Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Rahasia besar terungkap,


__ADS_3

Suasana tegang terasa di dalam ruangan tersebut. Ketiga orang yang ada di ruangan itu tercengang setelah mendengar pernyataan dari Anne. Sungguh, tidak ada yang percaya jika semua yang dikatakan Anne adalah nyata.


"Aku tidak percaya! Bibir manismu terlalu banyak menyimpan dusta!" sangkal Dara seraya menatap Anne jengah.


"Hentikan, An!" Om Rudi menginterupsi agar sang istri tidak membongkar semua kesalahpahaman ini di depan Dara.


"Biarkan, Pi! Biarkan dia mengeluarkan skenario yang sudah dia rancang!" Emosi Dara kembali tersulut.


Anne tertawa lepas melihat ekspresi wajah anak dan ayah itu. Suara gelak tawanya bergetar dengan diiringi air mata yang mengalir deras. Ia seakan sedang menertawakan keadaan yang terjadi saat ini.


"Kamu boleh tidak percaya, Dar! Tapi inilah kenyataannya pahit yang harus kamu ketahui!" ujar Anne setelah berhenti tertawa.


"Aku sudah muak menyimpan semua ini sendiri! Semua ini rasanya sangat menyakitkan, Dar! Bayangkan saja, aku harus menikah dan memadu kasih bersama pria yang menjadi pembunuh ayahku sendiri!" Anne melayangkan tatapan penuh amarah kepada pria yang menjadi suaminya selama ini.


"Sayang, aku bukan pembunuh! Ayahmu meninggal karena bunuh diri!" Sekali lagi, om Rudi mengeluarkan pembelaan diri.


"Cih! Anda masih membela diri, Tuan?" Anne mendekat ke tempat om Rudi saat ini.


"Malam mencekam di mana papa meninggal, saya ada di situ! Saya disembunyikan papa di balik sofa yang ada di ruang kerja! Saya tahu dengan jelas semua yang terjadi di ruangan itu! Saya melihat ada Anda dan pria bernama Joko yang tak lain adalah paman saya sendiri!"


"Saya mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana Anda menekan Papa dengan menandatangani sebuah surat! Lalu ...."


Anne menghentikan ucapannya karena tidak sanggup untuk menceritakan kejadian setelah penandatanganan surat tersebut. Ia semakin tergugu karena kenyataan pahit yang pernah ia saksikan secara langsung.


"Lalu Anda menekan papa dan menyuruhnya untuk menggantung lehernya di tempat yang sudah dipersiapkan beberapa orang berjaket hitam!"

__ADS_1


Deg. Jantung om Rudi seakan berhenti berdetak setelah sang istri mengungkap semua yang terjadi di masa lalu. Bibir itu terasa terkunci dan tidak bisa menyangkal semua yang diucapkan oleh Anne.


"Kemana hati nurani Anda, Tuan Rudianto Baskoro?"


Anne berteriak di hadapan pria yang sedang menundukkan kepalanya.


"Kenapa Anda tega melakukan semua itu? Anda tega memanipulasi kematian ayah saya dengan drama bunuh diri! Bia-dap!"


"Ayah saya dibunuh dengan sengaja! Bunuh diri hanya sebuah cara untuk menipu publik dan polisi agar kasus itu tidak dilanjutkan! Saya tahu jika Anda dan pria bernama Joko yang laknat itu membuat surat wasiat palsu!"


"Biadab! Keji! Anda bukan manusia! Anda itu hewan!" Pada akhirnya Anne mengeluarkan memori yang terpendam selama ini.


Tubuh om Rudi ambruk di atas lantai marmer mewah itu. Beliau tercengang setelah mendengar semua pernyataan Anne dan yang membuat beliau bungkam adalah semua rangkaian kejadian yang diucapkan oleh Anne adalah nyata.


"Apa salah ayah saya sehingga Anda melakukan semua itu! Bukankah Anda adalah sahabatnya? Lalu kenapa Anda tega melakukan semua itu!" Anne mencecar pria yang sedang tercengang di tempatnya.


"Aku melakukannya karena terpaksa! Kematian ayahmu bukanlah keinginanku, An! Sungguh!" ujar om Rudi seraya menatap Anne.


"Sepeserpun aku tidak merasakan harta ayahmu! Semua harta ayahmu dikuasi Joko, pamanmu sendiri!" Om Rudi menatap Anne dengan intens.


