
Waktu makan siang telah habis, waktunya kembali melakukan aktifitas di kantor. Semua kembali ke tempat masing-masing untuk mengahadapi pekerjaan yang tidak akan pernah ada habisnya.
Wajah berseri serta rambut yang belum kering sepenuhnya, menemani Anne keluar dari ruangan owner perusahaan ini. Make-upnya terlihat masih on, hal itu semakin membuatnya terlihat lebih fresh. Senyum manis mengiringi Anne saat masuk ke dalam ruangannya, sampai Risa dibuat heran.
"An, kamu sehat 'kan?" Risa sampai tak berkedip saat melihat Anne duduk di tempatnya.
"Tentu, Bu. Saya sangat ... sangat ... sangat sehat!" jawab Anne dengan suara yang lirih.
Jiwa-jiwa kepo Risa mulai meronta, ia mulai penasaran ada apakah sebenarnya di antara bosnya dan Anne? Karena beberapa kali Risa melihat tatapan genit di antara Anne dan pak Rudi.
"An, kamu sebenarnya ada hubungan apa sih dengan pak Rudi?" Akhirnya Risa menanyakan hal itu untuk mengobati rasa penasarannya.
Anne terkejut mendapat pertanyaan itu dari seniornya. Namun, tidak lama setelah itu, ia kembali bersikap tenang, "Pasti bu Risa sudah tahu dong, hubungan saya sama pak Rudi!" jawab Anne seraya menatap Risa dengan iringan senyum manis.
"Setahu saya, kamu adalah anak angkatnya pak Rudi sih!" Risa terlihat tidak puas tentang status itu, "tapi masa iya sih?" Risa menatap Anne dengan intens.
Risa memicingkan mata, mencoba mengamati penampilan Anne saat ini. Risa langsung membekap mulutnya setelah sadar jika rambut Anne terlihat basah. Pikirannya mulai berkelana jauh, membayangkan sesuatu yang sudah terjadi di dalam ruangan tersebut.
"Kamu habis ngapain di ruangannya pak Rudi? Jangan-jangan kamu ...." Risa menghentikan ucapannya karena telepon yang ada di mejanya berdering.
Risa segera mengangkat telfon tersebut. Tidak lebih dari satu menit, Risa meletakkan kembali gagang telfon tersebut di tempatnya. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju rak penyimpanan berkas penting.
"An, tolong berikan berkas milik PT. ARB ke ruangannya pak Pras. Saya mau mencarikan data-datanya dulu di laptop," ucap Risa setelah menyerahkan map hijau kepada Anne.
Anne segera membawa berkas tersebut ke ruangan Pras. Tak lupa ia merapikan rambutnya sebelum masuk ke dalam ruangan yang tertutup rapat itu. Anne mengembangkan senyumnya sebelum membuka pintu ruangan tersebut.
"Selamat siang, Pak Pras," ucap Anne setelah masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Selamat siang," jawab Pras seraya menatap Anne. Ia harus menahan senyumnya saat melihat rambut Anne yang masih basah itu.
__ADS_1
Pras bisa menebak jika istri bosnya itu baru saja menyelesaikan pekerjaan penting di ruangan yang ada di sisi ruangannya. Menjadi sekretaris pribadi plus-plus membuat tugas Anne semakin banyak.
"Pak ... Pak Pras!" Pras tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara Anne beberapa kali.
Pras beranjak dari tempatnya saat ini, ia berdiri di hadapan Anne untuk menerima berkas yang diberikan oleh istri bosnya itu, "terima kasih," ucap Pras dengan diiringi senyum tipis.
Anne tertegun melihat Pras tersenyum kepadanya. Sungguh, momen ini jarang sekali terjadi. Asisten pribadi suaminya itu hampir tidak pernah tersenyum, meski ada hal lucu sekalipun.
"Sama-sama, Pak," ucap Anne setelah keluar dari ruangan tersebut.
Setelah selesai melakukan tugasnya, Anne segera kembali ke ruangannya. Ia membantu Risa melakukan pengecekan data dari PT. ARB karena akan ada pertemuan sore ini terkait masalah kontrak yang akan ditandatangani kedua belah pihak.
"Bu, apakah PT. ARB sering bekerja sama dengan perusahaan ini?" tanya Anne setelah membaca data-data yang diberikan oleh Risa.
