Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Drama terjadi lagi,


__ADS_3

"Untuk apa Anda duduk kembali di kursi itu?"


Om Rudi dan Pras mengalihkan pandangan ke sumber suara. Om Rudi tersenyum manis melihat kehadiran sang istri di sana. Beliau beranjak dari tempat duduknya saat ini dan berjalan menghampiri sang istri.


"Selamat datang istriku," sambut om Rudi dengan senyum penuh kemenangan.


"Ini bukan ruangan Anda! Silahkan pergi!" ujar Anne dengan pandangan yang tak lepas dari Om Rudi.


"Perusahaan ini tetap milikku, Sayang!" Om Rudi menyeringai, "Pras!" ucap om Rudi seraya menatap Pras sekilas.


Pria berumur tiga puluh lima tahun itu segera menghampiri om Rudi dengan membawa map berisi beberapa lembar kertas. Pras membacakan satu persatu poin penting yang sudah ditanda tangani oleh Anne dan om Rudi di atas materai.


"Bagaimana? Kamu tidak pernah menyangka bukan?" Om Rudi tersenyum tipis ketika melihat wajah shock sang istri.


"Jadi, kamu sudah menipu saya Pras!" Anne menatap tajam ke arah asisten suaminya itu, "Kurang ajar!" sungut Anne tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Pras.


"Maaf, Nyonya! Saya tidak akan mungkin menghianati pak Rudi," ucap Pras dengan santainya.


"Sayang, kamu harus punya banyak pengalaman jika ingin bermain-main dengan suamimu ini. Kamu belum cukup cerdik untuk menipu suamimu sendiri!" ujar om Rudi seraya mendekat ke tempat Anne berada saat ini.


"Tidak mudah untuk menghancurkan seorang Rudianto Baskoro! Ingatlah itu, Istriku!" ucap om Rudi dengan santainya.


Memang benar, apa yang sudah dilakukan om Rudi akhir-akhir ini hanyalah sebuah Drama. Om Rudi sudah mengetahui semua rencana Anne sejak istrinya itu mengajak Pras bekerja sama. Tentu saja, Pras melaporkan semua itu kepada beliau. Pras tidak mungkin melakukan penghianatan hanya karena uang yang ditawarkan oleh Anne. Membuat Anne hamil adalah bagian dari rencana om Rudi, karena dengan begitu, pernikahannya akan tetap bertahan. Sampai kapanpun om Rudi tidak akan melepaskan istrinya.


"Jadi bagaimana, Sayang? Hebat bukan suamimu ini?" Om Rudi bersedekap dengan pandangan yang tak lepas dari Anne.


"Sudahlah! Mari kita akhiri semua kesalahpahaman ini. Mari kita membina rumah tangga dengan hiasan cinta dan kasih. Bukankah rumah tangga kita sebentar lagi menjadi lengkap?" Om Rudi semakin mendekat ke tempat Anne berada saat ini.

__ADS_1


Anne membuang wajahnya ke arah lain. Ia benar-benar kesal karena dipermainkan oleh Pras dan om Rudi. Ia tidak pernah menyangka jika suaminya itu sangat cerdik dan pandai dalam berbisnis.


"Kamu tidak memiliki apapun di perusahaan ini. Saham dan jabatanmu sudah saya tarik! Lebih jelasnya kamu dipecat dari perusahaan ini!" ujar om Rudi hingga membuat Anne membelalakkan mata.


"Jika memang seperti itu, maka saya pun akan keluar dari rumah!" ujar Anne dengan tatapan mata yang tajam.


Tidak ada lagi yang perlu didebatkan. Semua surat peralihan pun tanpa sadar sudah ia tanda tangani. Rasa bangga dan bahagia saat berhasil mendepak om Rudi dari kantor ini, telah membuat Anne kurang teliti. Ia tidak membaca surat-surat dari Pras dengan teliti dan seksama.


"Permisi!" ujar Anne sebelum berlalu dari hadapan sang suami.


Kepergian Anne tidak pernah di sangka sebelumnya oleh om Rudi. Tentu beliau panik saat mendengar Anne akan pergi dari rumah. Wanita keras kepala itu pasti tidak akan main-main dengan ucapannya sendiri.


