
Satu bulan kemudian,
Gemericik air yang turun dari shower berhasil membuat sepasang suami istri yang sedang melakukan aktifitas itu menjadi basah kuyup. Ya, inilah rutinitas wajib yang dilakukan om Rudi terhadap sang istri—membabat habis rumput yang tumbuh di atas permukaan gua tempat bersembunyinya kacang almond.
"Pi, yang bersih ih! kenapa pakai di sisain gitu sih!" protes Anne setelah melihat hasil karya sang suami.
"Papi suka seperti ini! Terlihat lucu dan menggemaskan!" Om Rudi tersenyum melihat hasil karyanya.
Anne hanya bisa membuang napasnya kasar karena ulah suaminya itu. Shower yang mengucur di atas kepala kini telah diraih oleh om Rudi. Pria matang itu mengarahkan shower ke tempat keramat sang istri. Permukaan gua itu pun akhirnya bersih dari rumput rontok sisa pembabatan yang dilakukan om Rudi.
Seperti biasa, kegiatan itu pasti berakhir dengan permainan yang menguras tenaga. Sepasang suami istri itu melakukan di dalam kamar mandi dengan hasrat yang membara.
Setelah berada di dalam kamar mandi selama enam puluh menit, pada akhirnya mereka berdua keluar dari kamar mandi. Anne bergegas masuk walk in closet untuk menyiapkan pakaian sang suami. Pagi ini rencananya sepasang suami istri itu akan pergi bermain golf untuk menghabiskan akhir pekan.
"Papi, kita besok ambil penerbangan pagi atau malam?" tanya Anne setelah keluar dari walk in closet dengan membawa pakaian olahraga om Rudi.
"Pras sudah menyiapkan keberangkatan pagi, Sayang," jawab om Rudi seraya memakai pakaian pemberian dari Anne.
Setelah selesai bersiap di dalam kamar, sepasang suami istri itu segera keluar. Mereka berjalan menuju ruang makan untuk menikmati sarapan yang sudah tersaji di atas meja makan.
Pagi ini mereka memakai outfit dengan warna senada. Sarapan roti bakar dengan segelas susu yang menemani pada akhirnya selesai. Kini, mereka berdua mengayun langkah keluar dari rumah megah ini.
"Tumben pakai mobil ini, Pi?" tanya Anne setelah melihat mobil Alphard putih sudah disiapkan oleh sopir di halaman rumah.
"Mobil biasanya masih di servis, Sayang. Ayo berangkat!" ucap om Rudi sebelum menuruni satu persatu anak tangga yang ada di teras rumah.
Pagi ini om Rudi sengaja mengendarai mobil tanpa sopir. Beliau ingin menghabiskan waktu tanpa ada siapapun yang menggangu. Mobil putih itu melaju di jalanan yang cukup padat. Sekitar tiga puluh menit, mobil yang dikendarai om Rudi sampai di lapangan golf.
__ADS_1
"Pi, udah rapi kan penampilan saya? Ada yang kurang gak, Pi?" tanya Anne setelah mengambil peralatan golf di kursi belakang. Ia membenarkan topi di kepalnya dan tak lupa memakai sarung tangan khusus untuk bermain golf.
"Udah! Kamu selalu tampil cantik! Papi suka," ucap om Rudi seraya tersenyum tipis setelah melihat penampilan sang istri, "pakai maskernya!" titah om Rudi setelah mengamati keadaan di sekitar.
Anne mengandeng tangan sang suami tatkala memasuki area golf. Banyak pasang mata yang memandang ke arahnya karena penampilannya cukup mencuri perhatian. Segera Anne meletakkan tas yang berisi peralatan golf itu di sisinya setelah duduk.
Langit nampak cerah karena sang raja sinar sedang menunjukkan keangkuhannya pagi ini. Permainan terus berlangsung hingga beberapa puluh menit lamanya. Sepasangan suami istri itu asyik dengan tongkat golf masing-masing. Mereka begitu menikmati suasana pagi yang begitu nyaman di tempat ini.
"Pi, setelah dari sini, kita mampir dulu ke kliniknya dokter Lien, ya," ucap Anne setelah duduk di bangku yang tersedia untuknya, "kita perawatan dulu, Pi, sebelum menghadiri wisuda Dara nanti." lanjut Anne.
