Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Encok 'kan!


__ADS_3

Kegelapan semakin pudar kala sang raja sinar mulai menampakkan diri di cakrawala timur. Kuasa sang raja benar-benar mampu menaklukkan malam yang gelap dan dingin. Segala aktifitas telah dimulai setelah semalam berlindung di bawah selimut dari hembusan angin malam.


"Tumben bener ini orang belum bangun!" Anne berdiri di sisi ranjang sambil berkacak pinggang.


Anne menatap heran pria yang masih tidur tengkurap di balik selimut tebal itu. Tidak seperti biasanya, om Rudi sampai terlambat bangun seperti ini. Anne segera duduk di tepi ranjang untuk membangunkan kembali suaminya itu.


"Pi, Papi! Ayo bangun, Pi!" ucap Anne sambil menepuk punggung itu.


"Hmmm! Papi sudah bangun!" jawab om Rudi tanpa mengubah posisinya, beliau masih tetap tengkurap dengan kelopak mata yang tertutup.


Anne mengernyitkan keningnya saat melihat sang suami tak segera bangkit dari tempatnya, karena takut terlambat ke kantor, pada akhirnya Anne beranjak dari tepi ranjang. Ia masuk ke dalam walk in closet untuk mencari pakaian kerjanya. Cukup lama Anne berada di ruangan tersebut untuk mempersiapkan diri agar terlihat sempurna.


"Loh! Masih tidur!" Anne terperangah tatkala melihat om Rudi masih berada di atas ranjang.


Ia mengurungkan diri keluar dari kamar, berjalan menuju sisi ranjang untuk melihat kondisi sang suami. Setelah duduk di sisi om Rudi, Anne mengulurkan telapak tangannya agar bisa menyentuh kening tersebut.


"Gak demam kok!" gumam Anne.


"Pi! Papi!" Sekali lagi Anne membangunkan om Rudi sambil menepuk lengannya beberapa kali.


"Hmmm!" Hanya itu saja yang diucapkan oleh om Rudi.


"Papi ini kenapa sih?" Anne heran melihat tingkah sang suami pagi ini.


Om Rudi mengangkat kepalanya agar bisa menatap Anne. Beliau meringis seperti menahan nyeri tak tertahankan. Perlahan beliau membalikkan tubuhnya dengan kelopak mata yang terpejam.


"Papi sakit?" tanya Anne.


"Enggak!" Om Rudi terlihat gusar, ingin menyampaikan sesuatu tapi terlihat ragu.


"Pi!" Anne menajamkan tatapan matanya karena tahu jika suaminya itu menyembunyikan sesuatu.


Om Rudi menaikkan selimutnya sampai menutupi seluruh tubuh. Hal itu semakin membuat Anne penasaran dibuatnya. Anne menunggu sampai sang suami mau mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Papi sakit pinggang! Nyeri!" ujar om Rudi tanpa membuka selimutnya. Beliau menyembunyikan wajah di balik selimut tebal itu.


Anne tertawa lepas saat mendengar pengakuan itu. Bukannya kasihan dan prihatin, Anne malah menertawakan kondisi sang suami. Apa yang ia khawatirkan tadi malam ternyata terjadi juga pagi ini.


"Jadi papi encok?" Anne memperjelas perihal itu.


"Enggak! Nyeri saja!" Om Rudi berkilah karena malu untuk mengakui.


Anne naik ke atas ranjang, ia menyibakkan selimut tebal itu untuk melihat wajah sang suami. Ia semakin tergelak saat melihat wajah merona om Rudi. Pria matang itu ternyata malu untuk mengakui perihal yang sempat diremehkan tadi malam.


"Kalau dikasih tau istri itu nurut dong, Pi! Kemarin saya kan udah bilang, bertempurnya gak usah berlebihan! Encok 'kan akhirnya!" Anne menatap wajah om Rudi yang sedang berpaling darinya.


"Papi gak encok! Hanya kurang minum air putih saja!" sergah om Rudi tanpa berani menatap Anne.


"Helleh! Udah lah, Papi ngaku aja! Udah ketahuan 'kan ternyata Papi udah tua!" ujar Anne dengan ekspresi wajah yang menyebalkan di wajah om Rudi.


"Serasa jompo yee 'kan!" kelakar Anne seraya turun dari ranjang.


Anne mengambil ponsel om Rudi yang sedang dicharger di rak televisi dan setelah itu ia kembali kesana untuk menyerahkan ponsel tersebut kepada sang suami.


Om Rudi mengikuti saran dari sang istri, beliau segera membuka kunci ponselnya untuk menghubungi dokter keluarga yang biasa dipanggil ke rumah ini. Tidak bisa dipungkiri jika om Rudi membutuhkan pemeriksaan dokter tersebut agar kembali beraktifitas seperti biasanya.


