
Kehangatan sang mentari telah menyapa seorang wanita berambut sebahu. Wanita tersebut baru saja keluar dari pintu penghubung menuju balkon kamar. Kedua tangan itu berada di atas pagar pembatas balkon, sementara kedua matanya terpejam saat menghirup udara pagi yang menyegarkan.
"Kamu gak mandi, An?" tanya Dara saat menyusul Anne keluar dari kamar. Ia menyandarkan tubuh di pagar pembatas tersebut, membelakangi mentari yang sedang tersenyum.
"Hmmm ... sebentar lagi," ucap Anne tanpa membuka kelopak matanya. Ia masih asyik menikmati kehangatan sang mentari.
Hampir lima belas menit, kedua wanita itu berada di sana. Setelah dirasa cukup, pada akhirnya mereka berdua kembali ke kamar, "An, kamu duluan saja, aku mau ke kamar mandi sebentar," pamit Dara sebelum masuk ke kamar mandi.
Pintu kamar tertutup kembali setelah Anne keluar dari kamar. Ia harus mandi dan bersiap untuk sarapan bersama. Mungkin, pagi ini om Rudi pun belum bangun dari tidur nyenyaknya.
Anne tiba-tiba saja menghentikan langkah saat melewati ruang keluarga di lantai dua. Ia memicingkan mata untuk mengamati layar televisi yang menyala. Sepertinya bukan film atau program stasiun TV yang terputar di sana. Pada akhirnya Anne memutuskan untuk mendekat ke ruangan tersebut untuk memastikan keadaan di sana.
"Astaga!"
Anne tertegun setelah melihat sesuatu yang ada di di depan sofa. Kulit kacang, bungkus snack dan kaleng bekas minuman bersoda berserakan di atas lantai. Dua stik PS berada di atas dada kedua pria yang sedang tidur nyenyak di atas sofa.
"Jadi mereka berdua main PS sejak tadi malam?" Anne bergumam setelah melihat layar televisi yang menampilkan animasi lapangan bola.
"Ada apa, An?" tanya Dara setelah menghampiri Anne di ruang keluarga.
"Apa-apaan ini?" Dara terbelalak ketika melihat semua yang ada di ruang keluarga.
Dara menggeleng pelan ketika melihat ruang keluarga yang berubah menjadi sangat kotor. Ia berkacak pinggang ketika melihat pria tampan yang sedang tertidur pulas. Dara segera menghampiri suaminya itu, tatapan matanya tajam bagai pisau pemotong ayam.
"Say! Bangun!" ujar Dara setelah duduk di pinggir sofa. Ia mengambil stik yang ada di dada Juna dan diletakkan di atas meja.
"Bangun!" ujar Dara sekali lagi. Ia menepuk pipi suaminya beberapa kali.
Tak berselang lama, kelopak mata itu pun akhirnya terbuka lebar. Juna terkejut ketika melihat kehadiran sang istri di sana. Ia segera bangkit dan duduk bersandar di sofa seraya memijat pangkal hidungnya.
"Sekarang jam berapa?" tanya Juna dengan suara yang serak.
__ADS_1
"Jam delapan!" jawab Dara seraya menatap Juna, "kamu tidur di sini?" tanya Dara seraya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Juna mengamati keadaan di ruangan tersebut. Ia menatap sang mertua yang masih tertidur pulas. Juna mencoba mengingat apa saja yang sudah ia lakukan bersama om Rudi sejak tadi malam.
"Aku dan Papi tidur saat waktu subuh tiba," ucap Juna seraya menatap Dara.
Ya, tadi malam setelah bosan membahas perusahaan. Om Rudi dan Juna memutuskan untuk bermain PS. Kedua pria tersebut tidak bisa tidur hingga menjelang pagi. Mereka berdua memutuskan untuk bermain game sepak bola, agar rasa kantuk segera hadir. Namun, pada kenyataannya permainan terus berlanjut hingga pagi. Saat subuh tiba, mereka berdua dilanda rasa kantuk yang begitu hebat dan beginilah akhirnya, ruang keluarga menjadi kacau.
"Siapa yang menghabiskan kacang ini?" tanya Anne seraya mengangkat toples yang berisi beberapa sisa kacang kulit.
"Aku dan Papi lah! Tapi aku yang banyak menghabiskan, Papi tidak berani," ucap Juna dengan tegas.
Anne memicingkan mata setelah mendengar penjelasan Juna. Ia tidak percaya jika suaminya itu hanya makan sedikit. Apalagi, Anne sendiri tahu jika kacang adalah makanan kesukaan suaminya.
