
Kabut putih yang menyelimuti telah hilang karena takut dengan kuasa sang raja sinar. Keangkuhan kuasanya bisa dirasakan semua orang yang ada di Jakarta selatan. Apalagi saat ini penunjuk waktu sedang berada di angka dua belas siang.
Tok ... tok ... tok ....
Bi Sari mengetuk pintu kamar Dara beberapa kali. ART yang sudah bekerja di kediaman Baskoro selama sepuluh tahun belakangan ini, ingin memberitahu bahwa di ruang tamu ada seseorang yang mencari Dara.
"Maaf, Non. Ada yang mencari Non Dara di bawah. Emm ... seorang wanita," ucap Bi Sari. ART itu nampak resah saat mengatakan hal itu kepada putri majikannya tersebut.
"Oh, iya Bi, saya ganti baju dulu. Tolong Bibi ke kamar Anne juga, ya. Kasih tahu kalau tamunya sudah datang," ucap Dara sebelum bi Sari berlalu dari kamarnya.
Dara mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan paranormal online yang dihubunginya tadi pagi. Dara mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan, hanya untuk persiapan jika paranormal tersebut membawa teman laki-laki.
Setelah selesai, Dara segera keluar dari kamar bersamaan dengan kedatangan Anne di depan kamarnya. Kedua gadis itu segera turun ke lantai satu untuk bertemu tamu yang sengaja diundang ke rumah ini.
"Selamat siang," sapa Dara setelah sampai di ruang tamu. Ia duduk di sofa yang sama dengan Anne.
"Siang!" jawab wanita tersebut dengan singkat.
Jujur saja, kedua gadis itu harus menahan tawanya karena melihat penampilan wanita yang duduk di sebrang meja itu. Wanita tersebut sepertinya seumuran dengan om Rudi. Rambutnya lebat dan keriting sebahu berwarna pirang. Memakai anting bulat yang besar serta tindik di hidung sebelah kanan. Alisnya lumayan tebal serta eyeliner dan celak hitam yang cukup mendominasi. Bentuk mata yang sedikit lebar semakin menambah aura mistis sosok yang masih diam di hadapan kedua gadis tersebut.
"Maaf kalau boleh tahu saya harus memanggil Anda bagaimana?" suara Anne memecah keheningan yang terjadi.
"Panggil saya Mami Mona," jawab wanita tersebut, "Jadi, kenapa Nona-nona ini menghubungi kantor kami?" tanya mami Mona dengan ekspresi wajah yang dingin.
Anne dan Dara saling pandang setelah mendengar hal itu. Mereka heran saja, Paranormal ternyata memiliki kantor tersendiri. Sungguh, ingin sekali kedua gadis itu tertawa lepas.
"Kantor? Apa Mami Mona ini paranormal yang saya pesan tadi pagi?" Dara memastikan jika tidak salah menerima tamu.
"Ya, saya salah satu paranormal dari kantor Ki Ageng Diyaksa. Saya diberi tugas datang ke alamat rumah ini," ucap Wanita tersebut dengan tegas, "Jadi, katakan saja, Nona! Apa keluhan Anda?" ucap mami Mona.
Dara menelan ludah mendengar pertanyaan itu. Lantas, ia menceritakan semua hal yang terjadi tadi malam. Sementara itu, Anne hanya diam sambil menatap wanita yang dipanggil Mami Mona itu. Lagi dan lagi Anne harus menahan tawanya ketika melihat jari Mami Mona yang berhiaskan cincin dengan batu akik yang lumayan besar.
__ADS_1
"Boleh saya melihat tempat yang Nona maksud?" tanya Mami Mona.
"Tentu, mari kita ke lantai dua," ucap Dara sebelum beranjak dari sofa.
Ketiga wanita tersebut akhirnya melenggang dari ruang tamu. Menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua, atau lebih tepatnya ke dalam kamar Anne.
Setelah sampai di dalam kamar, Mami Mona segera duduk di lantai tanpa alas. Ia mengeluarkan beberapa benda dari dalam tasnya dan tidak lama setelah itu aroma wewangian yang menyengat mulai mengudara di kamar Anne.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk!" Anne dan Dara seketika menutup hidungnya karena tidak tahan dengan asap yang mengepul di dalam kamar tersebut. Asap hasil bakaran dupa yang ada dalam genggaman mami Mona.
Anne mengayun langkah menuju pintu menuju balkon kamar. Ia membuka pintu tersebut dan jendela kamar agar asap yang mengepul itu segera keluar. Tidak lupa ia mematikan AC kamar.