"Papi mandi dulu, gih! Nanti kalau dokter sudah datang biar terlihat rapi," ucap Anne setelah berdiri dari tempatnya saat ini.


"Bantu Papi berdiri!" Ekspresi wajah memelas om Rudi semakin membuat Anne ingin meledakkan tawanya kembali.


"Aaw!" Om Rudi merintih saat berhasil duduk di ranjang tersebut. Beliau mengatur napas dan posisi yang tepat agar tidak merasakan ngilu lagi.


Anne tak henti meledek suami matangnya itu setelah berhasil beranjak dari tempat tidur. Om Rudi sedikit membungkukkan tubuhnya saat berjalan menuju kamar mandi dengan bantuan Anne. Keadaan om Rudi yang berjalan tanpa memakai sehelai benang pun membuat tangan Anne tak henti mempermainkan pedang sakti itu agar kembali tegak seperti tadi malam.


"Anne! Hentikan! Jangan macam-macam!" ancam Om Rudi seraya menatap Anne dengan intens.


"Dih! Jangan galak-galak, Om! Nanti semakin encok, loh!" Anne berseloroh sebelum keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Setelah membantu om Rudi masuk ke dalam kamar mandi, Anne kembali ke ranjang untuk merapikan tempat tidur yang berantakan itu. Tempat tidurnya harus terlihat rapi dan bersih sebelum dokter Anang datang memeriksa suaminya.


"Haduh! Si Papi udah encok saja! Wah ... padahal menikah belum setahun ini!" gerutu Anne saat melipat selimut tebalnya.


Beberapa puluh menit kemudian, om Rudi keluar dari kamar mandi dengan bathrobe putih yang menutupi tubuhnya. Beliau berjalan dengan tubuh yang sedikit membungkuk karena menahan sakit.


"Pakaiannya sudah saya siapkan di sofa, Pi," ucap Anne saat melihat sang suami masuk ke dalam walk in closet.


Tak berselang lama, terdengar suara pintu yang diketuk. Anne bergegas membuka pintu tersebut dan ternyata bu Una yang berdiri di depan pintu itu, beliau hanya memberitahukan jika dokter Anang sudah menunggu di ruang tamu.


"Tolong bu Una antar ke kamar saja ya," ucap Anne dengan diiringi senyum yang manis.


"Baik, Nya." Bu Una segera pamit dan berlalu pergi.


Om Rudi keluar dari walk in closet dengan pakaian santai. Mungkin beliau tidak pergi ke kantor hari ini mengingat kondisinya tidak memungkinkan untuk duduk lama di kursi kebesarannya. Setelah om Rudi duduk di ranjang dengan tubuh yang disandarkan di headboard, dokter Anang pun akhirnya masuk ke dalam kamar tersebut. Beliau mulai melakukan pemeriksaan terkait dengan keluhan yang disampaikan oleh om Rudi.


"Sebaiknya untuk hari ini Bapak istirahat dulu di rumah dan jangan lupa minum air putih yang banyak ya, Pak," ucap dokter Anang setelah melakukan pemeriksaan.


"Apa rasa sakit ini akan hilang dalam waktu sehari, dok?" tanya om Rudi seraya menatap dokter Anang.


"Mungkin saja bisa, Pak. Tapi saya tidak menjanjikan hal itu ya, Pak, karena kondisi orang berbeda-beda. Jangan terlalu banyak melakukan aktifitas berat, Pak. Apalagi, sampai mengangkat beban terlalu berat," ucap dokter Anang sebelum menulis resep obat untuk om Rudi.


"Apa kondisi seperti ini bisa disebut dengan encok, dok?" tanya Anne. Ia penasaran saja dengan dugaannya tadi pagi.


"Ya, Nona benar. Biasanya keluhan yang dirasakan pak Rudi ini, pada umumnya disebut encok." Dokter Anang pun sedikit memberikan penjelasan kepada Anne dan om Rudi.


Anne terus mengulum senyum setelah mendengar penjelasan dari dokter. Ia menatap om Rudi dengan ekspresi wajah meledek hingga membuat om Rudi menatapnya dengan tatapan yang tajam.


"Silahkan saja kamu menertawakan saya, An! Lihat saja, setelah saya sembuh! Akan saya balas semua ejekan ini! Tunggu saja, pasti kamu tidak bisa jalan!" batin om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari Anne.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Mohon maaf sekali ya, Besti ... ternyata hanya mampu up satu bab aja😥Lagi riweh di rumah, saudara ada yang mau berangkat ke Baitullah, jadi othor kebagian sesi sibuk nih😎 Kalau memang bisa up dua bab, pasti othor up kok🙏...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2