Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Kelelahan.


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, karena waktu tidak pernah berhenti meski lelah. Sepuluh hari telah berlalu begitu saja. Setelah menginap di kediaman Dara dan Juna selama satu minggu lebih, om Rudi dan Anne harus kembali ke Jakarta. Meskipun berat, Anne harus ikut pulang bersama sang suami.


"Hati-hati di jalan, Pi," ucap Dara sebelum mobil ayahnya melenggang dari halaman rumah.


"Papay ...." teriak Anne dari dalam mobil.


Setelah mobil tersebut keluar dari halaman rumah. Anne segera menutup kaca yang ada di sisinya. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi. Senyum manis mengembang dari kedua sudut bibirnya karena masih teringat momen lucu bersama Kiran.


"Tidurlah! Perjalanan masih panjang!" ujar om Rudi seraya mengusap rambut Anne dengan lembut.


Sang mentari masih malu untuk menampakkan diri di cakrawala timur. Mungkin di luar mobil udara dingin kota kembang itu pasti begitu terasa. Om Rudi memejamkan mata untuk beristirahat selama dalam perjalanan kembali ke Jakarta.


"Aduh!"


Tiba-tiba saja Anne mengeluh setelah keheningan di dalam mobil terasa selama tiga puluh menit. Anne mengusap perutnya beberapa kali, karena tiba-tiba saja merasakan nyeri di bagian perut bawahnya.


"Kenapa, Sayang?" tanya om Rudi setelah membuka kelopak matanya.


"Nyeri, Pi!" Anne menggigit bibirnya karena rasa sakit itu.


"Pak, setelah keluar dari tol, segera arahkan ke rumah sakit terdekat!" titah om Rudi seraya menatap sopirnya.


"Tahan dulu ya, setelah ini kita akan mencari rumah sakit terdekat," ucap Om Rudi seraya mengusap perut Anne.


Perjalanan terus berlanjut hingga menghabiskan waktu selama beberapa jam sampai di pintu keluar tol terdekat. Seperti perintah dari sang majikan, pak Botak mengarahkan setir mobilnya ke rumah sakit terdekat.


"Sayang, kita sudah sampai." Om Rudi membangunkan Anne yang sedang tidur.

__ADS_1


"Kita di rumah sakit mana ini?" tanya Anne sambil mengerjapkan mata.


"Sudahlah, kita keluar dulu, yuk! Kita cek kandungan," gumam om Rudi.


Anne segera keluar dari mobil setelah om Rudi membukakan pintu untuknya. Gurat kekhawatiran terlihat di wajah pria matang itu, karena takut terjadi sesuatu dengan kandungan sang istri. Mereka berdua masuk ke dalam IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"Silahkan Bapak tunggu di luar, kami akan melakukan pemeriksaan," ucap seorang suster setelah om Rudi dan Anne berada di luar.


Om Rudi hanya bisa mengikuti perintah tersebut. Beliau duduk di ruang tunggu yang ada di depan IGD. Beliau sangat berharap tidak terjadi apapun kepada istri dan calon buah hatinya. Cukup lama om Rudi menunggu di sana, pada akhirnya beliau kembali masuk ke dalam IGD setelah seorang suster memanggilnya.


Pemeriksaan Anne telah selesai. Dokter menjelaskan jika Anne terlalu lelah. Maka dari itu, perutnya mengalami kram. Istirahat yang cukup dan minum vitamin adalah cara penyembuhan untuk Anne, karena dokter tidak menyarankan untuk opname.


"Ini ada resep vitamin untuk Nyonya," ucap dokter setelah melakukan konsultasi. Beliau menyerahkan resep tersebut kepada Anne.


Setelah semua urusan selesai di IGD, Anne dan om Rudi berjalan menuju apotek di rumah sakit ini. Om Rudi sebenarnya sangat malas untuk antre obat seperti saat ini, akan tetapi beliau harus menerima keputusan sang istri. Anne ingin segera mendapatkan obat pemberian dokter.


"Mas, aku ke kamar mandi dulu, ya," pamit Anne setelah sampai di depan apotek rumah sakit.


"Tidak usah, Mas! Itu kamar mandinya!" Anne menunjuk toilet yang tidak jauh dari apotek.