"Duh! Apalagi ini!" gumam Anne dalam hatinya.
Istri om Rudi itu, kembali ke tempat Dara berada. Mereka berdua berdiri tidak jauh dari mami Mona yang sedang melakukan ritual. Mereka mengamati ritual yang dilakukan oleh mami Mona sampai selesai.
"Hmm ... di sini ternyata banyak kuntilanaknya!" ujar Mami Mona tanpa membuka kelopak mata, wanita itu menggerakkan tangannya ke atas sambil menggenggam dupa yang masih menyala.
"An, ternyata benar kan, An! Dua kali loh aku mencium aroma wewangian di kamar mu," bisik Dara setelah mendengar penjelasan mami Mona.
Anne hanya diam, ia mencoba mencerna apa saja yang dikatakan oleh paranormal online itu. Ia berdecak, ketika mulai menemukan kejanggalan paranormal yang sedang berdiri dari lantai itu.
"Itu bukan kuntilanak Mami! Itu penampakan suamiku!" seru Anne, tentunya hanya terucap dalam hati saja.
Mami Mona mengelilingi kamar Anne sambil membawa botol spray. Beliau berjalan sambil menyemprotkan botol berisi air tersebut di dinding kamar berwarna putih itu.
"Aduh, Dar! Itu ngapain, sih!" bisik Anne setelah melihat Mami Mona menaburkan kelopak bunga mawar di sekeliling kamarnya.
"Udah, kita diem aja! Yang paling penting, kuntilanaknya hilang!" jawab Dara tanpa menatap Anne. Ia sendiri sedang mengamati setiap yang dilakukan paranormal tersebut.
Mami Mona merapikan kembali barang-barangnya setelah selesai melakukan ritual. Beliau berdiri di hadapan Anne dan Dara dengan tatapan mata yang menakutkan.
__ADS_1
"Kuntilanaknya sudah saya usir! Kalian berdua dilarang tidur berdua di kamar ini," ucap mami Mona, "itu tadi pesan dari salah satu penghuni kamar ini karena dia tidak suka dengan kamu, Nona!" lanjut mami Mona sambil menunjuk Dara.
Anne tersenyum tipis mendengar pernyataan mami Mona. Tentu saja, ini sangat menguntungkan untuknya. Mungkin, setelah ini Dara tidak akan berani masuk ke dalam kamar ini. Entah ini sebuah kebetulan atau memang hanya bualan paranormal bernama Mona itu.
"Hah!" Dara terperangah ketika mendengar hal itu.
"Tugas saya sudah selesai! Saya mau pulang!" ujar mami Mona hingga membuat kedua gadis di hadapannya gelagapan.
"Berapa semua biayanya, Mam?" tanya Anne.
"Delapan juta!" jawab mami Mona singkat, padat dan jelas.
"Mahal amat!" celetuk Dara hingga mendapat pelototan dari mami Mona.
"Nona pikir mengusir setan itu mudah! Kalau gak mau bayar delapan juta saya kembalikan setan-setannya ke kamar ini!" ancam mami Mona, paranormal itu terlihat marah karena ucapan Dara.
Anne segera berjalan menuju almarinya. Ia mengambil uang di dalam tas untuk membayar paranormal ini agar segera pergi. Ia sudah tidak tahan dengan wewangian menyengat yang dipakai paranormal tersebut.
"Ini Mam, delapan juta." Anne menyerahkan segepok uang tersebut kepada mami Mona.
Setelah menerima uang dari Anne, mami Mona keluar dari kamar tersebut diikuti Anne dan Dara. Kedua gadis itu mengekor di belakang mami Mona hingga sampai di teras rumah.
"Kamu dapat uang dari mana, An?" tanya Dara setelah paranormal tersebut hilang dari pandangan, "seharusnya aku yang membayarnya, nanti deh, aku ganti," ucap Dara seraya menatap Anne.
Anne tak segera menjawab, ia menarik Dara masuk ke dalam rumah karena di luar sangat panas. Mereka menghempaskan diri di sofa ruang tamu untuk membahas apa yang dikatakan oleh paranormal tersebut.
"Kamu gak usah mikirin omongan mami Mona, Dar! Karena semua itu belum tentu kebenarannya, dan untuk masalah uang, gak usah diganti. Uang itu sisa pemberian om-om kala itu," ucap Anne sambil menepuk paha Dara dengan diiringi senyum manis.
...🌹Selamat membaca 🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1