"Awas saja jika asam uratnya kambuh!" Anne bergumam setelah terdiam beberapa detik.
Dara mengajak Juna pindah ke kamarnya. Mungkin, Dara akan memberikan tausiah pagi kepada suaminya itu, karena membiarkan om Rudi menghabiskan kacang sebanyak itu. Sementara Anne, masih berusaha membangunkan suaminya yang tertidur pulas.
Kalimat itulah yang terucap dari bibir om Rudi setelah Anne berusaha membangunkan beliau. Mungkin, om Rudi belum sadar sepenuhnya karena kelopak mata itu masih tertutup rapat.
"Mas! Bangun!" Suara Anne lebih tinggi dari sebelumnya. Ia tak henti menepuk pipi om Rudi.
Kelopak mata itu segera terbuka setelah Anne mengguncang bahu tersebut. Om Rudi segera bangkit dari tempatnya setelah melihat kehadiran Anne. Stik PS pun pada akhirnya jatuh di lantai.
"Sayang, katanya tidur bersama Dara, kenapa kembali ke kamar ini?" tanya om Rudi seraya mengembangkan senyumnya. Namun, kelopak mata itu sepertinya enggan untuk terbuka.
"Ngigau ini orang!" ujar Anne dengan suara yang lirih.
Om Rudi gelagapan setelah merasakan tepukan keras di lengannya. Mata minimalis itu terbelalak setelah melihat tatapan tajam sang istri, "ada apa, Sayang?" tanya om Rudi.
"Kenapa Mas makan kacang sebanyak itu?" tanya Anne seraya menunjuk lantai yang kotor.
__ADS_1
Om Rudi menggeleng pelan setelah mendengar pertanyaan sang istri, "tidak! Suaminya Dara yang menghabiskan kacangnya," kilah om Rudi seraya menatap om Rudi.
"Mas pikir aku percaya gitu? Juna bukanlah penyuka kacang!" sarkas Anne seraya tersenyum smirk.
"Awas saja kalau setelah ini mengeluh sakit!" ancam Anne tanpa melepaskan pandangan dari sang suami.
Om Rudi tersenyum tipis setelah mendengar ancaman sang istri. Sebuah senyuman untuk menutupi keraguan yang merasuk ke dalam pikiran dan hati. Om Rudi hanya berharap jika kadar asam urat dalam tubuhnya tetap stabil.
"Tenang saja! Kekhawatiran kamu tidak akan terjadi, Sayang," ujar om Rudi dengan yakin.
Setelah mengeluh karena tidak bisa tidur hingga pagi, Om Rudi mengajak Anne masuk ke kamar. Hari ini beliau harus ke kantor untuk penandatanganan kontrak kerja dengan client.
"Aduh!" keluh om Rudi setelah berdiri dari sofa.
"Kan! Kan! Kan! Apa aku bilang! Asam urat kan!" ujar Dara seraya menatap om Rudi.
Om Rudi hanya bisa mendesis saat merasakan ngilu di persendian kakinya. Bisa dipastikan jika kebohongannya terbongkar sebentar lagi. Drama yang sudah beliau susun sejak tadi malam pun terbongkar karena kadar asam urat yang tidak bisa dibohongi. Tadi malam om Rudi sudah merunding menantunya, untuk mengatakan jika dialah yang menghabiskan kacang-kacang tersebut.
"He, he ... nanti pasti hilang setelah minum obat," ucap om Rudi dengan diiringi senyum tipis.
"Coba sekarang jalan ke kamar! Aku pengen lihat, kira-kira bisa jalan normal gak tuh!" titah Anne yang sedang bersedekap di sofa.
Tidak ada pilihan lain untuk om Rudi. Beliau harus berjalan seperti biasa agar tidak mendengar tausiyah panjang dari sang istri. Pria matang itu harus menahan rasa sakit di pergelangan kaki saat mulai melangkah.
"Gitu katanya gak sakit! Jalan seperti pinguin gitu kok! Maka dari itu nurut kalau dikasih tahu dokter! Gak usah makan kacang, ya, tidak usah dimakan dong!" Inilah awal tausiyah pagi yang diucapkan oleh Anne. Bisa dipastikan jika setelah ini tausiyah tersebut semakin lama.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Nah loh! Kena kan😁 Oh ya, btw kalau othor ngadain give away pulsa bulan depan, ada yang mau ikutan gk nih? insyaallah juara 1 pulsa 50k😆kuy komen!...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1