
Beberapa bulan kemudian,
"Mas, aku ikut ya," ucap Anne setelah selesai membantu om Rudi menyiapkan koper.
Sejak kemarin malam Anne terus merengek ingin ikut om Rudi ke Jepang. Pria matang itu ada pertemuan mendadak di sana dan tidak bisa diwakilkan oleh siapapun. Sebenarnya, om Rudi sendiri tidak tega meninggalkan Anne yang sedang hamil besar. Usia kandungan Anne saat ini sudah memasuki bulan ke delapan.
"Sayang, Mas mohon sekali. Kali ini jangan ikut Mas kemana-mana, ya," ucap om Rudi saat menggenggam erat telapak tangan Anne, "Mas janji tidak akan lama di sana, tidak sampai satu minggu semua urusan ini akan selesai." Om Rudi meyakinkan Anne agar membuang egonya.
"Aku takut di rumah sendirian, Mas," ujar Anne seraya menatap mata teduh sang suami.
"Dara dan Juna akan menemani kamu di rumah ini," ucap om Rudi dengan tegas.
Om Rudi masih trauma atas kejadian yang dulu menimpa Anne saat hamil anak pertama. Beliau hanya ingin yang terbaik untuk istri dan calon buah hatinya nanti. Berada di rumah sepertinya jauh lebih baik daripada harus ikut ke luar negeri. Resikonya terlalu besar untuk wanita hamil seperti Anne saat ini.
"Tolong, kali ini jangan keras kepala. Jangan egois. Pikirkan keselamatan dia," ucap om Rudi seraya mengusap perut buncit sang istri, "jangan sampai kejadian yang lalu terulang kembali, Sayang," ujar om Rudi tanpa menghentikan usapan di perut sang istri.
Sebenarnya, kondisi Anne dan janinnya baik-baik saja. Tidak ada diagnosa yang mengharuskan Anne istirahat atau pun berpergian kemanapun. Janin yang ada dalam kandungan pun tumbuh dengan baik, tidak ada hasil tes yang menyebutkan kelainan pada janin tersebut. Akan tetapi, om Rudi lebih protektif menjaga sang istri. Semua beliau lakukan demi kebahagiaan dan keamanan bersama.
"Mas, jaga diri ya selama di sana. Jangan mudah percaya dengan orang lain. Bawa bodyguard juga," ucap Anne dengan kepala yang tertunduk.
"Sayang, aku di sana itu mau menjalin kerja sama, bukan mencari musuh. Jadi, jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu," ucap om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari wajah yang sedang tertunduk itu.
"Kalau Mas gak nurut, aku ikut saja!" ancam Anne seraya menatap suaminya penuh arti, "udahlah, Mas harus bawa bodyguard! Firasatku gak enak!" ujar Anne.
__ADS_1
Susah payah wanita berbadan dua itu bangkit dari tempatnya. Ia berjalan menuju meja TV untuk mengambil ponsel yang ada di sana. Tak lama setelah itu, ia kembali ke tempat om Rudi berada.
"Telfon Pimoy dan teman-temannya!" ujar Anne seraya menyerahkan ponsel kepada om Rudi.
Om Rudi menghela napasnya setelah melihat keputusan sang istri. Beliau merasa semua yang dikhawatirkan Anne terlalu berlebihan. Mana mungkin kolega yang sudah lama bekerja sama dengannya akan melakukan kejahatan.
"Oke, jika didampingi bodyguard bisa membuatmu tenang, maka Mas akan membawa Pimoy dan anak buahnya ke Jepang," ucap om Rudi sebelum membuka layar ponselnya.
Entahlah, Bagaimana bisa Anne memiliki firasat buruk seperti itu. Mungkin semua pikiran negatif pengaruh dari hormon kehamilan yang saat ini berproduksi dalam diri. Ia sangat khawatir dengan keselamatan sang suami.
"Lebih baik sekarang kita istirahat," ucap om Rudi setelah selesai menghubungi bodyguard yang dimaksud oleh Anne.
