Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Dua pria terabaikan,


__ADS_3

Waktu terus berlalu tanpa kenal lelah. Malam semakin larut, akan tetapi di dalam kamar bernuansa putih itu, suara gelak tawa masih terdengar. Kedua wanita yang sedang hamil itu saling melemparkan candaan hingga mereka tidak tahu jika waktu semakin larut.


Anne sangat menikmati momen indah malam ini. Sudah lama ia merindukan sikap manja Dara. Setelah beberapa bulan merasakan ketidak nyamanan, pada akhirnya malam ini semua rasa itu telah lenyap. Dara menujukkan kembali sikap seperti dulu—saat mereka masih kuliah.


"Dar, aku minta maaf, ya," ucap Anne setelah keadaan menjadi hening.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Dara seraya menatap Anne yang ada di sisinya. Kedua wanita hamil itu sama-sama duduk bersandar di headboard ranjang.


"Aku minta maaf atas semua yang sudah terjadi, Dar. Mungkin kehadiranku sebagai istri ayahmu, membuat hatimu terluka. Aku sering memikirkan itu. Bagaimanapun juga, kamu pasti tidak nyaman saat ayahmu mengucapkan cinta kepadaku. Aku tahu, pasti kamu tidak rela 'kan jika ayahmu mencintai wanita lain selain ibumu," tutur Anne dengan kepala yang tertunduk.


Dara hanya diam setelah mendengar penjelasan Anne. Ya, semua yang diucapkan Anne memanglah benar. Terkadang, ada rasa sakit yang merasuk ke dalam hati ketika melihat ayahnya mengungkapkan cinta dan kasih sayangnya kepada wanita lain.


"Rasa sakit memang sering singgah di hati, akan tetapi aku harus segera menepisnya, An. Aku sadar, Papi pun butuh kasih sayang yang tidak bisa aku berikan. Papi itu pria normal, dia pasti membutuhkan seorang pendamping," ucap Dara dengan tatapan lurus ke depan.


"Aku bisa menepis semua rasa itu, akan tetapi jika kamu menyakiti Papi, aku tidak terima, An! Bagaimanapun kesalahan Papi, aku tetep putrinya. Aku pasti tetap memihak Papi." Kali ini Dara menatap ke arah Anne.


"Jika memang kamu benar-benar mencintai ayahku, aku bisa memaafkan. Ini adalah kesempatan terakhir untukmu, An. Jika setelah ini kamu mengulang kesalahan lagi, aku tidak akan bisa menjalin hubungan baik denganmu lagi," ucap Dara tanpa melepaskan pandangan dari wajah Anne.


Anne memeluk tubuh Dara dari samping. Ia menangis di atas pundak Dara. Sungguh, ia rindu dengan hubungan hangat seperti dulu. Ia benci dengan jarak yang selama ini terbentang di antara mereka.


"Aku sudah menetapkan hati hanya untuk ayahmu. Aku tidak perduli lagi dengan semua yang terjadi di masa lalu, Dar. Bagiku sekarang yang terpenting adalah menata masa depan," ucap Anne dengan suara yang bergetar.


Kedua wanita itu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Cukup lama mereka berada dalam situasi ini, hingga pada akhirnya, Anne mengurai tubuhnya. Ia kembali menyandarkan punggungnya seperti semula.

__ADS_1


"Lihatlah, An! Aku tidak menyangka jika kita hamil bersamaan. Perut kita hampir sama!" ucap Dara setelah mengamati perutnya dan Anne.


"Ck! Kamu benar!" Anne berdecak setelah melihat perutnya, "dan yang aku kandung adalah adikmu!" ujar Anne seraya mengusap perutnya.


Dara terkekeh melihat eksresi wajah ibu sambungnya itu. Ia tidak pernah menyangka jika Tuhan memberikan jalan rumit bagai benang kusut yang tidak tahu di mana ujungnya. Dara tiba-tiba saja memeluk tubuh Anne dengan erat. Mungkin, ia sedang menunjukkan betapa besarnya rasa rindu itu.


"Akhirnya, apa yang menjadi keinginanku beberapa hari ini terkabul, An!" ujar Dara tanpa melepaskan tangannya dari tubuh Anne.


