Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Dara dan Juna Sah!


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Danira Puspa Baskoro binti Rudianto Baskoro dengan mas kawin uang sebesar lima ratus ribu rupiah dibayar tunai."


Suara lantang Juna menggema di ruang tamu tersebut. Juna mengucapkan ijab kabul dengan fasih di hadapan om Rudi dan pak Arif. Pernikahan siri ini disaksikan beberapa tokoh agama setempat yang dijemput langsung oleh perwakilan keluarga om Rudi. Semua orang menengadahkan kedua tangan saat seorang ustadz membacakan doa untuk kedua pengantin tersebut.


Dara menitikkan air matanya saat merasakan kecupan hangat di keningnya. Momen yang tidak pernah diduga sebelumnya benar-benar membuat hatinya tak karuan. Kini, statusnya sah menjadi seorang istri secara agama.


"Alhamdulillah ... dengan begini saya sebagai orang tua tidak khawatir lagi membiarkan Juna dan Dara berdua di Jepang," ucap Pak Arif setelah acara mendebarkan itu selesai.


"Iya, Pak. Saya pun begitu. Saya lega karena pada akhirnya ada yang menjaga putri saya di Jepang nanti." Om Rudi tersenyum kala melihat wajah bahagia putrinya yang sedang duduk bersanding dengan Juna.


Semua rangkaian acara resmi telah selesai. Kini, waktunya menikmati hidangan yang sudah tertata rapi di tempatnya. Dara menatap kepergian semua orang menuju ruang keluarga, sementara dirinya dan Juna tetap berada di ruang tamu.


"Say, ini bukan mimpi 'kan? Kita ini suami istri beneran 'kan?" Dara memastikan apa yang baru saja ia lalui.


"Iya, Sayang. Kita suami istri," jawab Juna seraya meraih tangan Dara untuk digenggamnya. Ia mendaratkan kecupan mesra di punggung tangan itu.


"Tapi nanti kamu ikut pulang ke Bandung 'kan?" tanya Dara setelah teringat suatu hal.


"Memangnya kenapa kalau aku nginep di sini?" tanya Juna tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Jangan dong! Eh gimana sih! Maksudku jangan nginep dulu, aku belum siap loh!" Dara terlihat salah tingkah saat membahas hal itu kepada Juna.


Juna tersenyum simpul mendengar protes dari Dara. Tentu ia tahu apa yang dimaksud oleh istrinya itu. Ia sendiri belum siap jika harus menginap di sini malam ini. Sedikitpun Juna belum pernah membayangkan akan menjadi seorang suami dalam waktu dekat ini.


"Jadi, aku harus ikut pulang ke Bandung nih? Serius enggak kangen?" Juna sengaja menggoda Dara dengan tatapan mata yang genit.


"Iih! Apaan sih!" Dara mengerucutkan bibirnya setelah melihat ekspresi menyebalkan pria yang ada di sisinya.

__ADS_1


Dara dan Juna beranjak dari tempatnya. Mereka berdua menyusul para keluarga untuk mengambil makanan di ruang keluarga, karena merasakan kebahagiaan juga butuh tenaga.


"Say, mau aku ambilkan gak?" tanya Dara setelah mengambil dua piring.


"Aku mau ambil sendiri saja. Kalau kamu yang mengambilkan bisa penuh itu piring!" sergah Juna seraya mengambil satu piring yang ada di tangan Dara.


Hari ini di hadapan semua orang, Juna telah menunjukkan jika dirinya layak untuk diakui sebagai gentleman. Ia tidak ragu meski harus mengatakan yang sebenarnya. Cinta yang besar membuatnya merasa yakin jika semua ini adalah jalan yang terbaik untuknya.


Jika memang cinta, maka buktikanlah! Karena wanita itu butuh bukti bukan sekedar janji.


...****************...


Tatapan mata om Rudi tak lepas dari putrinya yang sedang duduk bersanding dengan suaminya. Sebagai seorang ayah tentu om Rudi tetap mengkhawatirkan kehidupan Dara setelah berumah tangga dengan Juna. Namun, berkat Anne yang selalu mendukung dan memberi pengertian kepada beliau, semua keraguan itu mendadak musnah. Semua itu terbukti saat melihat betapa bahagianya Dara saat ini.


