
Dering alarm menggema di dalam kamar bernuansa putih itu. Sang pemilik mengulurkan tangan untuk mengambil benda pipih yang ada di nakas. Anne mulai mengerjap untuk melihat penunjuk waktu yang ada di layar itu.
"Hah jam tujuh pagi!" Anne tersentak ketika melihat penunjuk waktu yang ada di layar ponsel itu.
Anne segera turun dari ranjang dan bergegas pergi ke kamar mandi karena tidak biasanya ia bangun kesiangan seperti saat ini. Anne malu jika bermalas-malasan di rumah ini meskipun tidak ada yang menegurnya walau tidur seharian. Anne menghentikan langkahnya di depan pintu kamar mandi saat pikirannya teringat sesuatu.
"Tunggu ... tunggu!" Anne membalikkan tubuhnya dan menatap ranjangnya. Ia kembali lagi di sana untuk memastikan suatu hal.
Anne menyingkap selimut tebal yang ada di atas ranjang. Ia meraba sprei hijau itu untuk memastikan jika tadi malam tidak ada pertukaran lendir. Ia bernapas lega karena tidak ada bercak atau sisa cairan apapun di sana.
"Huh!" Anne menghela napasnya setelah kembali menghempaskan diri di atas ranjang.
Kedua tangan Anne menopang kepalanya yang sedang tertunduk. Anne mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam bersama om Rudi. Ia menggeleng pelan karena tidak percaya atas apa yang sudah ia rasakan bersama pria matang itu.
"Sial! Aku menikmati dekapan hangatnya!" Anne merutuki dirinya sendiri. Beberapa kali ia menarik rambut yang masih berantakan itu.
"Aakh!" teriak Anne setelah merebahkan tubuhnya di ranjang. Namun, kakinya dibiarkan menjuntai di lantai.
Wajah yang belum tersentuh air itu mendadak bersemu merah saat teringat apa yang terjadi tadi malam. Anne tidak menyangka jika dirinya bisa tidur nyenyak setelah om Rudi mendekapnya. Anne mengingat betul bagaimana dia menolak om Rudi saat pertama kali memberikan kehangatan dalam dekapannya.
"Astaga! Anne!! Kenapa kau bodoh sekali!" Anne memaki dirinya setelah duduk di tepi ranjang.
"Senyaman itu kah berada dalam pelukan om Rudi sampai aku bangun kesiangan!" Anne bergumam lagi.
Kepingan peristiwa yang terjadi tadi malam musnah begitu saja saat ponsel itu berdering, tanda pesan masuk. Anne meraih ponselnya karena penasaran siapa kiranya yang mengirim pesan di jam seperti ini.
Kamu pasti baru bangun 'kan? Nyaman banget ya tidur dipelukan Om?
__ADS_1
"Cih! PD banget ini orang!" Anne berdecak setelah membaca pesan dari om Rudi.
Anne meletakkan ponselnya di atas nakas, ia harus membersihkan diri terlebih dahulu sebelum keluar kamar. Guyuran air shower membasahi rambut itu untuk mengeluarkan segala pikiran buruk yang bersarang di sana.
Setelah bersiap selama tiga puluh menit, Anne keluar dari kamarnya. Satu persatu anak tangga telah ia lalui hingga sampai di ruang makan. Anne mengernyitkan keningnya karena sepertinya belum ada yang sarapan pagi ini.
Anne menaikkan satu alisnya ketika mendengar suara berisik di dapur, karena penasaran akhirnya Anne memutuskan untuk melihat siapa kiranya yang ada di dapur.
"Mau bikin apa, Dar?" tanya Anne setelah melihat Dara sedang berkutat di dapur. Ia heran karena tidak biasanya gadis manja itu mau menyentuh peralatan dapur.
"Aku lagi praktek bikin telor ceplok! Ternyata susah! Lihatlah! Kulit telurnya ikut tergoreng!" keluh Dara tanpa menatap Anne.