"Aku bahagia kita bisa seperti ini lagi. Aku sangat merindukan momen seperti ini, Dar. Dulu kita sering begadang sampai malam hanya untuk membahas perihal yang tidak penting. Aku harus menjadi pendengar setia saat kamu kesal dengan Juna." Anne mencoba mengingat kenangan di masa lalu.


Tawa renyah kembali terdengar di sana, saat kedua wanita berbadan dua itu bernostalgia. Bahkan, mereka membahas nama untuk anak-anak mereka nanti. Malam semakin larut, akan tetapi kedua wanita itu masih asyik ngobrol tanpa melihat penunjuk waktu yang ada di sana.


Sementara itu, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan suasana di kamar Dara. Keheningan begitu terasa di sana. Juna belum bisa menutup kelopak matanya karena merasa kesepian. Ia berguling ke kiri dan ke kanan, akan tetapi rasa kantuk tak kunjung datang.


"Huuh!" Juna melenguh setelah mengubah posisi menjadi duduk bersandar di headboard ranjang, "aku harus ngapain lagi? Doa, mendengarkan musik dan bermain ponsel pun sudah aku lakukan. Kenapa aku belum juga tidur!" gerutu Juna sebelum memijat pangkal hidungnya.


"Siapa ya yang ada di ruang keluarga?" gumam Juna saat mengayun langkah menuju ruangan tersebut.


"Papi." Juna bergumam lirih setelah sampai di belakang sofa panjang yang ada di sana. Ia melihat om Rudi sedang merebahkan diri di sofa tersebut dengan bermain ponsel.


Om Rudi meletakkan ponsel di sisinya setelah mendengar suara Juna di sana. Beliau pun mengubah posisi menjadi duduk bersandar di sofa tersebut, "kamu belum tidur, Nak?" tanya om Rudi, "kemarilah!" Om Rudi menepuk sofa yang ada di sisinya.


Juna tersenyum simpul untuk menanggapi perintah sang mertua. Tanpa banyak bicara, ia duduk di sana seperti yang diperintahkan oleh om Rudi. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di hati saat berada dekat dengan mertuanya itu.

__ADS_1


"Papi belum istirahat?" tanya Juna untuk memulai obrolan bersama orang tuanya.


"Papi tidak bisa tidur." Om Rudi jujur kepada menantunya, "kamu sendiri kenapa masih di luar kamar?" Om Rudi bertanya balik.


Juna tersenyum kecut mendengar pertanyaan tersebut. Tentu saja, ia sama halnya dengan sang mertua, tidak bisa tidur tanpa ada istri tercinta, "saya juga tidak bisa tidur, Pi," ucap Juna seraya menatap om Rudi.


Om Rudi hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban itu. Kini, beliau tahu bahwa Juna merasakan hal yang sama dengan beliau. Kedua pria tersebut mendadak bingung harus membahas apa. Tidak ada pembicaraan lagi, karena keduanya sama-sama tenggelam dalam angan.


"Bagaimana kabar orang tuamu?" Akhirnya om Rudi mengusir rasa sepi dengan menanyakan kabar besannya.


"Alhamdulillah, sehat, Pi. Oh, ya, saya sampai lupa! Papi dapat salam dari ayah," ucap Juna dengan diiringi senyum yang manis.


"Syukurlah. Kapan-kapan Papi akan berkunjung ke sana. Tolong sampaikan salam balik kepada ayahmu." Om Rudi menepuk paha Juna dengan diiringi senyum tipis.


"Bagaimana kabar perusahaan?" tanya om Rudi seraya mengubah posisinya.


"Alhamdulillah, Semuanya lancar, Pi. Beberapa investor mulai tertarik untuk menanam saham di anak cabang," jawab Juna.


Om Rudi mengangguk pelan dangan jari-jari yang mengusap dagunya. Sepertinya pembahasan akan berlanjut, om Rudi pun berinisiatif untuk mengambil makanan di dapur, "sebentar, Papi mau ke dapur dulu. Sepertinya kita butuh camilan untuk menemani obrolan malam ini," pamit om Rudi setelah beranjak dari sofa.


"Biar saya saja, Pi, yang pergi ke dapur!" sergah Juna setelah mendengar ucapan sang mertua.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...Duh, maaf ya bestie, upnya telat. othor lagi riweh banget di rumah😥...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2