Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Terbebas dari benang kusut.


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Hari demi hari terus berganti, seiring dengan berjalannya waktu. Langit begitu cerah hari ini, sepertinya sang mentari sedang bahagia. Bayi laki-laki yang lahir beberapa bulan yang lalu kini telah berusia tiga bulan. Gavin. Ia tumbuh dengan baik. Tubuhnya menjadi gembul karena tak kekurangan apapun. Sungguh, kehadirannya berhasil menjadi sumber kebahagiaan yang baru dalam rumah tangga Anne dan om Rudi.


"Bapak pulang saja, nanti saya pulangnya sama Papi," ucap Anne kepada sopirnya sebelum keluar dari mobil. Hari ini ia mengunjungi apartment miliknya, pemberian om Rudi kala itu.


Mobil putih itu berlalu pergi setelah Anne keluar bersama Gavin. Hari ini Anne dan om Rudi berencana untuk makan siang bersama di apartment ini. Anne sengaja tidak membawa baby sitter yang biasa membantunya merawat Gavin, karena ia ingin menghabiskan waktu berdua bersama om Rudi.


"Gavin pasti bingung ya, ini di mana?" Anne mengajak Gavin berbicara meski bayi menggemaskan itu belum bisa bicara. Ia hanya melihat apa yang ada di sekitarnya.


Anne segera keluar dari lift setelah pintu tersebut terbuka. Ia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam unit miliknya. Suasana apartment ini masih sama seperti dulu, nyaman dan damai. Banyak kenangan yang terukir di dalam apartment ini bersama om Rudi.


"Selamat datang, Nyonya," sambut seorang asisten rumah tangga yang dipanggil om Rudi untuk menyiapkan makan siang di sini


"Selamat siang, Bi," sapa Anne dengan diiringi senyum yang manis.


Anne duduk di ruang keluarga, sementara ART tersebut segera ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Anne sibuk dengan Gavin yang sedang tertawa lepas saat Anne menurunkannya di atas sofa.


"Anaknya Mami makin lucu aja, sih! Iya, Nak? Hmmm .. Gavin mau apa Cayang?" ucap Anne sambil menoel pipi gembul putranya itu.


Suara gelak tawa Gavin terdengar di sana hingga om Rudi datang. Pria matang itu tersenyum simpul ketika melihat anak dan istrinya. Beliau pun segera menghampiri mereka di ruangan keluarga.


"No, Pi! Cuci tangan dan kaki dulu sebelum dekat dengan Gavin!" Anne menghalangi om Rudi agar tidak menyentuh putranya.


Om Rudi menghela napasnya ketika melihat sikap over protective sang istri. Mau tidak mau, beliau harus pergi ke kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, om Rudi keluar dari kamar dengan pakaian santai. Beliau menghempaskan diri di sini Anne.


"Makan siangnya sudah siap, Tuan," ucap ART setelah menghampiri sepasang suami istri tersebut di ruang keluarga.


Anne segera mengangkat tubuh putranya. Mereka berdua beralih tempat menuju ruang makan. Berbagai hidangan tersaji di atas meja makan tersebut, "Papi saja yang makan duluan! Gavin lagi pengen minum ASI nih," ucap Anne setelah duduk di kursi.


Seperti biasa, jika sepasang suami istri itu keluar tanpa membawa baby sitter, maka mereka akan makan bergantian. Om Rudi segera menghabiskan makanan yang ada di piringnya, agar istrinya bisa segera makan.


"Sini, biar Gavin sama aku," ujar om Rudi setelah menghabiskan makan siangnya.

__ADS_1


Suara celotehan Gavin terdengar di sana. Memang begitu, jika bayi menggemaskan itu bersama ayahnya, maka Gavin akan lebih ceria. Tawa renyah terdengar di sana, membaur bersama suara om Rudi.


"Dia udah ngantuk itu, Mas!" ujar Anne ketika Gavin mulai merengek.


Om Rudi segera beranjak dari tempat duduknya, Beliau menimang Gavin agar putranya itu bisa lebih tenang. Om Rudi mengayun tubuh gembul itu dalam dekapannya, agar segera tidur.


Anne tersenyum tipis melihat kedekatan diantara anak dan ayah itu. Ia benar-benar bahagia karena kehadiran Gavin di tengah rumah tangganya. Anne sangat bersyukur dengan hidupnya saat ini.


"Aku tidak menyangka jika rasa sakit yang aku alami dulu, akan berbuah manis seperti ini. Pria yang dulu sangat aku benci, ternyata memberikan kebahagiaan yang tak pernah ada habisnya."


"Terima kasih, Tuhan, karena Engkau telah memberi semua kebahagiaan ini."


Anne tersadar dari lamunannya setelah mendengar ponselnya berdering. Ternyata Dara sedang melakukan panggilan video. Putri sambungnya itu, sedang liburan di luar negeri bersama suami dan anaknya.


Panggilan berlangsung selama sepuluh menit. Dara terlihat bahagia karena impiannya selama ini terwujud. Ia ingin pergi ke Eropa bersama Juna dengan hasil jerih payah keduanya, tanpa bantuan dari om Rudi.


"Aku bahagia, An! Akhirnya semua mimpiku terwujud! Aku bisa menghirup udara salah satu negara di Eropa bersama Juna dan Kiran! Terima kasih, karena semua ini terwujud karena doa mu dan Papi!" ujar Dara sebelum panggilan berakhir.


