
Satu bulan kemudian,
Cuaca panas telah melanda kota Jakarta. Sang Raja sinar seakan tidak pernah puas untuk menampakkan keangkuhan. Bahkan, semilir angin pun tidak berani menampakkan diri karena takut akan kuasa sang raja.
Kedua gadis yang baru saja pulang dari kampus setelah mengikuti yudisium, menghempaskan diri di sofa yang ada di ruang keluarga. Mereka meletakkan tas dan sepatu masing-masing di sembarang tempat. Masih dengan pakaian hitam-putih yang lengkap, mereka merebahkan diri di sofa tersebut.
"Aku dehidrasi!" gumam Dara dengan mata yang terpejam, "Bi Sari ... saya mau yang seger-seger, dong!" Suara Dara menggema dalam ruangan itu.
"Non Dara mau jus melon atau ice tropicana?" tanya ART bersama Sari itu saat menghampiri Dara di ruang keluarga.
"Tropicana saja, Bi!" ucap Dara tanpa mengubah posisinya, "sekalian untuk Anne ya, Bi," lanjut Dara.
"Baik, Non!" ucap Bi Sari sebelum berlalu dari ruang keluarga.
Hukuman Dara sudah berakhir sejak dua minggu yang lalu. Om Rudi telah mengembalikan fasilitas untuk Dara seperti sebelumnya dengan syarat, Dara tidak boleh mengulang kesalahan yang sama. Dara sama sekali tidak keberatan akan hal itu karena tidak lama setelah ini, ia akan menghabiskan waktu setiap hari bersama Juna di Jepang, mungkin saat ini saja ia harus bersabar, menahan rindu yang menggebu.
"Terima kasih, Bi," ucap Anne setelah bi Sari kembali dari dapur dengan membawa minuman pesanan dari Dara.
Dara segera bangkit dari sofa setelah bi Sari kembali ke dapur. Ia segera meraih gelas berisi minuman yang menggoda itu dan mulai menikmati setiap tetes kesegaran yang melewati tenggorokannya.
"Dar, kapan kamu ke Jepang?" tanya Anne setelah meletakkan gelas di atas meja.
"Nanti saja lah, setelah kelulusan," jawab Dara tanpa menatap Anne, ia sibuk menguyah melon yang sudah dipotong kecil-kecil dan disajikan di piring.
"Kamu jadi kerja di kantornya Papi 'kan?" Dara memastikan keputusan Anne kala itu.
"Entahlah! aku nunggu wisuda aja dulu," jawab Anne dengan santainya, "Lagi pula aku nunggu papimu dulu yang berbicara." Anne menatap Dara yang sedang sibuk menikmati melon tersebut.
__ADS_1
"Eh, An!" Dara menghentikan ucapannya karena harus menelan buah yang ada dalam mulutnya, "selama aku berada di Jepang nanti, kamu harus menjaga papi dari godaan tante Rosa! Ingat! Tante Rosa!" titah Dara seraya menatap Anne dengan intens.
Anne hanya menganggukkan kepalanya karena sedang mengunyah melon yang tersaji di atas meja itu. Tentu saja, ia harus menjaga om Rudi dari godaan wanita manapun.
"Dengan senang hati, Dar!" jawab Anne dalam hati.
Dara sangat tidak suka dengan teman ayahnya yang bernama tante Rosa itu, karena wanita tersebut selalu bersikap genit jika ada di dekat om Rudi. Mungkin, tante Rosa menginginkan posisi menjadi nyonya Baskoro, tapi untuk mendapatkan itu tidaklah mudah karena ada putri semata wayang keluarga Baskoro yang menghalangi.
"Bila perlu pura-pura saja jadi istrinya Papi!" celetuk Dara hingga membuat Anne tersedak.
"Hei, pelan-pelan, dong!" Dara semakin mendekat ke arah Anne.
Segera Anne meraih gelas berisi minuman segar itu setelah mendengar ucapan Dara. Bahkan, minuman itu langsung habis hanya sekali teguk. Sungguh, Anne tidak menyangka jika Dara akan mengatakan hal yang sudah ia jalani beberapa bulan ini.
