Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Nasihat Juna,


__ADS_3

Jepang.


Angin berhembus mesra di kala senja. Rona jingga terlukis indah di cakrawala barat, sebuah tanda jika mentari sebentar lagi akan kembali ke peraduan. Anne bergegas keluar dari taxy setelah sampai di depan gerbang tempat tinggal Dara.


Anne membuka gerbang yang tidak dikunci itu, ia pun melihat mobil Dara terparkir di halaman rumah. Bisa dipastikan jika Dara ada di dalam rumahnya. Anne mengayun langkah dengan koper kecil yang ditarik tangan kanannya. Ia menata hati sebelum bertemu dengan gadis yang sedang terluka hatinya karena sebuah status.


"Jadi, Juna ada di sini?" gumam Anne tatkala melihat sepatu sport berwarna putih ada di rak.


Anne termenung di depan pintu tersebut. Ia ragu tatkala tangannya mulai menyentuh bel yang ada di sisi pintu. Namun, tekadnya yang sudah bulat membuatnya segera menekan bel itu beberapa kali.


Irama jantung Anne berdegup tak karuan setelah mendengar suara kunci yang diputar. Ia gemetar karena takut Dara akan menolak kehadirannya. Anne semakin takut saat pintu tersebut sedikit terbuka.


"Kamu!" ujar Dara ketika melihat kehadiran Anne di depan pintu rumahnya.


"Pergi!" ujarnya lagi dengan ekspresi wajah yang masam, "untuk apa lagi kamu datang kemari? Sudah aku katakan 'kan jika aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" sungut Dara seraya mundur satu langkah dan bersiap menutup pintu itu.


Namun, Anne cukup cekatan menahan pintu tersebut. Ia berdiri di tengah pintu dan mendorongnya hingga kembali terbuka lebar. Tatapan matanya sendu saat melihat kilatan amarah yang terlihat dari manik hitam yang ada di hadapannya itu.


"Aku tidak akan pergi sampai kita bicara baik-baik, Dar! Aku datang kemari hanya untuk menjelaskan semua yang telah terjadi," ucap Anne tanpa melepaskan pandangan dari Anne.


Mendengar ada keributan di ruang tamu, Juna beranjak dari kursi yang ada di dalam ruang baca milik kekasihnya. Ia mengayun langkah untuk melihat siapa yang datang ke rumah ini hingga membuat kekasihnya berteriak.


"Anne!" ujar Juna setelah berdiri di sisi Dara.


"Kamu tetap di sini atau pulang ke asrama, Say?" tanya Dara tanpa melepaskan pandangan dari Anne, "karena rumah ini akan aku kunci!" lanjut Dara dengan tegas.


"Aku kembali ke asrama saja, Yang!" Juna kembali lagi ke ruang baca untuk mengambil tas ranselnya.

__ADS_1


Bukan karena apa-apa, Juna ingin pergi dari tempat ini hanya karena ingin memberikan waktu Dara dan juga Anne untuk berbicara. Setelah pamit, Juna segera melenggang dari rumah ini, meninggalkan kedua wanita yang sedang bersitegang itu.


"Pergi sana! Tidak ada yang perlu kita bahas!" Dara mulai mendorong pintu tersebut hingga Anne terjengkang.


"Baiklah! Jika memang kamu tidak mau bicara denganku saat ini, aku tetap menunggu di sini sampai kamu bersedia memberikan aku waktu untuk menjelaskan semua ini," ujar Anne hingga membuat Dara berdecak.


"Terserah! Bodo amat!" ujar Dara dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat dingin.


Dara terus berusaha menutup pintu rumahnya hingga Anne memilih mundur daripada terjepit pintu. Anne tidak mau menyerah begitu saja. Ia terus mengetuk pintu tersebut dan memanggil nama sahabatnya itu. Mungkin karena lelah, Anne memilih duduk di lantai tanpa alas apapun, ia menyandarkan diri di dinding tersebut.


Sementara itu, Juna berdecak kesal tatkala melihat pemandangan di teras rumah kekasihnya. Sebenarnya ia tidak langsung pulang ke asrama, ia bersembunyi di balik pagar untuk mengamati semua yang terjadi.


"Begini nih! Kalau dua wanita keras kepala bertengkar! Bikin pusing!" gerutu Juna dengan helaian napas yang berat.


...💠💠💠💠💠...


Anne mengerjapkan kelopak matanya kala merasakan silau cahaya yang mengusik mata. Ia mengusap sudut bibirnya setelah sadar dari tidur yang belum lama itu. Anne menggesek kedua telapak tangannya karena merasakan dingin di sekujur tubuhnya dan tak lama kemudian, Ia menggigil karena tidak tahan dengan suhu pagi ini.


