
Aroma obat-obatan masih terasa di indera penciuman Anne, karena saat ini ia belum pulang dari rumah sakit. Hari ini adalah hari kedua pasca Anne melahirkan Gavin. Ia sudah bisa memberikan ASI kepada Gavin, tentu dengan bantuan bidan dan beberapa petugas medis yang lain. Tatapan mata Anne tak lepas dari bayi menggemaskan yang sedang menikmati sumber kehidupannya itu.
"Hey udah, dong! Nanti muntah, Sayang," gumam Anne sambil berusaha menjauhkan ujung sumber dari mulut putranya.
"Mas, tolong ambilkan tissu, Mas!" ujar Anne tanpa menatap om Rudi yang ada di sofa penunggu pasien
Tak berselang lama, pria matang itu pun duduk di tepi bed pasien sambil menyerahkan tissu kepada Anne. Beliau hanya bisa tersenyum ketika melihat Anne sibuk mengusap pipi Gavin dari sisa air susu, "Tumben Gavin anteng gitu," Om Rudi bergumam tanpa melepaskan pandangan dari putranya.
"Mungkin dia kenyang, Pi." Anne meletakkan Gavin di atas bantal yang ada di atas pangkuannya, "minum ASI nya kenceng banget, ya, Dek, Mami sampai kuwalahan," ujar Anne seraya menatap Gavin yang sedang tertidur pulas.
"Ternyata usahaku saat nengok Gavin selama ini gak sia-sia! Dia begitu cerdas saat menyerap ilmu yang aku berikan!" ujar om Rudi dengan bangganya.
Anne menaikkan satu alisnya ketika mendengar hal itu. Ia tidak paham kemana arah pembicaraan suaminya itu, "apa sih, Mas?" tanya Anne karena tidak mengerti sama sekali maksud sang suami.
"Sebelum nengok Gavin saat masih di dalam perut kan, aku pasti melakukan apa yang sedang dilakukan Gavin saat ini." Om Rudi menaik turunkan satu alisnya saat menjelaskan maksud beliau kepada Anne.
"Oh, dasar!" Anne berdecak kesal setelah paham apa yang dimaksud suaminya.
Om Rudi beranjak dari tempat duduknya setelah melihat penunjuk waktu yang ada di sana. Beliau berjalan menuju jendela kaca untuk membuka tirai berwarna hijau tersebut. Cahaya mentari pun mulai masuk ke dalam ruangan VVIP itu.
"Apa perlu kita pindahkan Gavin ke box nya?" Om Rudi menawarkan bantuan kepada Anne.
"Tidak usah, Mas! Nanti saja, biarkan dia tidur pulas di sini," ucap Anne seraya menatap om Rudi sekilas.
__ADS_1
Suara pintu yang terbuka membuat Anne dan Om Rudi mengalihkan pandangan. Ternyata Juna dan Dara yang masuk ke dalam ruangan. Mereka pamit kembali ke Bandung, karena ada urusan mendadak di perusahaan. Mungkin, beberapa hari ke depan, Dara akan datang kembali ke Jakarta.
"Kalian hati-hati di Jalan ya," ucap om Rudi sebelum anak dan menantunya keluar dari ruangan tersebut.
Setelah Dara dan Juna keluar dari ruangan itu, Om Rudi kembali fokus kepada Anne. Beliau mengambilkan roti dan susu untuk Anne, agar perutnya selalu kenyang. Om Rudi benar-benar perhatian kepada Anne, tak sedikitpun beliau mengeluh lelah atau bosan saat menunggu di rumah sakit.
Tok ... tok ... tok ....
Om Rudi meletakkan gelas kosong di atas nakas, lantas beliau segera berjalan menuju pintu masuk untuk melihat siapa yang datang. Sepertinya bukan dokter ataupun tenaga medis yang biasa visite di pagi hari.
"Marlina," ucap om Rudi ketika melihat teman lamanya berdiri di depan pintu. Tentu saja, tante Marlina tidak datang sendiri, beliau ditemani Bagus yang berdiri di sisinya, "silahkan masuk, Lin." Om Rudi membuka lebar pintu tersebut.
