Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Kelapangan hati Dara,


__ADS_3

"... I love you more, Papi." Anne menatap dalam manik hitam sang suami.


"Katakan sekali lagi, Sayang!" pinta om Rudi seraya tersenyum manis.


Anne berdecak kesal mendengar permintaan itu. Ia membuang muka ke arah lain karena merasa malu—malu karena mengakui perasaan yang sesungguhnya. Bukannya menjawab, Anne malah merebahkan diri dan membelakangi om Rudi.


"Ayolah, Sayang! Papi ingin mendengar sekali lagi." Om Rudi mencoba merayu sang istri. Beliau menarik bahu itu hingga Anne terlentang.


"Apa sih, Pi!" Kedua pipi mulus itu kembali bersemu merah om Rudi menatap dengan tatapan genit.


Om Rudi menjadi gemas melihat wajah yang sedang tersipu itu. Senyum manis yang beliau rindukan beberapa hari ini akhirnya kembali. Entah siapa yang mengawali, tiba-tiba saja kedua bibir itu saling bersentuhan. Keduanya sama-sama merasakan betapa syahdunya suasana romantis yang tercipta di dalam ruangan ini. Melepas rindu, mungkin itulah yang sedang dilakukan mereka berdua. Namun, tak lama setelah itu om Rudi melepaskan tautan bibirnya ketika mendengar suara seorang wanita yang sangat familiar di indera pendengarannya.


"Astaga! Papi!" teriak Dara karena terkejut setelah melihat apa yang terjadi di dalam ruang inap VVIP itu.


Juna merasa canggung berada dalam situasi ini. Tentu ia tidak enak hati karena memergoki sang mertua sedang bercumbu mesra. Begitu pun juga Dara, putri semata wayang om Rudi itu risih melihat pemandangan itu. Ia mendadak kesal saja karena melihat langsung apa yang dilakukan ayahnya.


"Kemarilah!" ucap om Rudi dengan santainya. Pria matang itu sepertinya tidak mau ambil pusing menghadapi situasi saat ini.


Berbeda dengan Anne, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain karena malu. Ia tidak berani menatap wajah putri sambungnya itu. Apalagi posisinya saat ini sangat dekat dengan putri sambungnya.


"Dara langsung berangkat ke Jakarta setelah melihat berita di internet, Pi." Dara menatap om Rudi, "Apakah semuanya baik-baik saja? Bagaimana semua itu bisa terjadi?" cecar Dara setelah duduk di kursi tunggu pasien. Sementara Juna berdiri di belakang sang istri.


"Bagaimana keadaanmu, An? Apa pria itu tidak melukaimu?" tanya Dara setelah mengalihkan pandangan ke arah Anne.


Anne terharu mendengar pertanyaan yang lolos dari bibir putri sambungnya itu. Ada perasaan hangat yang menjalar dalam hati ketika tahu jika Dara mengkhawatirkan keadaannya. Anne mencoba untuk menatap wajah cantik yang ada di sisinya.


"Aku baik-baik saja, Dar. Roy hampir menembak kakiku," ucap Anne dengan suara yang lirih.

__ADS_1


"Syukurlah! Aku lega mendengarnya. Aku sempat shock ketika melihat berita yang ada di internet, mengingat berita tersebut cukup heboh!" Dara menghela napasnya.


"Boleh aku melihat beritanya?" Anne penasaran atas berita yang dimaksud oleh Dara.


Segera Dara merogoh tas slempangnya untuk mengambil ponsel. Ia mencari berita tersebut di internet, timeline berita pun dipenuhi dengan judul yang berlebihan.


Istri pengusaha kontraktor, Rudianto Baskoro diculik pengusaha muda berinisial AR.


Pengusaha AR diduga mengincar istri lawan bisnisnya, akhirnya AR nekat menembak Nyonya Baskoro.


Skandal Pengusaha AR dengan istri Owner Royale group.


"Apa-apaan ini! Judul beritanya gak mutu! Masa iya aku diisukan mempunyai skandal dengan Roy!" gerutu Anne setelah membaca berita tersebut.


Anne mengembalikan ponsel tersebut kepada Dara. Ia berdecak kesal karena berita tersebut. Moodnya mendadak hancur karena diisukan memiliki skandal bersama Roy.