Tidak ada pilihan selain mengikuti keinginan sang istri. Hampir satu tahun om Rudi mengantar Anne saat perawatan karena beliau tidak mau istrinya itu berkeliaran di luar rumah seorang diri. Banyak buaya yang mengintai daun mudanya itu. Om Rudi pun sering melakukan perawatan sama seperti Anne. Hal itu membuat wajahnya semakin terlihat fresh walau sudah berumur setengah abad.
"Kalau begitu kita pulang sekarang saja," ucap om Rudi setelah menghabiskan satu botol air mineral.
Pesawat Indonesia-Jepang mendarat di landasan bandar udara Haneda, Jepang, saat menjelang sore. Semua penumpang segera keluar dari pesawat dan berjalan menuju gedung raksasa itu untuk antre mengambil koper masing-masing.
"Dara kok belum ngasih kabar ya, Pi?" gumam Anne setelah menghidupkan ponselnya.
"Coba kamu telfon dulu," ucap om Rudi setelah mendapatkan kopernya.
Sepasang suami istri itu berjalan menuju lobby penjemputan. Mereka berdua belum menemukan batang hidung Dara ataupun Juna. Hal itu membuat Om Rudi sedikit kesal karena menunggu adalah sesuatu hal yang membosankan.
"Dara kemana sih!" gerutu om Rudi karena ponsel putrinya belum aktif.
"Udah, sabar, Pi! Mungkin Mereka masih terjebak macet," Anne mengusap lengan suaminya itu, "lebih baik kita duduk di sana, Pi!" Anne menunjuk deretan bangku kosong di ruang tunggu.
__ADS_1
Namun, baru saja mereka melangkah, terdengar suara teriakan Dara. Tentu, keduanya segera mengalihkan pandangan ke sumber suara. Terlihat Juna dan Dara sedang berlari menyusul Anne dan om Rudi.
"Huh ... huh ... huh!" napas Dara terengah setelah sampai di hadapan Anne dan ayahnya, ia segera meraih tangan kedua orang tua dan mendaratkan kecupan di punggung tangan tersebut.
"Maaf, Pi. Tadi kami terjebak macet. Handphone kami juga ketinggalan di rumah," ucap Dara setelah napasnya mulai teratur.
Anne mengamati penampilan putri sambungnya saat ini. Ia tidak percaya jika mobil yang dikendarai Juna terjebak macet di jalan. Anne bisa memastikan jika sepasang suami istri yang ada di hadapannya itu pasti bangun terlambat. Semua praduga itu tentu berdasar dengan rambut panjang Dara yang masih basah. Mungkin, dia belum sempat untuk mengeringkannya.
"Ya sudah, mari kita pulang," ucap om Rudi setelah ngobrol beberapa menit bersama menantunya.
Anne dan Dara berjalan di belakang suami masing-masing. Mereka saling bergandeng tangan layaknya orang yang akan menyebrang di jalan. Anne mengulum senyum ketika tidak sengaja melihat leher Juna ada beberapa tanda merah di sana.
"Gimana? Kamu pasti udah mahir ya main-mainnya," bisik Anne hingga membuat Dara membelalakkan matanya.
"Apaan sih, Mici!" Rona merah terlukis jelas di kedua pipi Dara setelah mendapat pertanyaan dari ibu sambungnya itu, "sok tahu banget!" kilah Dara setelah menatap Anne sekilas.
"Kamu tadi enggak terjebak macet 'kan? Tapi bangun kesiangan setelah menghabiskan malam panjang bersama Juna," sarkas Anne seraya menaik turunkan satu alisnya, "tuh, rambutmu masih basah! Pasti habis keramas ini mah!" ucap Anne sambil menyentuh rambut Dara yang tergerai.
Mata indah Dara semakin melebar sempurna tatkala Anne menunjuk tanda merah yang ada di leher Juna. Tentu hal itu membuat wajah cantik Dara semakin merona karena malu ketahuan Anne—jika dirinya cukup bar-bar hingga menggigit leher Juna.
"Mici! Jangan sampai Papi tahu! Awas aja, ya kalau sampai Papi menertawakan aku! Bakal aku balas dah, Mici!" ancam Dara hingga membuat Anne tertawa lepas sebelum membuka pintu mobil tersebut.
...🌷Selamat membaca 🌷...
...Maap yee mak-emak, kemarin othor up se bab doang😂othor lagi bernapas sebentar setelah kreji up minggu kemarin😎...
...🌹🌹🌹🌹🌹 ...
__ADS_1