Anne terkejut ketika melihat kehadiran kedua orang tak terduga itu. Apalagi, saat melihat Bagus di sana. Hal itu membuat Anne bingung harus mengatakan apa, terlebih saat Bagus meletakkan kotak kado berukuran besar di nakas.
"Bagaimana kabarmu, Sayang?" Tante Marlina membuka pembicaraan untuk memecahkan suasana canggung yang terasa saat ini, "cewek atau cowok nih?" tanya tante Marlina seraya menatap Gavin yang sedang tertidur pulas.
"Wah, namanya keren! Pasti ganteng banget nih kalau udah besar!" ujar tante Marlina tanpa mengalihkan pandangannya dari Gavin, "Rud, jangan sampai mirip kamu, ya!" Tante Marlina mengalihkan pandangannya ke arah om Rudi.
"Heh Semprul! Dia itu anakku! Mana mungkin mirip orang lain!" sungut om Rudi. Beliau tidak terima dengan statement tante Marlina.
"Ya biar mirip Mama nya, lah! Kalau mirip kamu, hmmm, bisa kacau kaum hawa di masa depan!" kelakar tante Marlina dengan diiringi senyum tipis.
"Jadi, kamu datang kesini hanya untuk mengatakan itu, Lin?" Om Rudi berkacak pinggang saat mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Enggak, dong! Aku pengen nengok anak dan istrimu. Tuh, aku kasih kado yang gede, biar kamu gak protes!" sergah tante Marlina sambil menunjuk kado yang dimaksud.
Obrolan ringan pun terdengar di sana. Sementara Bagus hanya diam sambil mengamati ketiga orang yang tidak jauh darinya itu. Ia enggan untuk berbicara dengan om Rudi, karena ia begitu canggung saat beradu pandang dengan suami mantan kekasihnya itu.
Anne sendiri sedang asyik ngobrol dengan tante Marlina, karena dengan begitu, ia bisa menghindar dari tatapan mata mantan kekasihnya itu. Sesekali, Anne menatap ke arah Gavin untuk memastikan jika putranya tetap berada di zona nyaman.
"Oh, ya, Rud. Sebenarnya aku datang kesini tadi ada tujuan yang lain," ucap tante Marlina setelah tidak ada di pembahasan lagi.
"Apalagi yang kamu inginkan, Lin?" Om Rudi membuang muka ke arah lain.
Tante Marlina menatap Bagus penuh arti. Beliau tersenyum manis sambil mengangguk pelan. Tentu saja, itu adalah sebuah kode agar Bagus berbicara.
"Saya ingin minta waktu sebentar saja untuk bicara berdua bersama Anne. Saya harap Pak Rudi mengizinkan saya untuk hal itu," ucap Bagus dengan tegas. Tentu saja, hal itu membuat om Rudi dan Anne terkejut bukan main.
Tante Marlina segera meyakinkan om Rudi, jika tidak akan terjadi apapun kepada anak dan istrinya itu. Bahkan, tante Marlina sendiri yang menjamin jika memang ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Sikap dewasa tante Marlina nyatanya berhasil meluluhkan hati teman lamanya itu. Beliau pun akan bertindak jika Bagus melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
"Tidak lebih dari lima belas menit!" ujar om Rudi sebelum keluar dari ruangan istrinya bersama tante Marlina.
"Terima kasih," ucap Bagus sambil menganggukkan kepalanya. Pria muda itu menatap tante Marlina penuh arti.
Anne sangat tidak nyaman ketika berada di dalam ruangan ini bersama Bagus. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, karena Bagus hanya diam tanpa melepaskan pandangan darinya. Sungguh, jika saja bisa menolak, tentu Anne memilih menghindar agar tidak berdekatan dengan Bagus.
"Ada apa?" Akhirnya Anne memberanikan diri untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Ia harus memberi umpan kepada Bagus, agar situasi ini segera berakhir.
__ADS_1
...🌹Selamat membaca🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...