Dekapan hangat om Rudi berhasil membuat Anne merasa nyaman. Ia tak melepaskan tangan dari genggaman pria matang yang berada di balik tubuhnya. Alam mimpi yang indah mulai menyambut kedatangan sepasang suami istri tersebut. Malam panjang telah dimulai.
...♦️♦️♦️♦️...
"Kamu gak masuk? Sebentar lagi magrib loh," ucap Dara setelah berhasil menenangkan putrinya.
"Papi udah sampai apa belum ya." Anne bergumam tanpa menatap Dara. Pandangannya lurus ke depan dengan tangan yang menopang rahangnya.
"Ya ampun, An! Papi baru aja berangkat loh! Ayahnya Kiran saja belum balik dari bandara," ujar Dara seraya menatap Anne, karena heran saja melihat ibu sambungnya itu.
Dara dan Juna sampai di Jakarta menjelang siang. Rencananya mereka akan tinggal di rumah ini sampai om Rudi kembali dari Jepang. Dara sendiri tidak tega jika membiarkan Anne di rumah ini hanya dengan ART. Ia sangat khawatir karena kandungan Anne sendiri sudah memasuki bulan ke delapan.
__ADS_1
"Udahlah, gak usah berpikir negatif terus! Kita berdoa saja, semoga Perjalanan Papi lancar," ucap Dara seraya menepuk pundak Anne beberapa kali.
Pada akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah, karena suara adzan mulai terdengar di segala penjuru. Dara sibuk dengan Kiran yang sudah masuk fase belajar berjalan. Gelak tawa Kiran ternyata bisa menjadi obat ampuh untuk Anne, ia menjadi tertawa lepas setelah melihat balita lucu itu.
"Hey, Kiran! Jangan naik! Stop!" teriak Dara saat melihat putrinya berusaha naik ke atas pangkuan Anne. Ia merasa ngeri saja, jika perut buncit itu terkena tendangan kaki Kiran.
"Sini, Sayang! Sama Mami!" ucap Anne seraya mengulurkan tangannya ke depan.
"Ih, bukan Mami!" protes Dara dengan ekspresi wajah yang masam, "ini Oma, ya, Nak," ucap Dara seraya menatap putrinya yang sedang berceloteh.
Seperti biasa, mereka berdua pasti akan berdebat karena nama panggilan. Anne merasa aneh saja jika dipanggil 'oma' oleh Kiran. Ia bersikukuh ingin dipanggil Mami saja, meskipun nama panggilan itu jelas salah. Pada akhirnya, petang itu, dihabiskan Dara dan Anne dengan perdebatan yang tidak pernah menemukan ujungnya. Kiran seperti wasit diantara keduanya.
***
Malam semakin larut. Ribuan bintang mulai hilang dari langit yang gelap, mereka membiarkan sang dewi malam bertahan seorang diri di hamparan nan gelap itu. Penunjuk waktu sudah berada di angka satu dini hari, akan tetapi Anne masih terjaga. Ia tidak bisa tidur karena ponsel om Rudi belum aktif. Ia cemas karena pikiran buruk terus menggerogoti pikiran.
"Duh, Mas Rudi kenapa belum ngasih kabar sih!" Anne bergumam lirih setelah melihat centang satu pada chat terakhir yang ia kirim ke nomor om Rudi.
Seharusnya om Rudi sudah sampai di Tokyo saat ini. Akan tetapi kenapa ponselnya belum aktif. Semua kontak bodyguard pun tidak aktif sama seperti om Rudi. Anne mencoba membuka berita di gugel tentang penerbangan hari ini. Ia hanya ingin memastikan tidak ada kendala penerbangan pesawat tujuan Jepang.
"Ah syukurlah! Pesawat yang membawa Mas Rudi aman." Anne bergumam lirih tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, "mungkin, Mas Rudi sebentar lagi akan sampai. Semoga tidak ada kendala apapun," ucap Anne setelah mengubah posisinya menjadi miring.
...🌹Selamat Membaca🌹...
__ADS_1
...Sebentar lagi om Rudi mau tamat nih, mau happy ending atau sad ending?...
...🌷🌷🌷🌷🌷...