Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Penjelasan untuk Dara,


__ADS_3

Harapan bertemu Dara semakin tipis kala tubuh memberikan pertanda jika keadaan tidak baik-baik saja. Kepala terasa berat serta tubuh semakin terasa menggigil. Rasanya, Anne tak sanggup lagi berdiri di teras ini, perjuangannya sejak kemarin sore sepertinya harus berakhir tanpa membuahkan hasil. Namun, keberuntungan masih memihak wanita malang itu karena terdengar kunci yang diputar dari dalam.


"Masuklah!"


Kedua sudut bibir itu tertarik ke dalam saat melihat gadis yang ia tunggu sejak kemarin akhirnya membukakan pintu untuknya. Harapan yang sempat pupus kini kembali hadir dalam dirinya. Rasa sakit yang ada di sekujur tubuh mendadak hilang entah kemana.


Anne mengekor di belakang Dara memasuki hunian minimalis itu. Ia segera duduk di sofa tunggal yang berada di sisi lain sofa yang ditempati oleh Dara. Keduanya terlihat canggung hingga beberapa menit lamanya sampai terdengar suara derap langkah dari ruang keluarga. Juna datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir minuman.


"Ini ada coklat hangat untuk menemani kalian," ucap Juna setelah meletakkan dua cangkir tersebut di atas meja.


"Terima kasih," ucap Anne seraya menatap Juna sekilas. Tak lama setelah itu ia menundukkan kepala, jari-jarinya saling bertautan untuk melawan rasa gugup yang menyergap hati.


"Kamu datang ke negara ini sendirian?" tanya Dara untuk memecah keheningan yang terasa.


"Ya, aku sengaja datang menemuimu sendirian." Anne menegakkan kepalanya.


"Jadi, untuk apa kamu datang kesini? Katakan saja!" Akhirnya, Dara menanyakan keperluan sahabatnya itu.


Anne melepaskan tas ranselnya, ia membuka resleting itu untuk mengambil sesuatu yang sudah ia persiapkan sebelum datang ke menemui Dara di Jepang. Ia meletakkan selembar kertas di atas meja, yang tak lain adalah surat perjanjian yang dibuat oleh om Rudi dan ditanda tangani langsung oleh keduanya.


"Aku datang menemuimu hanya untuk menjelaskan masalah yang terjadi, Dar. Setelah kamu mendengar apa yang sebenarnya terjadi, terserah kamu mau bersikap bagaimana kepadaku," ucap Anne dengan suara yang lirih.

__ADS_1


Dara mengubah posisi duduknya, ia semakin mendekat kepada Anne agar tidak salah mendengar informasi dari sahabatnya itu. Mungkin kali ini, ia harus menjadi pendengar yang baik untuk wanita menyedihkan yang duduk tak jauh darinya. Sebenarnya, Dara pun kasihan melihat kondisi Anne saat ini. Ya, apa yang diucapkan oleh kekasihnya memang benar. Anne terlihat kurus dan kacau.


"Kamu pasti masih ingat bukan kejadian saat bu Ningrum kecelakaan kala itu?" tanya Anne seraya menatap Dara, lalu ia melanjutkan ucapannya setelah Dara mengangguk pelan, "saat itu aku bingung karena harus menanggung semuanya sendiri, apalagi saat pihak rumah sakit menjelaskan biaya yang dibutuhkan untuk operasi bu Ningrum." Anne menghentikan ucapannya saat tidak bisa lagi menahan air matanya.


"Biayanya tidak sedikit, Dar! Aku harus membayar DP untuk operasinya. Kamu bisa membayangkan sendiri bagaimana bingungnya aku saat itu, karena harus mendapatkan uang dua puluh lima persen dari total estimasi biaya dalam jangka dua empat jam."


"Kenapa kamu tidak meminta bantuanku?" tanya Dara seraya menatap Anne dengan intens.


"Aku tidak mau menyulitkanmu, Dar! Aku cukup malu meminta bantuanmu, lagi pula saat itu kamu berada di Bandung bersama Juna," ucap Anne tanpa melepaskan pandangannya dari wajah tanpa polesan make up itu.


Mendengar jawaban dari Anne, membuat Dara mengalihkan pandangan ke arah lain. Tatapannya menerawang jauh untuk mengingat saat kejadian kala itu. Memang benar, di saat Anne kesusahan, ia sedang berlibur ke Bandung, merajut kasih dengan sang kekasih.


