Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Saya salah, Pak,


__ADS_3

Rencana menghabiskan waktu berdua gagal total karena ada wanita pengganggu yang datang tanpa diduga. Om Rudi terlanjur kesal berada di mall tersebut, karena beliau mendengar langsung ada seseorang yang berani menghina istri dan anaknya. Sungguh, kali ini beliau tidak akan memaafkan wanita sombong bernama Berli itu.


"Sejak kapan wanita itu memusuhi kalian?" tanya om Rudi tanpa menatap Anne. Beliau terus berjalan di tengah-tengah padatnya pengunjung mall ini.


"Sejak kami semester dua, Pi. Berli itu senior saya dan Dara," jawab Anne seraya menatap sang suami dari samping.


Om Rudi menghela napasnya setelah mendengar jawaban itu. Beliau tidak menyangka jika kedua wanita nya ini sering mengalami penghinaan dari putri koleganya. Sungguh, om Rudi merasa geram dengan wanita itu.


"Apa di kampus tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Dara?" tanya om Rudi setelah menghentikan langkahnya di depan lobby.


"Tidak ada. Dara tidak pernah mengumbar kekayaan di kampus. Lagi pula kami jarang bergaul dengan yang lain. Kepribadian Dara yang Introvert, membuatnya enggan untuk bersosialisasi. Dara cukup posesif dengan saya. Dia tidak suka jika saya bergaul dengan teman yang lain. Maka dari itu anak-anak kampus selain teman sekelas banyak yang mengira kami sombong." Anne menghela napas saat menjelaskan hal itu.


Om Rudi termangu setelah mendengar penjelasan sang istri. Memang benar, begitulah putrinya. Tidak punya banyak teman dan sering disebut gadis aneh oleh teman-temannya dulu saat masih SD dan SMP. Dara sering merasa tidak nyaman dengan orang lain. Hal itulah yang membuatnya sangat membatasi pertemanan. Sekali dia cocok maka Dara akan menjaga pertemanannya dengan baik, seperti hubungannya dengan Anne selama ini.


"Ayo kita pulang!" ucap om Rudi setelah pak Botak menghentikan mobilnya di depan lobby mall.


"Yah!! Papi! Saya kan belom puas jalan-jalannya!" Anne berdecak kesal karena rencana menghabiskan waktu bersama benar-benar hilang.


"Papi sedang tidak mood berada di sini! Nanti Papi akan memuaskan kamu di atas ranjang saja!" ujar om Rudi sebelum membukakan pintu mobil untuk sang istri.


Anne mengerucutkan bibirnya setelah mendengar hal itu. Kesal. Ya, itulah yang dirasakan Anne saat ini. Kehadiran Berli mengacaukan malam indah yang sudah ia bayangkan sejak di rumah. Harapan menghabiskan waktu bermalam minggu dengan sang suami harus musnah begitu saja.


"Gak usah cemberut!" ucap om Rudi setelah menatap wajah sang istri sekilas.


"Papi sih!" Anne semakin mengerucutkan bibirnya.


"Kita bisa jalan-jalan lagi di lain waktu!" kilah om Rudi, beliau meraih tubuh itu ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Mobil yang dikendarai pak Botak terus melaju di tengah-tengah padatnya jalanan kota. Beberapa kali om Rudi mendengus kesal karena terjebak macet yang sangat panjang. Inilah yang membuat om Rudi malas jika harus keluar di saat weekend.


"Berhenti di hotel yang ada di depan, Pak!" titah om Rudi kepada pak Botak saat melihat salah satu bangunan megah hotel bintang lima di Jakarta selatan.


"Mau ngapain, Pi?" tanya Anne seraya mengalihkan pandangannya ke samping.


"Malam ini kita nginep di hotel saja! Papi enggan pulang karena sepertinya di depan macet total!" ujar om Rudi.


Setelah sampai di tempat tujuan, sepasang suami istri itu segera keluar dari mobil. Om Rudi menggandeng Anne saat masuk ke dalam lobby hotel. Mereka menginap di hotel tanpa membawa pakaian ganti. Setelah mendapatkan kartu akses ke dalam kamar yang dipesan, om Rudi membawa Anne masuk ke dalam lift dan tidak lama setelah itu mereka sampai di kamar yang sudah dipesan.