Anne melanjutkan kembali makan siang yang belum usai itu. Sepertinya, Gavin sudah tidur pulas saat ini, karena Anne tak lagi mendengar suara celotehannya. Buru-buru, ia menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


"Gavin tidur waktu aku dorong di stroller. Aku membiarkan dia tidur di sana, biar tidurnya pulas," ucap om Rudi setelah duduk kembali di kursi.


Sepasang suami istri itu akhirnya menghabiskan waktu di ruang makan. Mereka menikmati makanan penutup yang sudah disediakan oleh ART yang masih ada di dapur. Beberapa puluh menit kemudian, om Rudi dan Anne beranjak dari tempatnya. Akan tetapi Anne harus pergi ke dapur untuk menemui ART.


"Setelah pekerjaan Bibi selesai, Bibi boleh pulang. Ini gajinya untuk hari ini," ucap Anne setelah menyerahkan amplop putih kepada ART harian itu.


"Terima kasih, Nyonya," ucapnya sebelum Anne berlalu pergi.


Anne masuk ke dalam kamar menyusul om Rudi yang sudah masuk kamar terlebih dahulu. Ia melihat suaminya itu sedang duduk di sofa sambil membuka ponselnya. Sementara Anne, lebih memilih berdiri di depan kaca besar yang ada di kamarnya. Ia melihat pemandangan kota Jakarta yang padat itu.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya om Rudi setelah melingkarkan tangannya di perut sang istri. Beliau mengecup puncak rambut itu untuk sesaat.

__ADS_1


"Melihat masa depan," jawab Anne asal, ia tersenyum setelah mengucapkan hal itu.


"Apa yang kamu inginkan di masa depan?" tanya om Rudi setelah melepaskan tangannya, beliau membalikkan tubuh Anne agar bisa menghadap ke arahnya.


"Aku hanya ingin hidup bersama Papi sampai nanti," ucap Anne dengan diiringi senyum yang manis, "kita akan melewati apapun itu secara bersama. Aku sangat mencintai, Papi, ayahnya Dara dan Gavin." Anne mengusap rahang kokoh yang ditumbuhi bulu halus itu.


Jawaban dari Anne berhasil membuat om Rudi tersenyum. Beliau mendaratkan kecupan mesra di kening mulus itu cukup lama. Rasa cintanya kepada Anne semakin besar hingga tidak dapat diibaratkan lagi.


"Kita akan berlayar bersama, mengarungi samudera pernikahan ini. Aku akan melindungimu dari bahaya sampai titik terakhir hidupku." Om Rudi menatap dalam manik hitam sang istri.


Kedua bibir itu pada akhirnya saling bertautan. Menikmati rasa yang sudah lama terlupakan sejak Gavin lahir ke dunia ini. Anne sengaja memilih apartment ini untuk kembali berhubungan bersama om Rudi setelah puasa cukup lama. Tempat ini adalah tempat bersejarah bagi Anne, karena di sinilah, pertama kali ia menyerahkan hidup kepada om Rudi.


"Berada ronde untuk hari ini?" tanya om Rudi setelah berhasil melepas blous yang dipakai Anne saat ini. Dua bukit itu terlihat menantang di mata om Rudi.


"Terserah, Mas saja!" ujar Anne dengan percaya diri. Ia seakan mampu melawan tenaga pria matang itu.


Om Rudi tersenyum penuh arti saat mendengar jawaban dari Anne. Beliau melanjutkan kembali aksinya. Tangan itu pun mulai menjelajah setiap jengkal tubuh mulus itu. Sebuah tato berwarna merah terukir di leher mulus itu.


"Yah! Gagal maning!" ujar om Rudi ketika baru melepaskan tiga pengait di punggung Anne. Suara tangis Gavin terdengar menggema di kamar itu.


"Sabar! Masa marah sama anak sendiri." Anne mengerlingkan mata sebelum meninggalkan om Rudi di tempatnya. Ia menghampiri Gavin yang berada di atas strollernya.


Hubungan mesra itu harus tertunda, karena Anne masih berusaha untuk menenangkan Gavin. Bayi menggemaskan itu harus tidur kembali, agar misi kali ini berjalan lancar. Anne kembali tersenyum setelah melihat wajah masam om Rudi.


"Jangan cemberut gitu, dong!" ujar Anne dengan sorot mata penuh arti.


Pernikahan beda usia ini, nyatanya tak menghalangi Anne untuk meneguk madu dalam surga dunia. Terkadang, ia merasa bersalah atas semua kejadian di masa lalu. Kebenciannya telah menutupi akal pikiran. Kini, cinta yang besar telah membuatnya sadar, bahwa, umur yang jauh berbeda tidak bisa menghalanginya untuk meraih kebahagiaan dalam rumah tangga.


"Aku benar-benar bahagia dengan rumah tangga ini. Kini, aku sudah terlepas dari belenggu benang kusut. Aku sudah menemukan di mana ujung benangnya. Aku akan menarik benang itu agar tidak kusut lagi seperti dulu," Anne bergumam seraya menatap Gavin dan om Rudi bergantian.


...🌹T A M A T🌹...

__ADS_1


...Mojokerto, 29 Agustus 2022...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2