"Ada syarat untuk biaya yang sudah dikeluarkan beliau. Syarat yang membuatku harus meninggalkan pria yang aku cintai, syarat yang mengacaukan segala mimpi-mimpiku dan yang paling menyakitkan, syarat itulah yang membuat hubungan kita menjadi kacau, Dar! Ya, dewa penolong itu adalah ayahmu dan saat ini adalah suamiku ... tuan Rudianto Baskoro." Anne terisak karena perasaan yang membuncah dalam dada.


"Jika kamu membenciku karena aku menjadi istri ayahmu, oke, gak masalah, Dar! Tapi tolong pikirkan juga perasaanku! Coba bayangkan bagaimana jika kamu ada di posisiku? Apa yang akan kamu lakukan jika orang yang kamu sayangi membutuhkan pengorbananmu?" Anne menatap wajah sahabatnya itu dengan mata yang henti mengeluarkan bulir bening.


Bungkam, itulah yang sedang dilakukan Dara saat ini. Ia mencoba menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh. Apa yang dialami oleh Anne membuat perasaannya terenyuh. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana berada di posisi Anne kala itu.


"Aku melangsungkan akad nikah beberapa jam sebelum ibu menghembuskan napas terakhirnya, lebih tepatnya sebelum kamu datang tiba-tiba kala itu. Coba bayangkan, Dar! Setelah sah menjadi istri ayahmu ternyata ibuku meninggal. Saat itu duniaku benar-benar hancur! Katakan padaku, aku harus bagaimana, Dar?" ujar Anne dengan air mata yang tak henti menetes.


Kali ini, Dara tidak bisa membendung air matanya. Ia menundukkan kepala untuk menyembunyikan pipinya yang basah karena air mata. Ia menangis karena tidak tahu harus bagaimana. Ingin marah tapi tidak tahu harus marah kepada siapa.

__ADS_1


"Aku sempat berpikir akan meninggalkan ayahmu tapi aku tidak bisa, Dar! Aku terikat perjanjian di atas materai dengan ayahmu!" ujar Anne di sela-sela isakannya, ia meraih surat perjanjian tersebut dan menyodorkannya kepada Dara, "bacalah!" ujarnya.


Dara menerima selembar kertas tersebut. Ia membaca setiap kalimat yang terangkai di sana. Sungguh, hatinya semakin terluka setelah membaca surat itu. Ia kecewa kepada ayahnya sendiri yang tega melakukan semua ini kepada Anne.


"Apakah aku sehina yang kamu pikirkan, Dar?" tanya Anne setelah Dara meletakkan surat tersebut di atas meja, "Apakah aku saja yang bersalah dalam masalah ini? Aku ini hanya korban, Dar! Korban!" Anne menepuk dadanya beberapa kali saat menyebut jika dirinya hanya korban.


Dara semakin terisak saat Anne menjelaskan semua yang terjadi dibelakangnya. Anne meluapkan segala hal yang ia pendam selama ini. Rasa sakit yang sudah lama tersimpan kini meluap sudah di hadapan Dara. Kedua wanita itu pun sama-sama menangis di tempatnya.


"Mungkin, itu saja yang bisa aku jelaskan! Jika kamu ingin tahu lebih jelas, tanyakan saja pada ayahmu! Mungkin, beliau bisa menjelaskan alasan yang membuat beliau menikahi ku."


Anne beranjak dari sofa setelah menyimpan kembali surat perjanjian tersebut ke dalam tas. Penjelasannya sudah selesai dan kini waktunya pergi dari rumah ini. Ia harus segera kembali ke Indonesia karena tidak ingin merasakan sesak di dada lebih lanjut.


"Aku pulang, Dar!" ucap Anne sebelum melangkahkan kaki menuju pintu yang terbuka itu.


Dara gelagapan setelah mendengar Anne pamit pulang. Ia mengusap air matanya sebelum berdiri dari tempatnya saat ini. Namun, belum sempat Dara mengayun langkah, ia dikejutkan dengan Anne yang tiba-tiba saja pingsan di tengah pintu.


"Anne!" teriak Dara saat melihat Anne tak sadarkan diri, "Sayang! Cepat ke sini! Tolong Anne, Say!" teriak Dara setelah berada di sisi Anne.


...🌹Selamat Membaca 🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2