"Pi, masa iya kita nginep di sini? Kita kan gak bawa apa-apa, Pi!" protes Anne setelah duduk di tepi ranjang.


"Nginep di hotel itu cukup bawa uang saja!" ujar om Rudi seraya menghempaskan diri di atas ranjang.


Anne berdecak kesal mendengar hal itu. Ia bingung harus bagaimana karena tidak membawa skincare dan pakaian ganti, "Terus kita tidurnya bagaimana, Pi? Gak bawa pakaian ganti loh!" tanya Anne seraya menatap om Rudi yang sedang mengamati langit-langit kamar tersebut.


"Gampang! Nanti kita tidur gak usah pakai baju! Baju yang ini dipakai pulang besok pagi kan bisa," jawab om Rudi tanpa berpikir panjang.


Weekend telah berlalu begitu saja. Hari senin telah menyambut semua insan setelah menghabiskan waktu di hari libur. Jalanan kota kembali dipadati kendaraan bermotor. Seperti biasa, mereka pasti terjebak macet panjang di saat hari senin seperti ini.


Derap langkah sepatu seorang wanita yang sedang berlari menuju ruangan kerjanya menggema di koridor kantor. Anne terlambat masuk dua menit karena sempat terjebak macet di depan gedung DPR.


"Huh! Saya telat, Bu!" ujar Anne setelah duduk di kursinya. Ia mengatur napas setelah berada di dalam ruangan bersama Risa.


"Kamu dipanggil Pak Rudi tuh!" ucap Risa seraya menatap Anne, "jangan lupa siapkan berkas kerja sama dengan perusahaan Mandala Buana yang tersimpan di ruangan pak Rudi," tutur Risa yang membuat Anne melebarkan mata.


"Jadi pak Rudi sudah datang?" Anne membelalakkan mata, "matilah aku!" Anne menepuk keningnya sebelum beranjak dari tempatnya saat ini.

__ADS_1


Anne tidak percaya saja jika suaminya itu sudah sampai di kantor. Padahal dirinya berangkat lebih awal dari sang suami. Beberapa kali Anne menepuk pintu ruangan itu sebelum masuk. Senyum yang sangat manis menemani Anne masuk ke dalam ruangan bosnya itu.


"Kamu terlambat lima menit!" ujar om Rudi setelah Anne masuk ke dalam ruangan beliau.


"Maaf, Pak. Saya salah," ucap Anne, "saya siap dihukum!" Anne menatap om Rudi penuh arti.


Om Rudi tersenyum smirk mendengar hal itu. Tentu beliau tahu apa hukuman yang dimaksud oleh Anne. Tatapan mata om Rudi tak lepas dari sosok wanita muda yang sangat menggemaskan dalam pandangannya itu.


"Di mana saya harus mencari berkas kerja sama dengan Mandala Buana?" tanya Anne dengan suara yang lembut.


"Almari belakang! Masukkan kode 2121 jika ingin membuka kunci almari itu!" ucap om Rudi tanpa menatap Anne yang ada di sisinya.


Tanpa mengulur waktu lagi, Anne segera melaksanakan perintah tersebut. Ia mencari berkas yang dimaksud om Rudi dan segera meletakkan berkas tersebut di meja sang suami.


"Apakah masih ada tugas untuk saya, Pak?" tanya Anne setelah berdiri di sisi om Rudi.


Om Rudi menepuk pahanya beberapa kali, sebuah kode agar Anne duduk di atas pangkuannya. Tentu saja, dengan senang hati Anne melakukan hal itu. Ia duduk di pangkuan itu dan tak lupa mengalungkan kedua tangannya di leher om Rudi.


"Apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Anne dengan tatapan mata yang sangat menggoda.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Terima kasih untuk kalian yang sudah memberi othor dukungan Vote, bungan, iklan, like, komen dan apapun itu❤️❤️Lope sekebon untuk kalian semua😘😘😘😘...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Hallo bestie😘 Othor ada rekomendasi karya super keren dari salah satu sahabat othor nih😍Kalian wajib baca dah karya dari author Haryani dengan judul Wanita Bahu Laweyan. Dari judulnya aja udah bikin penasaran kan😎Kuy kepoin👇👇

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2