Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Hari pertama bekerja,


__ADS_3

Indonesia,


Hari demi hari terus berganti, melewati banyak cerita di setiap persimpangan waktu. Satu minggu telah berlalu begitu saja. Anne dan om Rudi pun sudah kembali ke Indonesia sejak empat hari yang lalu, karena mereka berdua hanya dua malam saja di Jepang. Om Rudi harus segera kembali ke Indonesia karena ada sedikit masalah di salah satu proyek besar perusahaannya.


Dua hari lagi, Anne sudah mulai bekerja di perusahaan om Rudi. Segala keperluan untuk bekerja sudah disiapkan, mulai dari pakaian kantor, tas hingga sepatu. Sejak kedatangannya ke Indonesia, Anne memutuskan tinggal di apartment lama om Rudi dan Dara pun mengetahui hal itu. Dara sempat tidak setuju saat Anne memutuskan hal itu, tetapi mau bagaimana lagi, ia pun tidak bisa mencegah Anne secara langsung.


Anne sengaja tinggal di sana untuk menghapus rasa curiga Dara terhadapnya. Tentunya, ia tidak tinggal seorang diri di sana. Setiap malam ia ditemani om Rudi, bisa dikatakan jika mereka berdua lebih leluasa menjalani hidup sebagai sepasang suami istri yang normal tanpa takut kepergok siapapun.


"Papi capek ya?" tanya Anne ketika melihat om Rudi menyandarkan kepalanya di sofa.


"Lumayan! Sebentar lagi akhir bulan, pasti banyak pekerjaan yang menanti," jawab om Rudi tanpa mengubah posisi.


"Sini saya pijit, Pi!" Anne tersenyum manis saat om Rudi menegakkan kepalanya, "bagian mana dulu yang harus saya pijit?" tanya Anne seraya menatap om Rudi.


Om Rudi segera mengubah posisinya membelakangi Anne, tanpa mengucap sepatah katapun, beliau menepuk pundaknya. Mungkin, pundak itu terlalu lelah memikul beban pekerjaan yang tidak akan pernah ada habisnya.


"Papi, itu harusnya jangan terlalu lelah! Harus ingat umur, Pi! Waktunya istirahat ya istirahat, dong! Jangan lembur-lembur!" ucap Anne dengan tangan yang bergerak di kedua pundak yang ada di hadapannya saat ini.


"Saya harus bekerja keras demi Dara dan kamu, Sayang! Kartu ajaib yang kalian pegang biar bisa buat beli pulau," kelakar om Rudi seraya mengalihkan pandangan ke samping.


Anne tergelak mendengar hal itu. Memang benar, Anne bisa menggesek kartu itu untuk membeli apa saja yang dia inginkan. Namun, Anne tidak berani menggunakan kartu itu sembarangan karena dia pun memiliki tanggung jawab meski sang pemberi membebaskan penggunaan kartu itu segala yang dibutuhkan oleh Anne.


"Apalagi setelah ini, Papi pun harus memberi saya gaji yang besar, loh!" ucap Anne setelah gelak tawanya terhenti.

__ADS_1


"Oh tentu saja! Menjadi sekretaris pribadi memang gajinya besar karena pekerjaannya lebih banyak dari sekretaris pada umumnya. Apalagi, kalau ada pelayanan plus-plus di kantor." Om Rudi berkelakar hingga membuat Anne berdecak.


Om Rudi mengeluh sakit saat pinggangnya mendapat cubitan dari sang istri. Apa yang baru saja diucapkannya berhasil membuat Anne berdecak kesal.


"Dasar om-om genit! Sudah berapa banyak sekretaris yang seperti itu sama Papi?" Anne mulai mengintrogasi suami matangnya itu.


"Saya itu tidak pernah memiliki sekretaris pribadi, saya hanya punya asisten pribadi dan kamu tahu sendiri 'kan siapa asisten saya? Masa iya saya dapat pelayanan plus-plus dari Pras?" Om Rudi membalikkan tubuhnya menghadap sang istri.


Om Rudi mengulurkan tangannya ke arah Anne. Sebuah kode jika tangan itu butuh dipijit seperti pundaknya. Tatapan mata om Rudi tak lepas dari wajah cantik sang istri malam ini.