"Iya! Tuh dengerin apa kata Papi! Gak usah mikir yang aneh-aneh!" ujar Dara meski tanpa sikap hangat seperti yang dulu.


Anne hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Dara. Jujur saja, ia sedih melihat sikap yang ditunjukkan Dara saat ini, "Saya ingin bicara berdua dengan Dara," ucap Anne seraya menatap om Rudi.


Kedua pria yang ada di ruangan tersebut segera beranjak dari tempat duduknya. Anne mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas ranjang setelah kedua pria tersebut keluar. Ia memberanikan diri menatap Dara.


"Apa lagi yang perlu dibahas?" tanya Dara seraya bersedekap.


Anne tak segera menjawab. Ia tengah merangkai kata untuk disampaikan kepada Dara. Mungkin penyesalannya tidak akan bisa menghapus rasa sakit di hati Dara, akan tetapi Anne tetap ingin membicarakan masalah yang sudah terjadi.


"Aku hanya ingin minta maaf kepadamu atas semua yang sudah terjadi," ucap Anne setelah mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan permohonan maaf.

__ADS_1


"Aku tahu apa yang sudah aku lakukan kepada ayahmu pasti menimbulkan kebencian di hatimu. Bahkan, mungkin saja kamu tidak bisa memaafkan semua kesalahanku," lanjut Anne dengan kepala yang tertunduk.


"Aku tidak memaksamu untuk memaafkan aku secepat ini, aku menerima jika setelah ini kamu tetap membenciku. Akan tetapi semua itu tidak membuatku mundur untuk tetap bersama ayahmu, terlebih aku sekarang sedang mengandung benih ayahmu," ucap Anne seraya menatap Dara.


Tentu Dara tidak terkejut mendengar kabar itu, karena om Rudi sudah menemuinya tempo hari. Beliau langsung pergi ke Bandung setelah mendapatkan kabar dari Juna jika putrinya berhasil diluluhkan oleh pawangnya, yang tak lain adalah Juna sendiri.


"Semoga keputusanmu tepat." Hanya itu yang terucap sebagai jawaban Dara.


"Aku sudah memaafkanmu, aku memaklumi semua yang sudah kamu lakukan kepada Papi. Akan tetapi aku belum bisa bersikap seperti dulu. Sudah beberapa kali kamu membohongiku, An. Jadi, maaf jika aku belum bisa memberikan kepercayaan kepadamu," ucap Dara tanpa melepaskan pandangannya dari Anne.


"Jika memang kamu ingin kembali kepada Papi, kembalilah! Ini adalah kesempatan terakhir yang aku berikan. Jika setelah ini ada drama seperti ini lagi, maka jangan pernah menyalahkan aku apabila terjadi sesuatu dalam hidupmu. Aku tidak akan tinggal diam melihat ayahku dipermainkan seorang wanita," ujar Dara dengan nada serius.


Anne menundukkan kepalanya setelah mendengar ancaman dari Dara. Ia pun memahami apa yang baru saja diucapkan oleh Dara. Sebagai seorang anak wajar jika ingin melindungi ayahnya.


"Ya, aku paham, Dar. Akan tetapi, setelah ini aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk ayahmu. Aku hanya butuh izin darimu, Dar," ucap Anne seraya menatap Dara.


"Aku menerimamu sebagai istri ayahku. Namun, seperti yang aku katakan tadi, aku butuh waktu untuk bersikap seperti dulu," jawab Dara tanpa diiringi senyum manis seperti biasanya.


Anne menganggukkan kepalanya sambil mengusap air mata yang membasahi pipi. Ia bernapas lega setelah mendengar pengakuan Dara. Setelah ini ia akan menjalani rumah tangga dengan hati yang tenang. Ia akan fokus mengurus rumah tangga dan calon buah hatinya. Anne tidak perduli lagi dengan perusahaan, saham ataupun kekayaan sang suami. Yang pasti setelah ini Anne hanya ingin menjadi istri dari sosok Rudianto Baskoro.


"Terima kasih, Dar. Mendapatkan izin darimu sudah lebih dari cukup," ucap Anne dengan suara yang bergetar. Ia begitu terharu dengan kelapangan hati putri sambungnya.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Nanti agak sorean atau gak malam yee episode barunya🤭...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2