Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Masih membeku,


__ADS_3

Demontrasi besar-besaran terjadi di wilayah lambung seorang wanita yang sedang berkelana di alam mimpi. Pasukan cacing terus meronta karena tidak mendapat asupan makanan. Demontrasi besar-besaran itu pada akhirnya membuahkan hasil.


Anne membuka kelopak matanya tatkala merasakan perih di ulu hati. Ia menatap jam dinding yang ada di kamar dan setelah itu ia melenguh karena penunjuk waktu masih berada di angka tiga. Masih terlalu pagi untuk bangun dan sarapan.


"Duh ngapain coba ini aki-aki pakai peluk-peluk segala!" gerutu Anne setelah melihat tangan om Rudi ada di atas perutnya. Perlahan ia mulai menyingkirkan tangan itu.


Rasa lapar tak tertahankan membuat Anne segera keluar dari kamarnya. Ia berjalan dalam suasana rumah yang temaram. Anne harus berusaha keras melawan rasa kantuknya saat menuruni satu persatu anak tangga.


"Aduh, makan apa sih enaknya," gumam Anne setelah sampai di dapur. Masak mie instan pun rasanya sangat malas.


Anne menatap deretan rak yang ada di dalam kulkas dua pintu seukuran almari itu. Ia mengamati bahan makanan yang ada di dalam sana. Makan buah sepertinya tidak cocok di saat seperti ini.


"Nah, ini ada selai," ucap Anne setelah menemukan selai kesukaannya. Ia mengambil selai tersebut dan membawanya ke meja dapur.


Setelah menutup pintu kulkas, Anne mencari roti yang tersimpan di dekat microwave. Ia mengambil beberapa lembar roti tawar spesial itu dan membawanya ke meja dapur.


"Lumayan ini mah buat menghentikan demo para cacing tak tahu waktu ini!" gumam Anne setelah mengoles roti tersebut dengan selai.


Tiga lembar roti akhirnya berhasil menghentikan demonstrasi para cacing. Anne menguap beberapa kali. Ia menundukkan kepala sampai keningnya menyentuh meja marmer itu. Rasa kantuk yang begitu hebat membuat Anne tertidur di dapur.


Menjelang subuh, semua ART di rumah ini sudah bangun dan bersiap melakukan tugas masing-masing. Seperti biasa, bi Sari sebagai ART yang mengurus dapur harus mempersiapkan segala bahan makanan yang diolah untuk sarapan kedua majikannya itu. Beliau terkejut setelah sampai di dapur yang temaram, berniat ingin mengambil bahan makanan yang tersimpan di kulkas, malah menemukan Anne tertidur di meja dapur.


"Nyonya ... nyonya muda ...." ucap bi Sari sambil menepuk lengan Anne.


Anne gelagapan setelah mendengar namanya dipanggil. Samar-samar pandangannya menangkap sosok wanita yang sangat familiar. Setelah kelopak matanya terbuka lebar, Anne terkejut karena berada di dapur.


"Loh, bi Sari?" gumam Anne.

__ADS_1


"Nyonya, tidur di dapur. Jadi, maaf jika saya membangunkan Nyonya," ucap bi Sari.


"Terima kasih ya, Bi. Saya kembali ke kamar dulu," pamit Anne sebelum berlalu dari dapur.


Setelah melewati satu persatu anak tangga, pada akhirnya Anne sampai di kamarnya. Ia membaringkan tubuh di sisi om Rudi. Rasa kantuk yang masih menguasai, membuat Anne begitu cepat terlelap.


Detik demi detik terus berjalan hingga tiba di persimpangan waktu. Warna gelap mulai pudar karena sang raja sinar mulai menampakkan keindahannya. Siluet kuning menghiasi cakrawala timur, tanda segala aktifitas sebentar lagi akan dimulai.


"Yess!" teriak om Rudi setelah membaca pesan dari Pras yang baru masuk di ponselnya. Suara om Rudi berhasil membuat Anne terkejut. Tidur lelapnya hilang sudah karena kehebohan sang suami.


"Apaan sih!" gerutu Anne dalam hatinya. Ia menatap punggung yang membelakanginya.


Pergerakan Anne saat turun dari ranjang membuat om Rudi mengalihkan pandangan. Wajah murung yang ditampilkan pria matang itu mendadak sirna hanya karena satu pesan dari Pras.