"Awas saja kalau berani macam-macam!" Anne mengancam om Rudi, "udah tua gak usah pakai main-main sama wanita, nanti encok beneran!" ujar Anne seraya menatap lekat wajah tampan yang tidak muda lagi itu.


Sekali lagi om Rudi tergelak mendengar ucapan sang istri. Entah mengapa, beliau sangat suka melihat ekspresi Anne ketika menggerutu dan menyebut beliau 'tua'.


"Sudah, cukup! Lebih baik kita istirahat sekarang," ucap om Rudi seraya berdiri dari tempatnya. Beliau mengulurkan tangannya untuk membantu Anne berdiri.


Sang mentari telah bangun dari tidur panjangnya, menampakkan sebagai bentuk di cakrawala timur. Warna kekuningan mendominasi cakrawala biru itu hingga membuat perpaduan warna yang sangat indah.


Hari ini adalah hari pertama Anne mulai bekerja di perusahaan sang suami. Hari ini ia bangun lebih awal dari biasanya karena harus mempersiapkan diri dengan baik di hari pertamanya. Ia harus terlihat profesional meski itu perusahaan milik sang suami. Pagi ini ia berada di apartment seorang diri karena tadi malam om Rudi pulang ke rumah utama.


"Hai, Dar!" Sapa Anne setelah menggeser icon hijau di layar ponselnya. Wajah cantik Dara memenuhi layar ponsel tersebut.


Anne meletakkan ponselnya di meja dapur, ia ngobrol dengan Dara sambil membuat roti bakar dan segelas susu untuk sarapan. Sesekali Anne tersenyum setelah mendengar kabar baik putri sambungnya itu.

__ADS_1


"Aku di apartment, lah!" ucap Anne saat Dara bertanya tentang keberadaannya.


"Gak ah, lebih baik aku tinggal di sini saja! Kalau tinggal di rumah utama, kamu nanti curiga lagi," ujar Anne setelah mendapatkan bujukan dari Dara agar kembali tinggal di rumah utama.


Obrolan terus berlanjut sampai tiba saatnya Anne sarapan. Ia membawa ponselnya ke meja makan untuk melanjutkan obrolan pagi bersama Dara. Ia mulai menyimak saat Dara mulai menceritakan kebahagiaan yang ia dapat di sana, tentunya bersama Juna.


"Juna gak pernah nginep di rumah 'kan?" Anne hanya memastikan jika Dara tidak kelewat batas.


"Awas jangan sampai ketahuan Papi, kalau Juna juga ada di sana!" Anne memberi peringatan kepada Dara, "oh, ya ... aku tutup dulu ya telfonnya, aku mau berangkat nih!" pamit Anne sebelum panggilan tersebut terputus.


Segera Anne meraih tas kerjanya sekaligus kunci mobil yang ada di atas meja makan. Ia mengayun langkah menuju pintu keluar apartment nya. Penampilan Anne di hari pertamanya bekerja terlihat anggun dan sopan.


"Oke, Anne! Semangat lah di hari pertamamu bekerja! Mari meraih impian yang belum terwujud!" gumam Anne setelah masuk ke dalam mobil putihnya, ia sedang memberikan semangat pada dirinya sendiri.


Mobil putih Anne akhirnya melenggang dari gedung yang menjulang tinggi itu. Membelah jalanan yang lumayan sepi karena hari ini memang Anne berangkat lebih awal agar tidak terlambat di hari pertamanya. Setelah menghabiskan waktu selama beberapa puluh menit, pada akhirnya, mobil putih itu sampai di halaman luas gedung yang terdiri dari beberapa lantai bertuliskan 'Royale Group'.


"Selamat pagi, saya sekretaris baru pak Rudi. Saya mau tanya, di lantai berapa ruangan pak Rudi berada?" tanya Anne kepada petugas keamanan yang berdiri di depan lobby kantor.


Anne hanya berpura-pura tidak mengerti di mana letak ruangan bosnya itu. Padahal, dia sudah pernah datang ke kantor ini bersama Dara, yang dia lakukan hanya sebagai formalitas karyawan baru di sana, tidak mungkin bukan jika Anne tiba-tiba masuk begitu saja.


"Terima kasih, Pak," ucap Anne setelah petugas tersebut menunjukkan di mana letak ruangan pemilik gedung ini.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...Siapkan vote atau hadiah yuk, biar besok othor semangat crazy up🤭...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2