
"Hati-hati, Sayang," ucap om Rudi saat berjalan menapaki anak tangga di teras rumahnya.
Setelah dirawat di rumah sakit selama sepuluh hari, pada akhirnya Anne diperbolehkan pulang. Dokter menyatakan jika Anne sembuh total. Virus yang menyerang tubuhnya telah mati. Mungkin setelah ini kekebalan tubuh Anne jauh lebih kuat dari sebelumnya. Pemulihan pasca melahirkan pun cukup baik, tinggal bagaimana Anne bangkit dari keterpurukan yang masih terasa.
Beberapa jam yang lalu atau lebih tepatnya setelah pulang dari rumah sakit. Sepasang suami istri itu mampir sejenak ke tempat pemakaman umum. Anne ingin melihat langsung makam putrinya. Kesedihan yang mendalam telah dirasakan wanita cantik itu, setelah melihat gundukan tanah yang masih baru.
"Aku sudah menyiapkan kamar di lantai satu. Untuk sementara kita tidur di kamar tamu saja," ucap om Rudi setelah sampai di ruang keluarga. Beliau duduk bersandar di samping Anne.
"Iya, terserah Mas saja," jawab Anne dengan suara yang lirih.
Anne kehilangan semangat dalam hidupnya. Menerima kenyataan dengan ikhlas, nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Anne tetap menitikkan air mata setiap melihat foto bayi ataupun suara tangisan bayi.
"Ayo, kita istirahat ke kamar!" ajak om Rudi setelah melihat sang istri hanya diam saja dengan tatapan kosong.
Tanpa mengucap sepatah katapun, Anne beranjak dari tempatnya. Ia berjalan di sisi om Rudi menuju kamar tamu. Semua ini sudah disiapkan om Rudi sejak beberapa hari yang lalu. Beliau sengaja pindah kamar untuk sementara sampai kondisi Anne pasca melahirkan benar-benar pulih.
"Mau dipijat?" Tanya om Rudi setelah membantu sang istri merebahkan diri di atas ranjang.
"Enggak usah. Mas tidur saja di sini." Anne menepuk bantal yang ada di sisinya.
Om Rudi mengembangkan senyumnya setelah mendengar ucapan sang istri. Beliau berjalan memutari ranjang dan segera naik ke atas ranjang. Pria matang penuh rasa itu, meraih tubuh sang istri. Rasa rindu selama beberapa hari di rumah sakit, membuat om Rudi tak melepaskan dekapannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?" tanya om Rudi setelah keheningan menyapa selama beberapa menit.
"Tidak ada, Mas," ucap Anne tanpa mengubah posisinya. Ia membenamkan wajah di dada bidang yang nyaman itu.
"Yah ...." Om Rudi terlihat kecewa, "padahal Mas sangat berharap kamu pikirkan," kelakar om Rudi dengan diiringi tawa lirih.
Anne tersenyum tipis setelah mendengar suaminya berkelakar. Ia menatap wajah tampan itu untuk sekilas, "apaan sih, Mas," gumam Anne.
__ADS_1
Om Rudi terus berusaha menghibur sang istri. Beliau tak henti berkelakar hingga membuat Anne bisa tertawa lepas. Baru kali ini om Rudi mendengar suara gelak tawa sang istri, setelah beberapa hari dilanda hujan tangis.
"Sayang, kamu mau liburan kemana setelah pulih?" tanya om Rudi tanpa menghentikan belaian tangan di rambut Anne.
"Aku mau keliling Eropa," jawab Anne tanpa berpikir lama.
"Kalau keliling Eropa, satu bulan rasanya tidak cukup, Sayang," ucap om Rudi.
"Kita pikirkan nanti saja kalau begitu. Aku mau tidur." Anne bergumam lirih seraya mengeratkan tubuhnya.
Om Rudi mengecup puncak rambut sang istri beberapa kali. Rasa kantuk pun mulai melanda om Rudi, pada akhirnya, sepasang suami istri itu terlelap tanpa melepaskan tautan tubuh. Alam mimpi yang indah telah menyambut kehadiran mereka berdua.
...♦️♦️♦️♦️...
Sang mentari mulai menampakkan diri untuk memberikan kehangatan kepada semua makhluk. Senyum mentari berhasil memudarkan warna gelap yang sempat menghiasi cakrawala.
"Tunggu di sini sebentar! Aku akan mengambil makanan di dalam," pamit om Rudi setelah membantu Anne duduk di kursi kayu yang ada di teras belakang.
Anne mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tak terasa, senyum Anne mengembang begitu saja setelah melihat beberapa tanaman yang tertata rapi di sana. Entah, sejak kapan teras belakang berubah penampilan menjadi seperti saat ini.
"Apa yang sedang kamu lihat, Sayang?" tanya om Rudi setelah kembali ke sana. Beliau membawa nampan yang berisi sarapan untuk mereka berdua.
"Siapa yang membuat teras ini lebih asri?" tanya Anne tanpa mengubah pandangannya.
"Bi Una dan yang lainnya," ucap om Rudi, "ayo kita sarapan dulu!" ajak om Rudi setelah duduk di kursi lain.
Sekali lagi, Anne tersenyum tipis saat mendapatkan perhatian dari om Rudi. Pria matang itu dengan telaten menyuapi istrinya, membiarkan makanan untuknya masih utuh di atas nampan.
"Terima kasih, ya, Mas," ucap Anne setelah menelan makanannya.
__ADS_1
"Terima kasih untuk apa?" tanya om Rudi dengan suara yang lirih.
"Karena Mas sudah memperlakukan aku dengan sangat baik. Mas perhatian, tanggung jawab, mengerti dan menyayangi aku," ucap Anne dengan mata yang berembun.
Om Rudi hanya bisa tersenyum setelah mendengar ucapan sang istri. Ada rasa hangat yang menjalar dalam hati ketika melihat ketulusan Anne saat mengucapkan semua itu.
"Sudah kewajibanku memberikan semua itu kepadamu, Sayang. Justru aku yang harus minta maaf karena belum bisa memberikan kamu lebih dari semua ini," ucap om Rudi setelah meletakkan piring kosong di atas meja. Lalu beliau meraih piring yang penuh dengan makanan.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, karena semua yang kamu rasakan adalah hakmu. Kamu boleh meminta jika memang semua ini masih kurang." Om Rudi tersenyum tipis seraya menatap sang istri dengan binar cinta.
Obrolan ringan terdengar di sana untuk mengiringi sarapan om Rudi. Pagi ini dilalui sepasang suami istri itu dengan bersantai di teras belakang. Suara gelak tawa pun sesekali terdengar di sana. Om Rudi tak henti menghibur istrinya agar kembali ceria seperti mentari pagi.
"Mas tidak ke kantor?" tanya Anne seraya menatap om Rudi, "sudah lama loh Mas gak ke kantor," lanjut Anne.
"Gak ah! Ngapain Mas ke kantor! Ada Pras dan para staf yang berkompeten," ucap om Rudi dengan entengnya.
"Gak boleh gitu, Mas! Kalau pemimpinnya malas, bagaimana dengan anak buahnya coba?" protes Anne tanpa mengalihkan pandangan dari suaminya.
"Nanti Pras akan kesini mengantar proposalnya," ucap om Rudi seraya menyeruput secangkir capuccino.
Anne tak melanjutkan pembahasan itu. Ia beralih membahas perihal yang lain. Mulai hari ini, Anne bertekad untuk bangkit dari keterpurukan. Bukankah masih ada kesempatan untuk hamil dan menimang anak lagi? Itulah yang ada dalam pikiran Anne saat ini.
Meski berat, Anne terus berusaha untuk melupakan semua peristiwa yang sudah ia alami. Anne tidak mau lagi menyalahkan keadaan yang membuatnya merasakan semua ini. Menerima takdir Sang Kuasa jauh lebih baik, daripada terus terpuruk dalam lautan duka yang tidak ada habisnya.
"Ayo kita masuk, Mas! Mataharinya mulai ganas nih! Panas!" ajak Anne setelah berdiri dari kursinya.
...🌷Selamat Membaca 🌷...
...Maaf ya kemarin gak up🙏Riweh bet di RL😢...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...