"Pras! Kerahkan orang-orang kepercayaan kita untuk mengikuti Anne kemanapun dia pergi! Pastikan tidak ada musuh yang mendekat ke arahnya!" titah om Rudi kepada Pras.


...♦️♦️♦️♦️...


Brak!


"Kamu terlalu naif!" Anne memaki dirinya sendiri atas semua yang terjadi, "bodoh!" ujarnya lagi sambil memukul ranjang empuk itu


Anne tidak tahu lagi, harus pergi kemana setelah ini. Ia malu jika tinggal satu rumah bersama om Rudi setelah semua yang telah terjadi. Setelah puas menangis dan merutuki diri sendiri, Anne mulai mencari tempat untuk menenangkan diri.


"Aku butuh liburan!" ujar Anne setelah duduk di tepi ranjang. Ia menyibakkan rambutnya ke belakang. Tatapan mata itu pun menerawang jauh entah kemana.


Setelah termenung cukup lama, Anne membuka ponselnya. Ia sedang mencari tiket pesawat online yang ada penerbangan ke Bali hari ini juga. Ia memutuskan untuk menenangkan diri di sana walaupun pergi seorang diri.


"Aku harus bersiap!" ujar Anne setelah mendapatkan tiket ke Bali.

__ADS_1


Ia mengayun langkah menuju walk in closet untuk mengemas pakaiannya ke dalam koper. Entahlah, sampai kapan ia berada di pulau dewata. Sisa tabungan yang ia miliki sepertinya lebih dari cukup untuk bersenang-senang di sana.


Satu koper besar telah siap di sisi ranjang. Anne pun sudah rapi dengan membawa tas slempang berwarna hitam. Ia segera turun dari ke lantai satu untuk pamit kepada bi Sari dan beberapa asisten rumah tangga lainnya.


"Saya pergi dulu, Bi!" ucap Anne setelah berbasa-basi dengan semua ART yang bekerja di sana.


Anne pergi ke Bandara diantar langsung oleh sopir yang bekerja di rumah ini. Beban pikiran yang ada di kepalanya semakin bertambah banyak. Bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana hidupnya setelah ini.


"Tetap sehat dan kuat, oke! Kita akan liburan ke Bali," gumam Anne seraya mengusap perutnya beberapa kali.


Setelah menempuh perjalanan panjang, pada akhirnya Anne sampai di bandara. Ia segera chech in sesuai maskapai yang membawanya terbang ke Bali. Anne nekat pergi seorang diri untuk menjernihkan semua yang terjadi.


"Bali, tunggu kedatanganku!" ujar Anne setelah selesai check in.


Sementara itu, di tempat lain atau lebih tepatnya di perusahaan Royale group, om Rudi sedang mengamati foto sang istri yang baru saja dikirim oleh orang suruhannya. Raut wajah itu terlihat khawatir setelah tahu Anne pergi seorang diri ke Bali. Meskipun anak buahnya selalu siap siaga, akan tetapi om Rudi sangat mengkhawatirkan kesehatan Anne dan calon anaknya itu.


"Dia benar-benar nekat! Bagaimana bisa dia berangkat ke Bali dengan kondisi hamil muda seperti saat ini!" ujar om Rudi setelah selesai membaca pesan dari orang-orang kepercayaannya.


Om Rudi tidak mungkin menyusul Anne ke Bali saat ini. Karena banyak sekali pekerjaan kantor yang berantakan setelah drama yang beliau mainkan. Pria matang itu harus menata kembali segala proyek yang berantakan karena beberapa oknum yang memanfaatkan kelengahan sang istri.


"Pras, datanglah ke ruangan saya!" ucap om Rudi setelah panggilan telfon tersambung dengan Pras.


Tak berselang lama, Pras masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia duduk di kursi yang ada di depan meja om Rudi setelah bos nya itu mempersilahkan untuk duduk.


"Anne ada di Bali saat ini. Saya ingin pengawasan Arroy diperketat. Saya tidak mau jika dia sampai tahu, bahwa Anne berada di Bali sendiri!" ujar om Rudi seraya menatap Pras penuh arti.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...Cukup 2 bab saja ya hari ini, othor lagi sesi sibuk di rumah tetangga nih🤭...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2