Anne harus menunggu antrean di kamar mandi wanita, karena kamar mandi tersebut hanya ada dua bilik dan semuanya sudah terisi. Tidak lama setelah itu, satu pintu kamar mandi terbuka, terlihat seorang wanita muda keluar dari sana. Wajahnya terlihat pucat dengan tubuh yang dipenuhi beberapa ruam merah.


"Hati-hati, Kak!" Anne meraih tangan wanita tersebut karena wanita tersebut sempoyongan dan akan jatuh.


"Terima kasih, Kak. Kalau tidak kakak bantu, mungkin kepala saya akan benjol karena benturan tembok," ucap wanita tersebut seraya tersenyum tipis.


Anne membantu wanita tersebut berdiri tegak. Ia tidak perduli meskipun tangannya menyentuh kulit yang dipenuhi ruam dan bintik merah itu. Setelah membantu wanita tersebut keluar dari area kamar mandi, Anne segera masuk ke dalam bilik. Tak lupa ia mencuci tangan terlebih dahulu agar bersih dari kuman.

__ADS_1


Setelah berada di dalam kamar mandi selama beberapa menit, Anne segera keluar dan kembali ke tempat sang suami berada. Obat pun sudah didapatkan om Rudi, mereka berdua harus melanjutkan perjalanan sampai di tempat tujuan.


"Jika nanti sampai di rumah, jangan melakukan kegiatan apapun! Kamu harus istirahat," ujar om Rudi setelah masuk ke dalam mobil.


"Iya, Mas!" Anne tersenyum manis di hadapan om Rudi.


Mobil tersebut melenggang dari rumah sakit, kurang beberapa jam mereka akan sampai di rumah utama. Anne memutuskan tidur untuk memulihkan kondisi dan tenaganya. Terlalu lama duduk di mobil nyatanya berhasil membuatnya lelah. Apalagi, ditambah dengan rasa lelah saat berada di rumahnya Dara. Anne terus menggendong Kiran, karena ia sudah memberanikan diri untuk menimang cucunya itu.


Setelah berada di jalanan selama beberapa waktu, pada akhirnya mobil tersebut berhenti di halaman luas rumah megah itu. Om Rudi membantu sang istri keluar dari mobil. Mereka berdua berjalan beriringan menapaki satu persatu tangga di teras rumah.


"Kamu hari ini harus istirahat yang cukup. Jika butuh sesuatu tinggal telfon bi Sari. Jangan naik turun ke dapur," tutur om Rudi setelah berada di dalam kamar. Beliau memberikan kode kepada Anne agar merebahkan diri di atas ranjang.


"Memangnya Mas mau kemana?" tanya Anne setelah melihat om Rudi berjalan menuju walk in closet.


"Hari ini Mas harus ke kantor! Ada rapat penting yang harus Mas hadiri," jawab om Rudi tanpa menoleh ke arah sang istri.


Rasa nyeri itu kembali menyerang bagian bawah perut Anne. Ia memutuskan untuk istirahat sesuai arahan dokter. Merebahkan diri di atas kasur empuk, nyatanya bisa meredakan sedikit rasa nyeri di perutnya.


"Sayang, minum obatnya dulu!" ujar om Rudi setelah keluar dari walk ini closet dengan pakaian kerja.


"Nanti saja, Mas! Aku masih nyaman seperti ini!" ujar Anne tanpa membuka kelopak matanya.


Om Rudi sudah siap berangkat ke kantor. Beliau duduk di tepi ranjang untuk sekadar berpamitan kepada sang istri. Obrolan ringan terdengar di sana. Sepasang suami istri itu sedang membahas masalah rapat yang harus dihadiri om Rudi hari ini.


"Aku berangkat dulu, Sayang! Ingat apa kata dokter! Kamu harus banyak istirahat, oke!" ujar om Rudi seraya mengusap rambut sang istri, "aku akan menyuruh bi Sari mengantar makanan ke kamar untukmu," ujar om Rudi sebelum beranjak dari tempatnya.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...Maaf ya kemarin othor gk up😔Tadi malam othor pusing banget dah! Mau up tp gk bisa mikir otaknya🙏...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2