Anne terkekeh melihat hal itu. Ia melihat ada lima telur di atas piring lengkap dengan kulitnya, "emang mau ngapain, sih? Tumben banget pakai bikin telor ceplok segala!" Anne penasaran dibuatnya.
"Bukannya pagi ini kamu ada janji ketemu Juna? Aku pikir kamu sudah berangkat!" ujar Anne saat menatap Dara sekilas.
"Dia masih ada pertemuan dengan dosen-dosen Airlangga! Aku ketemu dia nanti jam sepuluh!" jawab Dara, "maka dari itu aku mau belajar bikin telor ceplok karena dia ingin makan telor ceplok tapi aku yang bikin!" keluh Dara dengan diiringi helaian napas yang berat.
"Wah! Kesayangannya Papi pada ngapain di dapur?" tanya om Rudi.
"Dara lagi belajar masak, Pi!" jawab Dara tanpa mengalihkan pandangan. Ia sibuk membuat telor ceplok keenam agar berhasil dan sesuai ekspetasi.
Anne harus menahan napasnya saat tangan om Rudi mulai nakal dan tak tahu tempat. Ingin rasanya Anne menginjak kaki om Rudi saat ini juga karena takut ketahuan Dara ataupun ART yang berkerja di sana. Tangan itu semakin berani mer•mas pantatnya beberapa kali.
"Dar, aku ke depan sebentar ya," pamit Anne, ia tidak tahan berada di sana.
Om Rudi menoleh sekilas saat Anne berlalu dari dapur. Beliau tersenyum tipis tatkala mengingat apa yang sudah terjadi tadi malam. Rasanya, beliau seperti kembali muda saat tidur di sisi Anne. Om Rudi keluar dari kamar sang istri tepat pukul empat pagi, di saat rumah masih sunyi sepi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga berada di ruang makan. Dara terlihat bahagia karena pada akhirnya ia bisa membuat telor ceplok request dari kekasihnya sedangkan Anne hanya diam tanpa berani menatap Dara ataupun om Rudi.
"An, setelah ini aku ada acara sebentar, kamu di rumah atau ikut denganku?" tanya Dara seraya menatap Anne penuh arti.
"Aku di rumah saja, Dar! Lagi males keluar," jawab Anne setelah menghabiskan satu sendok makanannya.
"Ya udah, aku gak lama kok!" ucap Dara lagi, "Papi tidak ke kantor?" tanya Dara setelah mengalihkan pandangan ke tempat om Rudi berada.
"Tidak! Hari ini Papi ada janji main golf dengan salah satu kolega Papi," jawab Om Rudi dengan santai.
"Tumben, Pi? Padahal ini bukan weekend loh!" protes Dara seraya menatap om Rudi dengan tatapan menyelidik, "Papi mau golf dengan kolega atau dengan tante Rosa?" sarkas Dara.
"Kalau kamu tidak percaya dengan Papi juga tidak masalah!" om Rudi mengedikkan bahunya, "Kalau memang kamu tidak percaya, biar Anne ikut dengan Papi. Bagaimana?" Sebuah ide cemerlang muncul begitu saja dalam pikiran pria matang itu.
Mata indah itu terbelalak sempurna saat mendengar ucapan yang lolos dari bibir om Rudi. Tentu saja Anne keberatan akan hal itu, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan ia lakukan nanti saat berdua bersama om Rudi.
Ekspresi yang ditunjukkan Anne sangat berbeda dengan Dara. Gadis berambut cokelat itu tersenyum penuh kemenangan saat mendengar ide dari ayahnya sendiri.
"An, aku percayakan Papi padamu! Ikutlah dengan Papi ke lapangan golf! Jaga Papi dari godaan janda genit bernama Rosa itu!" ujar Dara seraya menepuk lengan Anne.
...🌹Selamat Membaca🌹...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hay hay hay😍 Teruntuk para pembaca yang paling baik sejagat NT. Nih, aku ada rekomendasi karya keren dari author Teh Ijo dengan judul Jerat Hasrat Sang CEO.
Nah kan ... judulnya aja udah bikin panas dingin😍Kuy kepoin biar gak penasaran🤭
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹...