Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Terasa Menegangkan!


__ADS_3

Ting tong ... ting tong ....


Dara meletakkan ponselnya di atas sofa setelah mendengar bel pintu depan berbunyi nyaring. Ia segera turun dari sofa untuk melihat siapa yang datang, karena hari ini ia tidak ada janji dengan siapapun.


"Say!" sapa Dara setelah pintu terbuka. Wajah tampan sang kekasih yang sedang tersenyum itu membuat raut wajahnya seketika berubah.


"Masuk, yuk!" Dara meraih tangan sang kekasih masuk ke dalam rumah. Tidak lupa ia menutup kembali pintu rumahnya.


Kedua sejoli itu duduk di ruang tamu. Juna mengutarakan maksudnya untuk mengajak Dara jalan-jalan ke museum yang tak jauh dari kampus. Tentu saja niat itu disambut Dara dengan senang hati. Segera ia beranjak dari sana dan masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap, karena ia belum mandi sejak bangun tidur.


Sementara itu, Juna menunggu di ruang tamu sambil bermain ponsel. Ia sedang mencari bahan untuk tugas mata kuliahnya. Namun, beberapa menit kemudian, ia meletakkan ponselnya saat mendengar suara bel berbunyi nyaring. Ia segera beranjak untuk membukakan pintu.


"Siapa kamu?" tanya pria yang sedang berdiri di hadapannya. Jujur saja, Juna terkejut setelah mendengar pertanyaan dari tamu yang berdiri di hadapannya.


Namun, rasa penasaran itu segera hilang setelah melihat Anne berdiri di belakang tubuh pria tersebut. Bisa dipastikan jika pria yang ada di hadapannya ini adalah ayah dari kekasihnya. Juna tidak tahu harus berbuat apa karena selama ini ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.


Dara baru saja keluar dari kamar mandi. Ia segera memakai pakaian yang sudah ia siapkan di atas ranjang, karena ia sendiri penasaran siapakah yang bertamu ke rumah ini. Dara keluar dari kamar tanpa melepas handuk yang melilit di rambutnya.


"Ada tamu siapa, Say?" teriak Dara saat berjalan menuju ruangan tamu.


Dara terkejut bukan main saat melihat siapa yang berdiri di hadapan sang kekasih. Tubuhnya terasa lemas saat menatap mata yang sedang memancarkan kilatan amarah itu. Jika saja bisa kabur, tentu saja sudah Dara lakukan saat ini.


"Pa ... Papi!" ujar Dara dengan mata yang melebar sempurna.


Sepasang kekasih itu, melangkah mundur saat om Rudi mulai melangkahkan kakinya. Sungguh, ini benar-benar di luar dugaan Dara, jika ayahnya berada di sini. Ia tidak tahu harus beralasan apalagi, karena pada kenyataannya ayahnya mengetahui sendiri jika Juna berada di rumah ini.


"Sial!" umpat Dara dalam hati saat menyentuh kepalanya. Ia baru sadar jika penampilannya saat ini pasti semakin menimbulkan kecurigaan ayahnya.


"Duduk!" titah om Rudi seraya menunjuk sofa yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


Dara dan Juna mengikuti perintah om Rudi. Mereka duduk berdampingan dengan kepala yang tertunduk. Sementara Anne berdiri tak jauh dari tubuh sang suami.


"Papi kecewa sama kamu, Dar!" ujar om Rudi dengan suara yang menggelegar, "jadi ini tujuanmu kuliah ke Jepang? Mengikuti pria ini, hmmm?" lanjut om Rudi seraya berkacak pinggang.


Dara hanya menggeleng pelan. Ia tidak berani mengangkat kepalanya hanya sekadar untuk menatap wajah ayahnya. Telapak tangannya terasa dingin karena takut terjadi sesuatu dengan Juna setelah ini.


"Siapa namamu?" Om Rudi menunjuk pria tampan yang ada di sisi putrinya.


"Juna, Om!" jawab Juna dengan tegas. Ia pun memberanikan diri menatap ayah kekasihnya itu.


"Berdiri dan ikuti saya!" titah om Rudi seraya masuk ke dalam rumah tersebut.


Anne segera menghampiri Dara yang sedang menyandarkan kepalanya di sofa setelah Juna berlalu mengikuti om Rudi. Ia segera memeluk Dara dengan erat. Jujur saja, ia merasa bersalah karena hal ini.


"An, aku takut, An!" ucap Dara dengan tangan yang gemetar, "bagaimana kalau Papi berbuat nekat dan melukai Juna!" Dara semakin panik karena hal ini.


"Kenapa kamu gak bilang sih kalau papi mau datang?" Dara semakin tidak tenang.