"Sayang ... Papi ada kabar baik pagi ini!" ujar om Rudi seraya menghampiri Anne. Beliau segera memeluk tubuh sang istri dari belakang. Beberapa kali beliau mengecup pundak sang istri.


"Masalah di kantor selesai. Pras berhasil menemukan Anton yang membawa kabur uang dalam proyek besar yang ada di Surabaya. Akhirnya ... semua masalah selesai! Pras memang bisa diandalkan!" ujar om Rudi dengan bangganya.


"Oh! Selamat!" jawab Anne singkat. Ia melepaskan tangan om rudi dari perutnya dan setelah itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Om Rudi mengusap wajahnya kasar setelah melihat sikap sang istri. Beliau lupa jika sang istri sedang merajuk. Masalah baru datang menghampiri dan sepertinya sulit untuk memecahkan masalah ini karena tidak mungkin beliau menyuruh Pras.


"Ya ampun! Menaklukkan istri yang marah lebih sulit daripada memburu Anton!" gerutu om Rudi seraya berkacak pinggang di sisi ranjang.


Rasa hangat dari pancaran sinar sang surya nyatanya tidak bisa mencairkan kebekuan di antara om Rudi dan Anne. Beberapa kali om Rudi mencoba berbicara dengan istrinya itu, akan tetap Anne hanya menjawab seperlunya saja dengan nada yang ketus.


"Saya berangkat ke kantor!" pamit Anne setelah selesai sarapan.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari sang suami, ia berlalu begitu saja dari ruang makan. Ia tidak perduli lagi kepada suami matangnya itu sebelum minta maaf dan menyadari kesalahannya.


"Salahku di mana ya? Padahal aku kan cuma gak mau diajak makan steak aja!" Om Rudi bergumam setelah Anne berlalu pergi.


Setelah berpikir panjang dan tidak menemukan di mana ujungnya. Pada akhirnya om Rudi memutuskan berangkat ke kantor. Beliau harus menyelesaikan masalah yang sempat terjadi kemarin. Pagi ini pun ada rapat bersama dewan direksi dan kabag di perusahaannya.


Sesampainya di kantor, Om Rudi tidak melihat kehadiran sang istri di ruangannya. Hal itu membuat om Rudi penasaran, beliau pada akhirnya bertanya kepada Risa di mana keberadaan sang istri.


"Anne sedang menyiapkan ruang rapat, Pak. Saya tadi sudah melarangnya tapi dia tetap memaksa," jawab Risa dengan gugup. Ia takut bosnya marah setelah tahu istrinya melakukan tugas itu.


Tanpa mengatakan sepatah katapun, om Rudi keluar dari ruangan Risa. Beliau masuk ke dalam ruangannya sendiri sebelum memimpin rapat pagi ini. Rapat dadakan bersama para orang-orang inti perusahaan ini sangatlah dibutuhkan agar tidak ada lagi kejadian seperti yang dilakukan oleh Anton.


Tepat pukul delapan pagi, rapat dimulai. Pras yang melakukan pembukaan rapat ini. Ia menyampaikan beberapa poin penting yang akan dibahas dalam rapat ini. Om Rudi sesekali melirik ke arah sang istri yang sedang sok sibuk di hadapan laptop. Padahal belum ada hal penting yang perlu dicatat sebagai notulensi rapat.


Gusar. Ya, itulah yang dirasakan om Rudi saat ini. Beliau tidak tahan melihat sikap dingin sang istri. Bibir yang sedang tersenyum manis itu, pada kenyataannya hanya sebagai pemanis. Sungguh, situasi ini membuat om Rudi kurang konsentrasi saat memimpin rapat.


"Hmmm ... sepertinya pak Rudi sedang ada masalah dengan daun mudanya." Pras bergumam dalam hati setelah mengamati om Rudi dan Anne beberapa kali.


...🌹Selamat membaca 🌹...


...Emang enak dicuekin istri🤣🤣🤣...


➖➖➖➖➖➖♥️♥️♥️♥️➖➖➖➖➖➖


Happy weekend gaiis 😍 Othor ada rekomendasi karya keren untuk menemani hari libur kalian nih🤣Kuy baca karya dari author Aveeiiii dengan judul CEO Dingin Kau Milikku.


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2