"Aku tidak pura-pura, Dar! Aku memang istri ayahmu yang sesungguhnya!" gumam Anne dalam hatinya.
...♦️♦️♦️♦️...
"Om, kira-kira kapan kita jujur kepada Dara? Karena terkadang saya lelah terus berbohongan demi menutupi kebohongan lain," keluh Anne seraya menengadahkan kepala.
Om Rudi hanya tersenyum mendengar keluhan sang istri. Beliau terus membelai rambut yang ada di atas pangkuannya itu, "nanti kita pikirkan lagi, banyak hal yang harus kita pertimbangkan sebelum memberitahu Dara tentang kebenaran ini," jawab om Rudi dengan sikap yang tenang.
"Memang sih, saya juga salah. Dulu saya memang tidak siap jika Dara mengetahui pernikahan ini tapi setelah menjalani pernikahan tersembunyi ini, saya mulai lelah!" Anne menghela napasnya dalam saat mengungkapkan isi hatinya.
"Sabar!" Hanya itu saja yang lolos dari bibir om Rudi.
Anne kembali menengadahkan kepalanya, ia menatap wajah sang suami dengan diiringi senyum yang manis. Tangannya terulur untuk mengusap rahang kokoh yang sudah ditumbuhi jambang itu.
__ADS_1
"Ini sudah waktunya dicukur loh, Om!" ucap Anne seraya mengusap jambang tersebut.
"Bukannya bagus ada jambangnya?" tanya om Rudi seraya menatap Anne.
"Saya gak suka kalau terlalu tebal! Pokoknya harus dicukur!" ujar Anne. Ia tidak mau dibantah lagi.
"Baiklah, demi istriku ini, aku rela menghilangkan jambang kebanggaaanku selama ini," ucap om seraya mengangkat kepala Anne agar berpindah posisi.
Obrolan terus berlanjut. Kali ini, om Rudi lah yang merebahkan kepala di atas pangkuan sang istri. Sepasang suami istri itu membahas masalah posisi sekretaris yang pernah dijanjikan oleh om Rudi beberapa waktu yang lalu.
"Pokoknya harus om duluan yang menawarkan pekerjaan itu saat kita ngobrol bertiga dengan Dara! Saya tidak mau memulai terlebih dahulu!" ujar Anne.
"Iya, iya! Om udah paham!" Om Rudi menengadahkan kepalanya. Perlahan tangan itu mulai nakal ... membuka kancing piyama yang dipakai oleh Anne.
Anne berdecak ketika sang suami mulai menemukan mainan untuk malam ini. Om Rudi mulai menyentuh 'squizi' yang masih terbungkus rapi dalam kain berenda berwarna merah muda. Namun, tangan itu seketika berhenti ketika mendengar suara ketukan pintu kamar sang istri beberapa kali. Sayup-sayup keduanya mendengar suara Dara di luar kamar.
"Anne ... An! Anne! An ...."
Anne reflek mengangkat kepala om Rudi dari pangkuannya. Ia segera turun dari ranjang dan membiarkan om Rudi melenguh karena kepalanya dihempaskan Anne begitu saja di atas ranjang. Mungkin, Anne terlalu panik hingga tidak menyadari apa yang sudah ia lakukan.
"Bagaimana ini, Om?" tanya Anne seraya membenarkan kancing piyamanya. Wajahnya terlihat panik karena takut ketahuan Dara.
"Ssst! Tenang!" Om Rudi turun dari ranjang. Beliau masih bersikap tenang meski putrinya terus mengetuk pintu kamar sang istri.
Om Rudi memberikan instruksi kepada Anne, bagaimana menghadapi situasi seperti ini. Anne mengikuti setiap langkah yang disarankan oleh suaminya itu. Ia harus mengatur napas terlebih dahulu sebelum membukakan pintu untuk Dara, tidak lupa om Rudi membantu Anne memberantakkan rambut pendek itu agar terlihat berantakan layaknya orang bangun tidur.
"Berpura-puralah seperti orang bangun tidur, oke!" titah om Rudi, "Sekarang buka pintunya, Om akan bersembunyi di balik pintu balkon kamar." Om Rudi menangkup kedua pipi Anne.
__ADS_1
...🌹Selamat Membaca🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...