Anne pun menjelaskan tujuannya datang ke negara ini. Seperti rencana sebelumnya, ia dan om Rudi datang ke negara ini hanya ingin memberikan kejutan kepada Dara agar dia bahagia melihat ayahnya kembali sehat.


"An, tolong aku, An!" Dara menggenggam kedua tangan Anne yang kondisinya sama sepertinya, berkeringat dingin.


"Kamu tunggu di Sini, Aku akan menyusul Papi!" ucap Anne sebelum berdiri dari sofa tersebut.


...****************...


Suasana tegang terjadi di dalam kamar kosong yang dijadikan Dara sebagai tempat menyimpan buku-bukunya. Bisa dikatakan jika ruangan ini adalah ruang belajar yang dipakai oleh Dara.


"Apa tujuanmu mendekati putriku?" tanya Om Rudi dengan panggul yang bersandar di tepi meja.

__ADS_1


"Tidak ada. Saya hanya mencintai Dara, Om," jawab Juna dengan tegas.


"Kamu yakin tidak ada alasan lain?" tanya om Rudi dengan pandangan yang tak lepas dari wajah tampan itu, "bahkan, saya sudah mengetahui siapa kamu dan keluargamu! Saya hanya takut jika kamu memanfaatkan perasaan putriku demi keuntunganmu saja." Om Rudi semakin menajamkan pandangannya.


Juna hanya diam sambil mencerna kalimat panjang yang diucapkan oleh ayah kekasihnya itu. Tentu ia tahu kemana arah pembicaraan empat mata ini.


"Maaf, Om. Saya bukan tipe pria seperti itu! Saya tidak pernah memandang Dara dari segi kastanya. Saya memang hanya seorang pria dari kalangan menengah tapi bukan berarti saya ingin memanfaatkan Dara demi komersial. Jika memang Om sudah mengetahui seluk beluk keluarga saya, semestinya Om juga mengetahui apa saja yang sudah saya lakukan bersama Dara."


Perasaan takut dan was-was mendadak hilang begitu saja dari hati Juna saat om Rudi berusaha mengusik harga dirinya, termasuk keluarganya. Jujur saja ia tidak suka melihat pemikiran pria cerdas yang ada di hadapannya ini.


"Seharusnya Om mengakui hal itu, tapi kenapa, Om malah mengingkarinya? Sejauh Om mengawasi saya dan Dara, apakah Om pernah mendapatkan laporan jika saya pernah membuat Dara menangis?" Juna semakin berani menatap mata om Rudi.


Om Rudi menegakkan tubuhnya, Beliau maju satu langkah dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku. Mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan oleh kekasih putrinya itu, membuat indera pendengarannya menjadi gatal.


"Oh, jadi kamu berani menasehati saya!" ujar om Rudi dengan diiringi senyum smirk yang menakutkan.


Kedua pria tersebut mengalihkan pandangan tatkala pintu kamar terbuka lebar. Anne berdiri di sana sambil menatap kedua pria yang sedang bersitegang itu. Ia segera masuk dan tak lupa menutup pintunya lagi.


"Seharusnya kamu tidak datang ke sini, Anne!" ujar om Rudi, "ini adalah urusan laki-laki," lanjutnya sambil menatap Anne yang sudah berdiri di dekat om Rudi.


Anne hanya diam seraya menatap wajah om Rudi. Ia sedang merangkai kata untuk memberi pengertian kepada pria matang yang sedang diselimuti rasa kecewa. Anne harus melakukan sesuatu untuk menyelematkan Dara dan Juna dari perbuatan gila yang mungkin saja akan dilakukan pria matang yang sedang menatapnya itu.


"Papi, tidak selamanya uang menjadi tolak ukur kebahagiaan seseorang. Dara dan Juna saling mencintai sejak dulu, saya lah yang menjadi saksi betapa besarnya perasaan mereka," ucap Anne dengan suara yang lembut, "Tolong, tinggalkan ruangan ini, Jun! Biarkan aku bicara dengan Papi," ucap Anne seraya menatap Juna penuh harap.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Oke, sekedar inpo ya ini biar tidak menimbulkan salah paham🤭 Anne dan Dara bukan saudara se ibu. Sekar adalah ibu kandungnya Anne, nah ... Ibu kandungnya Anne ini adalah mantan kekasihnya om Rudi dulu waktu muda, tetapi eh tetapi ... ternyata ditikung ayah kandungnya Anne😀 Nantikan kejutan dari othor di episode yang masih panjang ini🤭 btw, dua bab lagi mungkin, hubungan Anne dan om Rudi akan ketahuan loh😍...


...🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2