Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Kecurigaan Dara,


__ADS_3

Hari terus berganti, mengikuti putaran waktu yang tidak pernah berhenti. Langit yang gelap telah berubah menjadi terang karena sang raja sinar telah naik ke tahta. Angin berhembus mesra tuk menyegarkan kota yang padat ini.


"An, kita berangkat jam berapa, sih?" tanya Dara karena sejak tiga puluh menit yang lalu sahabatnya itu tidak beranjak dari depan meja rias.


"Lima menit lagi, Dar! Sabar dong!" jawab Anne yang masih sibuk mengoles blush on di pipinya.


"Ck!" Dara berdecak setelah mendengar jawaban dari Anne, "buruan!" ujar Dara setelah melihat arloji yang melingkar di tangannya.


Hari-hari tanpa warna telah dilalui Anne dengan hujan tangis yang tak pernah reda. Dua minggu pasca kepergian bu Ningrum, Anne mulai bangkit dari keterpurukan. Ia sadar jika terus-terusan seperti ini, maka Dara pasti curiga. Bahkan, putri sambungnya itu belum tahu jika dirinya tidak berhubungan lagi dengan Bagus.


"Yuk! Kita berangkat ke kampus!" ujar Anne setelah selesai memoles wajahnya dengan sapuan make up. Wajah imut itu terlihat lebih cantik karena sentuhan bedak dan teman-temannya.


Hari ini Anne dan Dara harus ke kampus karena ada persiapan yudisium. Kedua gadis itu segera turun menuju ruang makan karena sudah ditunggu oleh om Rudi untuk sarapan.


"Selamat pagi, Papi!" sapa Dara ketika melihat om Rudi sudah ada di sana.


"Pagi, Sayang." Om Rudi mengembangkan senyumnya ketika melihat kehadiran dua gadis yang sangat berarti dalam hidupnya.


Sekilas om Rudi menatap wajah cantik sang istri. Terbesit rasa tidak suka ketika melihat Anne tampil cantik saat pergi ke kampus. Padahal, dulu beliau tidak memikirkan hal itu. Entah mengapa kali ini ada rasa aneh yang menjalar dalam hati.


"Setelah dari kampus, kalian harus langsung pulang! Jangan mampir kemana-mana!" ujar om Rudi setelah menyelesaikan sarapannya.


Mendengar hal itu, Anne meletakkan sendoknya. Tatapan tidak suka terlihat jelas dari sorot matanya. Ia tidak suka saja jika aktivitasnya dibatasi oleh pria yang sudah sah menjadi suaminya itu meski belum sepenuhnya bisa memilikinya.


Sejak awal menikah hingga saat ini, om Rudi sedikitpun belum menyentuh Anne. Beliau tetap bersabar menunggu sampai Anne siap menyerahkan seluruh jiwa dan raganya. Lagipula sepasang suami istri itu tidak bisa bergerak bebas karena masih ada Dara yang terus mengikuti Anne. Dia seperti tidak bisa terpisahkan dengan sahabat yang sudah sah menjadi ibu sambungnya itu.


"Ih, Papi! Sepulang kuliah nanti Dara dan Anne mau shopping! Tumben banget Papi ngelarang kita!" protes Dara setelah menghabiskan sesuap nasi yang ada di dalam mulutnya.


Dara memicingkan matanya ke arah ayahnya itu. Ia seperti menerka apa kiranya yang membuat ayahnya mendadak melarangnya pergi, "oh! Dara tau! Pasti Papi mau jalan sama tante Rosa, ya! Papi takut ketahuan kami 'kan!" tuding Dara dengan pandangan yang tak lepas dari wajah papinya.

__ADS_1


Om Rudi hanya mengulum senyum saat mendengar tudingan dari putrinya. Beliau menatap Anne sekilas, istrinya itu hanya diam tanpa ekspresi apapun.


"Lebih baik kita berangkat sekarang, Dar!" ucap Anne setelah mengusap bibirnya dengan tissu yang tersedia di atas meja makan.


Setelah selesai sarapan mereka berdua berpamitan kepada om Rudi yang belum beranjak dari tempatnya. Darah Anne berdesir saat keningnya menyentuh punggung tangan itu. Padahal biasanya, ia biasa saja saat melakukan hal kecil ini dengan om Rudi.


"Saya berangkat dulu," pamit Anne sebelum menyusul Dara yang sudah berlalu dari ruang makan.


......................