"Ah, aku ada ide!" gumam om Rudi dalam hati, setelah teringat jika Dara sudah memberikan pengumuman akan tidur satu kamar dengan Anne selama dia berada di sini.


"Nak Juna," ucap om Rudi seraya menatap Juna penuh arti, "setelah ini tidak usah ikut pulang. Lebih baik menginap di sini saja, ya." Om Rudi tersenyum simpul setelah mengucapkan hal itu.


"Maaf, Om. Setelah ini saya masih ada urusan di Bandung. Mungkin, besok saya akan kembali ke sini," ucap Juna sambil menahan rasa sakit akibat cengkraman Dara di kakinya.


Sekuat tenaga Anne harus bisa menahan tawanya setelah mendengar ucapan sang suami. Ia tahu bahwa aki-aki kesayangannya itu sedang mencari cara agar bisa menjauhkan Dara darinya. Sungguh, Anne tak habis pikir, bisa-bisanya sang suami tidak mau mengalah dengan putrinya sendiri.


Hati om Rudi bergemuruh tatkala mendengar jawaban dari menantunya. Rencana yang sempat membuat bunga di hatinya bermekar indah, kini layu sudah karena Juna. Malam ini beliau kembali tidur seorang diri seperti kemarin malam.


"Astaga! Harusnya kamu nginep saja! Dasar menantu meresahkan!" Tentu umpatan ini hanya terucap dalam hati. Om Rudi tidak mau memaksa menantunya yang akan pulang itu.


Setelah semua acara selesai. Keluarga besar Juna pamit pulang, tak lupa Juna mengecup kening Dara sebelum ikut pulang bersama keluarganya. Apa yang dilakukan Juna saat ini berhasil membuat Pipi Dara semakin bersemu merah. Ia malu karena Juna melakukan semua itu di hadapan Anne dan ayahnya.

__ADS_1


"Eheeem ... cie ... ciee!" Anne sengaja menggoda puteri sambungnya itu.


"Apa sih, Mici!" Dara terlihat salah tingkah karena ulah Anne.


Semua kembali ke ruang tamu karena masih ada beberapa kerabat yang belum pulang. Saat-saat ini lah yang tidak disukai oleh Anne. Berkumpul dengan keluarga om Rudi, ia takut diinterogasi sepupu om Rudi yang sejak tadi mengamatinya.


"Rud, jadi ... wanita muda ini istrimu?" tanya sepupu om Rudi yang bernama bu Ajeng.


"Iya, Jeng. Dia istriku, kami sudah menikah hampir satu tahun," jawab om Rudi dengan diiringi senyum tipis.


"Kamu ini bagaimana, menikah kok diam-diam, sama daun muda lagi!" protes bu Ajeng tanpa melepaskan pandangan dari Anne.


Melihat situasi yang tidak nyaman, membuat Dara beranjak dari tempatnya. Ia bisa menerka bahwa sepupu ayahnya itu pasti akan melontarkan kata-kata pedas untuk Anne, ia tidak terima akan hal itu.


"Mici, ayo ikut ke kamar! Bantu aku melepaskan sanggul ini," ujar Dara setelah berdiri di hadapan Anne.


Tanpa banyak bicara, Anne segera berdiri dari tempatnya saat ini. Ia menyambut uluran tangan Dara dengan senang hati. Setidaknya ia ada alasan untuk pergi dari ruang tamu yang panas ini. Sebelum pergi tidak lupa Anne berpamitan kepada kerabat om Rudi sebagai bentuk rasa hormat kepada yang lebih tua. Pada akhirnya Anne bisa bernapas lega karena Dara telah membantunya.


"Pi, Dara mau pinjam Mici dulu ya! Ingat, Pi! No debat, no jemput! Mici standby di kamar Dara!" ujar Dara seraya menatap ayahnya dengan senyum smirk.


...🌷Selamat Membaca🌷...


...Nah loh! Mici dikontrak Dara kan😂Syukurin tuh bayi gede kesepian lagi🤭...


➖➖➖➖➖➖➖❤️❤️❤️❤️➖➖➖➖➖


Hallo bestie😍Kuy baca karya keren dari author Momoy dandelion dengan judul Pemuas Ranjang CEO. Nah, judulnya aja udah bikin kepo kan😍 buruan baca dong!!!

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2