itu. Akhirnya keinginannya terwujud kali ini, ia akan menghabiskan waktu untuk menikmati hari bersama keluarga yang lengkap. Dara segera kembali ke tempatnya, ia duduk dengan tenang di kursi belakang hingga mobil yang dikendarai ayahnya sampai di halaman rumahnya.


Kedua wanita itu segera masuk ke dalam rumah, meninggalkan om Rudi yang sedang bersusah payah mengeluarkan beberapa barang dari mobil. Beliau menggerutu karena kedua wanitanya itu tidak mau membantu beliau membawa barang-barang dari rumah sakit.


"Ternyata anak dan istri sama saja!" gerutu om Rudi, "Oh, jadi begini rasanya berumah tangga dengan wanita yang seumuran dengan putriku sendiri! Hmmm sepertinya aku yang harus mengalah jika nanti ada masalah! Dara pasti membela Anne," lanjut om Rudi seraya mengayun langkah menuju pintu rumah yang terbuka lebar itu. Beliau membawa dua tas besar di kedua tangannya.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...Happy weekend, Bestie😎...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2