"Iya, setiap ada proyek besar PT. ARB selalu meminta bekerja sama dengan kita," jawab Risa tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Waktu begitu cepat berlalu, kini tibalah pertemuan bersama owner PT. ARB. Seperti biasa, Anne dan Pras yang menemani om Rudi di dalam ruang pertemuan. Anne mendengarkan setiap keputusan yang diambil kedua belah pihak, pertemuan itu terus berlangsung sampai kedua owner perusahaan itu membubuhkan tanda tangan di surat perjanjian dan surat kontrak kerja sama.
"Semoga kerja sama kita terus berjalan lancar, Pak," ucap pak Damar dengan diiringi senyum tipis.
"Saya pun berharap begitu," ucap om Rudi setelah melepaskan tangannya dari tangan pak Damar.
Setelah membahas hal-hal yang penting, kedua pria matang itu melanjutkan obrolan untuk membahas hal-hal yang lain. Anne segera menutup laptopnya karena tugasnya sudah selesai. Ia hanya diam sambil mendengarkan obrolan unfaedah yang berlangsung di rungan itu. Senyum manis pun tak pernah sirna dari bibirnya.
"Pak, saya enggak dikenalin sama sekretaris baru ini?" tanya pak Damar setelah menatap Anne yang sedang mengembangkan senyum.
"Tidak. Saya tidak akan mengenalkan dia kepada siapapun. Kali ini saya jadi bos yang posesif," ujar om Rudi dengan diiringi senyum tipis.
Mendengar hal itu, entah mengapa, Pras mendadak geram dengan pak Damar. Bukan karena ia suka kepada Anne, tapi setelah ini om Rudi pasti akan menambah pekerjaannya—mengurus hal yang tidak penting karena rasa cemburu.
__ADS_1
"Wah ... sepertinya Anda lumayan posesif. Pasti tidak mudah untuk mendapatkan restu dari Anda untuk mendekati dia," ucap pak Damar tanpa melepaskan pandangannya dari Anne.
Om Rudi mencoba menahan diri setelah mendengar hal itu. Saat ini, beliau hanya ingin Anne pergi dari ruangan ini agar beliau bisa mengontrol emosi. Siapa yang rela jika istrinya dipandang oleh pria lain?
"An, tolong bersihkan ruangan saya! Tadi banyak kertas yang berserakan di atas meja!" ujar om Rudi seraya menatap Anne penuh makna.
"Baik, Pak." Anne segera beranjak dari tempatnya saat ini, tak lupa Ia membawa laptop tersebut dari ruangan itu.
"Saya suka dengan kepribadian sekretaris Anda, Pak. Selain ramah, dia pun cukup sexy dan cantik," ujar pak Damar dengan diiringi senyum yang manis.
Pras tahu jika saat ini om Rudi kesal dengan koleganya itu. Om Rudi semakin gusar karena pak Damar terus membahas Anne. Sepertinya pria matang itu pun tertarik kepada Anne, terbukti beberapa kali beliau tersenyum saat menyebut nama Anne.
"Sebenarnya, nama yang sejak tadi Anda sebut itu adalah istri saya, Pak Damar." Akhirnya, om Rudi mengakui status pernikahannya hingga membuat pak Damar tertegun, "Saya dan Anne sudah menikah sejak beberapa bulan yang lalu, tapi dia adalah wanita keras kepala. Dia terus memaksa bekerja meskipun saya sudah melarangnya." Om Rudi mencoba bersikap biasa saja saat menceritakan hal itu di hadapan pak Damar.
Tentu saja, pengakuan yang diungkap om Rudi berhasil membuat pak Damar bungkam. Bahkan, pria matang itu merasa bersalah karena terlanjur memuji istri koleganya itu.
"Saya minta maaf, Pak Rudi. Saya tidak tahu jika wanita itu tadi adalah istri Bapak. Sekali lagi, saya minta maaf atas sikap saya," ucap pak Damar tanpa melepaskan pandangan dari om Rudi.
...🌷Selamat membaca🌷...
...Apapun yang terjadi, ingat satu hal, Bestie!! Tidak ada pelakor dan pebinor di sini! Harap tenang, okay!!...
➖➖➖➖➖➖❤️❤️❤️❤️➖➖➖➖➖➖
Kali ini othor mau merekomendasikan karya keren dari emak online othor nih😎Kalian wajib sewajib wajibnya baca karya dari author Komalasari dengan judul Jerat Asmara Sang Mafia. Mau cerita mafia yang bagus? Buruan baca yuk!😍
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1