Anne segera bangkit dari tempatnya saat ini tatkala melihat Juna membuka pintu gerbang yang tertutup sejak kemarin. Ia berusaha tersenyum saat Juna semakin mendekat ke arahnya.


"Kamu berada diluar sejak kemarin, An?" tanya Juna setelah berdiri di hadapan Anne. Ia cukup prihatin melihat kondisi Anne saat ini.


Wajahnya terlihat pucat, ditambah dengan bibirnya yang polos tanpa warna sedikitpun. Juna tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Anne. Bertahan di luar rumah menahan udara malam yang dingin. Kali ini Juna harus melakukan sesuatu, segera ia merogoh ponsel yang tersimpan di saku jaketnya. Mungkin saat ini pria itu sedang menghubungi penghuni rumah ini karena tidak lama setelah itu, terdengar suara kunci yang diputar.


"Buruan masuk, Say! Jangan sampai dia ikut masuk!" ujar Dara setelah pintu tersebut terbuka. Ia menatap sinis ke arah Anne.


Anne membiarkan Juna masuk begitu saja karena ia sudah kehilangan tenaga untuk memaksa masuk seperti kemarin. Tubuhnya terasa lemas dan ingin tumbang, jika bukan karena nekat ingin menyelesaikan masalah, mungkin saat ini Anne sudah tak sadarkan diri.

__ADS_1


Juna menarik tangan Dara ke dalam ruang keluarga. Ia memberikan kode agar kekasihnya itu duduk di sofa panjang tersebut. Ia menatap wajah masam sang kekasih yang sedang menatap ke arah lain.


"Sejak kapan Dara yang aku kenal lembut menjadi seperti ini?" tanya Juna setelah duduk di samping Dara, ia mengubah posisinya menjadi menghadap Dara dengan kaki kanan yang dilipat di atas sofa, sedangkan kaki kirinya dibiarkan menggantung.


"Apa maksudmu, Say?" Dara menatap Juna sekilas.


"Lihatlah, Yang! Kondisi Anne begitu menyedihkan. Tubuhnya sekarang lebih kurus dan mungkin saja saat ini dia sedang demam. Bukan kah kamu tadi sempat melihat dia? Pucat 'kan?" Juna menggenggam tangan Dara dengan erat.


"Biarkan saja! Apa yang dia rasakan tidak sebanding dengan sakitnya hatiku, Say!" Dara menatap Juna dengan tatapan tajamnya.


Juna terus berusaha membujuk sang kekasih agar bersedia menerima Anne di rumah ini. Juna hanya tidak mau persahabatan mereka berdua harus berakhir dengan cara seperti ini.


"Jangan merasa sakit hati sendirian, Sayang. Kamu harus mendengar dulu penjelasan dari Anne. Bagaimana jika Anne yang lebih merasakan sakit? Apa kamu tidak menyesal telah bersikap seperti ini kepadanya?" Juna menatap manik hitam sang kekasih dengan intens,


"jangan bersikap seperti ini, Sayang," lanjut Juna dengan diiringi senyum manis setelahnya.


"Jika kamu membenci namanya, maka kamu harus ingat, jika dia tetaplah manusia. Jangan memandang namanya tapi pandanglah dia sebagai makhluk sosial," tutur Juna seraya tersenyum penuh arti,


"kamu pasti paham 'kan apa maksudku?" Juna membenarkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah kekasihnya itu.


Dara menundukkan kepala saat Juna mengingatkan peristiwa saat om Rudi datang ke rumah ini. Pria tampan itu mencoba mengingatkan betapa berjasanya Anne dalam mendapatkan restu dari om Rudi.


"Coba kamu ingat, selama Anne menikah dengan ayahmu, apa saja yang sudah dia lakukan? Karena seingatku dia selalu memberi jalan untuk kita bertemu." Sekali lagi, Juna mengingatkan kekasihnya tentang kejadian di masa lalu, "bukankah dia banyak berjasa dalam hubungan kita?" Juna mengangkat dagu tersebut agar bisa menatap manik hitam tersebut.


Dara menghela napasnya setelah mendengarkan semua nasihat dari Juna. Memang tidak bisa dipungkiri, jika semua yang diucapkan Juna adalah sebuah kebenaran. Air mata kembali menggenang karena perang batin yang terjadi di dalam sanubari. Mungkin, kali ini Dara harus menurunkan egonya demi mendengar cerita versi sahabatnya itu. Dara segera beranjak dari tempatnya setelah berhasil mengalahkan egonya sendiri, mengayun langkah menuju ruang tamu dan membukakan pintu untuk Anne.


"Masuklah!" titah Dara setelah pintu terbuka.

__ADS_1


...🌹Selamat Membaca🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2