Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Hadiah dari Papi,


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian,


Raut wajah bahagia terlihat dari wajah kedua wanita yang sedang menikmati makan malam bersama di ruang makan. Hal itu mengundang rasa penasaran seorang pria yang baru saja menyelesaikan makan malamnya. Om Rudi mencoba menerka apa kiranya yang membuat kedua wanita cantik itu begitu berseri.


"Apakah ada kabar baik yang sedang kalian sembunyikan?" tanya om Rudi sambil mengupas pisang yang ada di atas meja makan. Beliau telah menyelesaikan makan malamnya.


"Ada dua kabar baik untuk Papi," ucap Anne setelah setelah menelan makanan yang ada dalam mulutnya.


"Kalau begitu selesaikan dulu makan malam kalian, nanti kita bicara di ruang keluarga," ucap om Rudi.


Kedua manik hitam itu bergantian menatap wajah cantik kedua wanita yang duduk di hadapannya. Kedua sudut bibir itu tertarik ke dalam saat pandangannya bersirobok dengan Anne. Om Rudi terus mengamati Anne yang baru saja meletakkan sendok dan garpunya, setelah itu om Rudi melihat Anne mengambil pisang yang sama seperti beliau.


Segera om Rudi mengalihkan pandangan ke arah lain ketika melihat cara Anne melahap pisang tersebut. Om Rudi tahu jika saat ini sang istri tengah menggodanya lewat perantara pisang yang sengaja dimainkan di mulutnya.


"Papi tunggu di ruang keluarga!" Om Rudi memutuskan pergi dari ruangan makan sebelum Anne membuat senjata kebanggaannya menyesakkan segitiga perisainya.


Anne mengulum senyum mendengar hal itu. Ia sengaja menatap genit pria yang baru saja beranjak dari tempatnya. Setelah menjalani pernikahan selama beberapa bulan bersama om Rudi, Anne mulai bisa mengimbangi permainan sang suami. Mereka sudah terbiasa melakukan hubungan yang menguji adrenalin, maksudnya ... melakukan kegiatan ranjang dengan rasa was-was ketahuan Dara.


Selama beberapa bulan ini, sepasang suami istri itu menjalani drama dengan apik karena sampai saat ini, Dara belum mengendus hubungan mereka. Tentunya, om Rudi lah yang menyusun setiap rencana saat menghabiskan waktu di apartment.


"Ayo, An!" Dara beranjak dari tempatnya setelah menyelesaikan makan malamnya.


Anne mengekor di belakang Dara sambil membawa beberapa camilan yang sudah disiapkan di dalam toples kaca. Mereka berdua duduk di sofa yang ada di sisi kanan om Rudi.


"Sekarang ceritakan, apa yang membuat kalian berdua bahagia!" titah om Rudi setelah melihat Anne dan Dara duduk di sofa.

__ADS_1


"Jadi begini, Pi! Kabar baik yang pertama, Dara dan Anne masuk dua puluh besar mahasiswa lulusan terbaik di fakultas ekonomi," ucap Dara dengan diiringi senyum yang lebar.


"Waah! Papi bangga atas prestasi yang kalian dapatkan!" Binar bahagia terlihat jelas di wajah pria hampir setengah abad itu, "Terus berita keduanya apa?" om Rudi tidak sabar lagi untuk mendengar sesuatu hal yang disembunyikan putrinya.


"Dara sudah daftar dan diterima pendidikan pasca sarjana di ... University Of Tokyo!" teriak Dara seraya berdiri dari tempat duduknya. Ia menghambur ke tempat sang ayah.


"Selamat, Sayang! Papi bangga padamu!" ujar om Rudi seraya mengusap rambut putrinya.


Kebahagiaan tengah menyelimuti keluarga kecil itu. Namun, Anne hanya tersenyum dan menunjukkan kebahagiaannya sebatas seorang sahabat, ia tidak mau bersikap berlebihan yang bisa mengundang kecurigaan gadis yang sedang bermanja dalam dekapan penuh kasih sang ayah.


"Papi akan memberi kalian hadiah! Katakan! Hadiah apa yang kalian inginkan?" Om Rudi menatap Anne dan Dara bergantian.


"Dara ingin ganti mobil! Kalau bisa mobilnya dibawa ke Jepang biar Dara punya kendaraan di sana," ucap Dara, ia seakan sudah menyiapkan permintaan hadiah.