Cuaca panas tengah melanda kota Jakarta. Hal itu menimbulkan rasa dahaga yang menyiksa tenggorokan. Setelah selesai mengurus beberapa keperluan sebelum yudisium nanti, Anne dan Dara mengayun langkah menuju cafetaria kampus.


"Buset! Ramai banget ini tempat!" ujar Dara saat menghentikan kakinya di tempat tersebut.


"Kita beli minuman kemasan aja lah, Dar! Terus nyantai di taman belakang," ucap Anne setelah menatap sekeliling cafetaria itu. Tidak ada tempat kosong untuknya dan Dara.


Akhirnya, kedua gadis cantik itu mengambil minuman kemasan yang ada di showcase dan tidak lupa membeli beberapa makanan ringan yang tersedia di sana.


"Entahlah, Dar! Aku sebenarnya udah pengen pergi dari sini! Ngantuk!" jawab Anne tanpa menatap Dara. Ia sedang menikmati tumbuhan hijau yang berjajar rapi tak jauh darinya.


Dara mengalihkan pandangannya ke samping. Ia tengah mengamati ekspresi wajah Anne yang tidak seperti biasanya. Dara merasa jika Anne lebih banyak murung akhir-akhir ini.


"An, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Dara setelah beberapa menit menatap wajah sahabatnya itu.


Anne mengalihkan pandangannya ke samping dan tidak lama setelah itu ia kembali menatap ke depan. Ia tidak sanggup menatap manik hitam Dara lebih lama. Sungguh, Anne sangat takut jika Dara mengetahui drama ini.


"Tidak ada, Dar! Memangnya kenapa?" tanya Anne seraya menundukkan kepalanya. Ia sedang mengamati kedua kakinya yang sedang mengayun ke depan dan ke belakang.


"Aku merasa jika akhir-akhir ini kamu aneh! Kamu lebih banyak diam dan tidak seperti biasanya! Apa kamu bertengkar dengan Bagus?" selidik Dara dengan pandangan yang tidak beralih dari Anne.

__ADS_1


Pertanyaan yang dilayangkan Dara berhasil membuat hatinya bergemuruh. Bulir air mata lolos begitu saja saat wajah manis itu terlintas dalam ingatan. Anne kembali merasakan sakit di dada ketika mengingat semua yang ia lakukan kepada pria tak berdosa yang pernah menjadi kekasih itu.


"Aku sudah berpisah dengan Bagus, Dar!" ucap Anne dengan iringan air mata yang mengalir deras. Ia menatap Dara yang sedang tertegun karena pengakuan darinya.


Dara menggeleng pelan, ia tidak percaya jika kisah romantis sahabatnya harus kandas di tengah jalan. Bahkan, ia terlambat mengetahui semuanya, "tidak mungkin, An! Kalian saling mencintai! Tidak mungkin kalian mengakhiri hubungan begitu saja!" sangkal Dara.


Anne semakin terisak mendengar jawaban dari Dara. Ia bingung karena belum mempunyai alasan yang tepat jika Dara bertanya lebih lanjut setelah ini.


"Kenapa, An? Apa Bagus selingkuh?" selidik Dara sambil menepuk bahu Anne yang bergetar.


Anne menggeleng pelan setelah mendengar pertanyaan itu, "Bagus tidak bersalah, Dar. Aku yang memutuskan dia! Aku yang jahat kepada dia!" ujar Anne sambil menahan gemuruh yang ada dalam dada.


"Aku tidak pantas untuk menjadi pasangan Bagus! Aku kotor, Dara! Aku kotor!" ujar Anne dengan suara yang lirih. Air mata pun semakin mengalir deras.


Dara semakin bingung mendengar pengakuan dari sahabatnya itu. Ia tidak mengerti maksud pengakuan yang membuat dadanya berdebar tak karuan. Praduga demi praduga terus bermunculan saat menunggu Anne sampai puas menguras air matanya.


"Aku sudah menjual diri demi biaya rumah sakit ibuku!" ucap Anne dengan suara yang lirih setelah keadaannya tenang.


Dara terkesiap mendengar hal itu. Ia tidak percaya jika Anne akan melakukan tindakan itu. Dara ikut menitikkan air mata saat meliha kehancuran dari sorot mata sahabatnya itu.


...🌹Selamat membaca🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Selamat siang menjelang sore bestie😍 Nih, othor Ada rekomendasi bagus untuk kalian. Kuy buruan kepoin karya author Neng Syantik dengan judul PANDAWA (PESONA JANDA ANAK DUA).


Baca judulnya aja udah bikin kepo kan??? Kuy buruan cari novelnya❤️

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2