Suara gelak tawa Anne kembali terdengar di sana. Ia sedang menertawakan pengakuan langsung dari om Rudi. Lantas, ia mengalihkan pandangannya ke arah Dara, ia mendekat dan menatap Dara dengan lekat.


"Kamu mendengar sendiri bukan pengakuan ayahmu! Akan aku perjelas di hadapanmu! Ayahmu adalah pembunuh ayahku! Ayahmu menekan ayahku agar menggantung lehernya di tempat yang sudah dipersiapkan di ruang kerja! Aku adalah saksi nyata atas semua kejahatan itu!"


"Sekarang coba bayangkan rasanya jadi aku! Di usia sembilan tahun, aku sudah menyaksikan peristiwa mengerikan! Sekarang, bayangkan lagi betapa terguncangnya jiwaku setelah kejadian itu! Aku trauma! Aku takut! Aku menjadi yatim piatu dan hidup sebatang kara! Apa kamu bisa menjalani hari-hari pahit seperti itu, Dar?"

__ADS_1


Anne menatap Dara yang sedang tergugu di tempatnya saat ini. Sahabatnya itu pun tidak tahu harus bagaimana karena yang pasti, Dara benar-benar shock mendengar semua ini. Apalagi setelah mendengar langsung pengakuan dari ayahnya.


"Sejak saat itu aku membenci sosok yang bernama Rudianto Baskoro. Namun, bu Ningrum dan pak Hadi selalu membimbingku! Mereka tidak pernah mengajarkan aku untuk balas dendam kepada ayahmu, Dar!"


"Saat itu aku terpaksa mau dititipkan di sini, karena bu Ningrum tidak mampu lagi membiayai pendidikanku! Pandanganku kepada ayahmu mulai berubah. Aku sempat melupakan perbuatan kejinya karena ternyata ayahmu begitu baik kepadaku, aku tidak menemukan sosoknya yang dulu! Akan tetapi ...."


Anne mengatur napasnya yang memburu. Ia terengah karena luapan emosi yang menguras tenaga. Tatapan matanya tertuju kepada Dara, ia seakan ingin Dara ikut merasakan betapa perihnya hati yang teriris.


"Akan tetapi semua penilaian itu sirna seketika, saat ayahmu menginginkan aku menjadi istrinya! Keserakahan macam apa ini? Ayahmu tega melakukan semua itu kepada bu Ningrum. Padahal dia sangat berjasa mendidikku agar tidak membalas semua kejahatan ayahmu!"


"Dan yang paling menyakitkan, Dar! Ayahmu tidak mencintaiku! Ayahmu menikahiku karena rasa cintanya di masa lalu yang belum tuntas! Asal kamu tahu, ayahmu mencintai wanita bernama Sekar, dia adalah mamaku!" ujar Anne dengan linangan air mata yang semakin turun deras.


Juna sigap menangkap tubuh sang istri, karena tiba-tiba saja Dara kehilangan keseimbangan. Putri tunggal om Rudi itu tidak sanggup lagi mendengar semua yang dikatakan oleh Anne. Ia belum bisa mencerna satu persatu ungkapan rasa pedih di hati wanita yang sangat dekat dengannya itu.


"Aku sudah berjuang sekuat tenaga untuk membujuk ayahmu agar merestui hubunganmu dengan Juna. Kamu tahu, aku melakukan semua itu karena apa? Karena aku sangat menyayangimu. Aku tidak mau kamu ikut menanggung beban kesalahan ayahmu. Aku yang merencanakan semua pernikahanmu, rumah dan perusahaan. Aku tidak perduli meski kamu menganggap aku sebagai seorang wanita murahan atau pun jahat! Karena pada kenyataannya inilah aku, Wanita yang menyimpan banyak luka!"


Malam ini, semuanya diungkap oleh Anne. Ia mengeluarkan semua racun yang tersimpan di hati. Racun yang menjadi bayang-bayang dalam hidupnya. Ia dipaksa keadaan untuk terus tersenyum bahagia di atas ketakutan dan luka yang masih tersimpan di hatinya. Om Rudi kembali menengadahkan kepala setelah melihat sang istri hanya diam dengan isak tangis yang mengiringi.


"Kamu sudah puas, An, mengeluarkan semuanya! Baiklah sekarang giliranku, agar Dara mengetahui semuanya! Aku pun tidak mau menyimpan semua ini lagi," gumam om Rudi tanpa melepaskan pandangannya dari wajah sang istri.


...🌹Selamat membaca 🌹...


...Aduh bagaimana episode hari ini? Lanjut gak nih? Benang kusutnya mulai tertarik nih🤭...


...🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2