Anne tertegun mendengar hal itu. Bahkan, sedikitpun ia tidak memikirkan tentang hadiah atas prestasinya. Ia menatap Dara penuh arti, seakan sedang meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan dari om Rudi.


"Saya tidak minta apa-apa, Om," ucap Anne hingga membuat Dara menjauhkan diri dari ayahnya.


Dara beralih duduk di samping Anne. Apa yang ia dapatkan, Anne pun harus mendapatkan. Dara tidak suka jika Anne tidak meminta hadiah sama sekali kepada om Rudi.


"An, kamu harus minta hadiah! Papi itu juga orang tua kamu! Jangan sungkan, lah!" ujar Dara seraya menatap Anne, "maka dari itu, kalau disuruh ganti panggilan, nurut, dong! Udah aku bilang, kamu harus ikut manggil Papi, kok ya masih aja manggil Om!" gerutu Dara dengan pandangan yang tak lepas dari Anne.


Anne tersenyum getir mendengar hal itu. Tentu saja, ia tidak bisa menganggap om Rudi sebagai orang tuanya karena pria yang sedang menatapnya saat ini adalah suaminya. Anne merasa miris mendengar penuturan Dara yang tulus, ia bisa merasakan kasih sayang Dara kepadanya layaknya seorang saudara.


"Sudahlah, Dar! Aku tidak usah minta hadiah ke Om Rudi. Ada kalian di sisiku itu sudah cukup menjadi hadiah terindah," sergah Anne dengan diiringi senyum manis setelahnya.

__ADS_1


"Eitdah! Susah amat dibilangin!" Dara semakin gemas dengan sahabatnya itu, "Jangan panggil Om lagi! Ingat! Kamu harus manggil Pa ... pi! Papi, Papi dan Papi!" ujar Dara tanpa jeda.


Om Rudi tergelak karena mendengar ucapan Dara, beliau merasa geli saja tatkala mengamati wajah kikuk sang istri ketika Dara menyuruhnya untuk mengubah panggilan.


"Begini saja biar adil, Papi juga akan memberi Anne hadiah mobil. Terserah mau mobil apa, silahkan pilih di showroom mobil," ucap om Rudi setelah menyandarkan tubuh di sandaran sofa, "Ajaklah Anne pergi ke showroom, Dar!" titah om Rudi seraya menatap putrinya penuh arti.


Anne membelalakkan mata setelah mendengar hal itu. Ia tidak menyangka jika om Rudi akan memberinya hadiah kuda besi, "terima kasih, Om!" ucap Anne dengan mata yang berembun karena terharu, "Eh, Papi ... terima kasih Papi," ralat Anne setelah mendapatkan peringatan dari gadis yang ada di sisinya.


Om Rudi mulai membahas bagaimana ke depannya jika Dara berada di Jepang. Om Rudi akan mempersiapkan segalanya dan beliau pun akan menyiapkan rumah untuk Dara di sana, walau nanti cukup menyewa saja selama Dara menempuh pendidikan di sana. Mungkin setelah wisuda nanti mereka akan terbang bersama ke Jepang untuk mencarikan Dara tempat tinggal.


"Kapan kalian wisuda?" tanya om Rudi.


"Bulan depan, Pi!" jawan Dara dengan antusias, "Dara mau tampil yang terbaik pokoknya! Papi harus memanggil MUA terbaik agar kita terlihat lebih cantik," ujar Dara seraya menatap ayahnya.


"Tentu, Nanti kita akan foto bersama di studio setelah acara selesai," ucap om Rudi.


Ruang keluarga itu terasa hangat karena kebahagiaan yang sedang menyelimuti. Suara gelak tawa Anne dan Dara menggema di ruangan tersebut ketika berhasil menggoda om Rudi dengan candaan-candaan receh.


"Oh, iya, An! Setelah ini persiapkan dirimu, nanti Papi akan merekrut kamu sebagai sekretaris pribadi. Jadi, kamu yang bertugas menyiapkan segala keperluan pekerjaan dan mendampingi Papi saat ada pekerjaan ke luar kota. Nanti kamu dan Pras akan menemani Papi, kemanapun Papi pergi," ucap om Rudi penuh arti.


...🌹Selamat membaca 🌹...


...Terima kasih untuk emak-emak dan semua pembaca setia om Rudi dan Anne yang sudah setia mendukung karya ini❤️...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2