
Liburan di villa telah usai. Sudah tiga hari ini Anne berada di Bali. Tidak banyak tempat yang ia kunjungi, hanya beberapa tempat wisata yang dekat dengan villa yang ia tempati. Siang ini ia harus check out dari villa indah ini karena harus kembali ke Jakarta. Merenung di tempat sepi ini berhasil membuat hatinya luluh. Ia ingin datang kepada om Rudi dan meminta maaf atas semua yang terjadi. Anne mencoba melupakan semua memori pahit tentang kematian ayahnya. Ia harus ikhlas agar hidupnya lebih tenang, karena ada kehidupan baru yang tumbuh di dalam rahimnya.
"Saya keluar sekarang! Tolong tunggu sebentar lagi," ucap Anne sebelum memutuskan sambungan telfon dengan sopir travel yang akan mengantarnya ke bandara.
Anne segera masuk ke dalam mobil hitam yang ia pesan sebelumnya. Kemungkinan Anne akan sampai di Jakarta sekitar pukul enam waktu Indonesia barat. Perjalanan darat menuju bandara lumayan jauh, Anne harus berada di dalam mobil selama beberapa jam ke depan.
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu di jalanan, pada akhirnya Anne sampai di bandara. Ia segera check in agar tidak terlambat terbang ke Jakarta. Matahari sudah berada di cakrawala barat, pertanda langit akan gelap beberapa puluh menit lagi.
...🛫🛫🛫🛫🛫🛫...
Seperti perkiraan sebelumnya, Anne sampai di Jakarta pukul enam petang. Ia membawa kopernya menuju halte penjemputan. Anne berencana naik taksi saat pulang ke rumah megah sang suami.
"Lebih baik aku istirahat dulu sambil makan roti ini," gumam Anne sebelum berjalan menuju deretan bangku panjang yang ada di lobby penjemputan.
Anne duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Ia menikmati roti coklat yang ia dapatkan dari pesawat tadi. Rasa lelah mulai menghampiri seluruh tubuhnya hingga perutnya mulai tidak nyaman.
"Hay Nona cantik!"
Anne mengalihkan pandangannya ke samping setelah mendengar suara seorang pria. Anne menaikkan satu alisnya untuk mengingat siapa pria yang ada di sisinya itu.
"Nona masih ingat dengan saya?" tanya pria tersebut setelah membuka maskernya.
"Kamu? Kamu kan ...." Anne menjeda ucapannya, ia mencoba mengingat pria yang sedang berada di sisinya saat ini.
"Roy ... Arroy!" sahut pria tersebut. Ia menatap Anne dengan senyum tipis.
Perasaan tidak nyaman mulai menyapa wanita berbadan dua itu. Apalagi saat melihat seringai di wajah tampan Roy. Hal itu membuat Anne beranjak dari tempatnya saat ini tanpa permisi.
__ADS_1
"Pasti ada yang tidak beres dengan pria itu," gumam Anne setelah menoleh ke belakang untuk sesaat. Ia mengayun langkah menuju deretan taksi terparkir di tempatnya.
Anne menatap keluar jendela taksi yang ia tumpangi saat ini. Pria bernama Roy itu tidak ada di tempat yang tadi. Anne mencoba berpikir positif dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Pak, cari jalan alternatif saja kalau bisa, saya buru-buru, Pak," ujar Anne seraya menatap sopir tersebut lewat pantulan spion dalam.
"Baik, Nona," ucap pria tersebut.
Sopir taksi tersebut mengarahkan setir mobilnya ke jalan sepi yang jarang dilalui oleh pengendara. Hanya ini jalan alternatif menuju alamat yang dituju oleh Anne. Mobil melaju dengan kecepatan sedang sesuai dengan permintaan Anne.
"Maaf, Nona. Apakah Nona mengenali mobil yang ada di belakang? Saya lihat dari tadi mobil itu mengikuti kita sejak keluar dari bandara," ucap Sopir taksi setelah beberapa puluh menit membelah jalanan ibu kota.
Tentu pertanyaan itu membuat Anne segera mengalihkan pandangannya. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan mobil siapa yang ada di belakang. Rasa cemas mulai datang menghampiri.
"Lebih cepat, Pak! Saya tidak mengenal mobil itu," ucap Anne setelah melihat mengamati mobil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Tiba-tiba saja sopir taksi itu menghentikan mobilnya secara dadakan setelah ada mobil putih yang menghadang taksi tersebut. Mau tidak mau sopir itu harus menghentikan laju mobilnya di tempat yang sepi itu. Sungguh, Anne begitu takut melihat pria bernama Roy itu mendekat ke arah mobilnya. Perasaan Anne semakin tak menentu, setelah melihat Roy turun dari mobil dan berjalan ke sisi taksi.
"Nona, apakah saya harus membuka kunci pintunya?" tanya sopir tersebut ketika Roy mengetuk kaca yang ada di sisi Anne.
"Jangan, Pak!" sergah Anne. Ia dipaksa berpikir demi keselamatan dirinya dan sopir taksi yang sudah tua itu. Anne tidak mau jika sopir ini menjadi korban Roy.
"Bagaimana ini, Nona! Dia membawa senjata tajam. Maaf sekali, saya tidak punya keberanian untuk melawan pria itu." Sopir taksi itu pun terlihat panik saat melihat Roy mengeluarkan pistol kecil dari jaketnya.
Anne terpaksa harus keluar dari mobil ketika Roy memberikan ancaman. Ia tidak mungkin mengorbankan pria tidak berdosa yang di depannya itu, "Setelah saya keluar, Bapak harus menghubungi nomor ini atau cari bantuan sebisa Bapak," ucap Anne seraya menyerahkan beberapa lembar rupiah dan kartu nama om Rudi.
Pada akhirnya, Anne keluar dari mobil dan tak berselang lama sopir taksi itu langsung melenggang. Entah mencari bantuan atau kabur dari bahaya. Anne memberanikan diri untuk menatap pria bernama Roy itu. Ia tidak habis pikir kenapa jalanan ini begitu sepi.
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Anne dengan suara yang lirih.
"Kamu!" ujar Roy dengan diiringi seringai jahat.
"Aku menginginkan kamu, Nona cantik!" ucap Roy seraya mendekat ke tempat Anne berada, "sudah lama aku merencanakan sesuatu, tapi suami tua mu itu sudah menggagalkan semuanya. Aku harus mengambilmu secara paksa!" ujar Roy dengan rahang yang mengeras.
Anne melangkah mundur karena takut melihat Roy. Tubuhnya tidak bisa lagi bergerak karena tertahan mobil yang dikendarai Roy. Dalam kondisi seperti ini, Anne dipaksa berpikir keras untuk menyelamatkan diri.
"Masuk ke mobilku dengan cara baik-baik atau timah panas ini akan melukai kaki mulusmu itu!" ancam Roy seraya mengarahkan pistolnya ke arah kaki Anne.
Mau tidak mau Anne harus mengikuti permintaan Roy. Ia berjalan menuju sisi kiri mobil tersebut. Ia membuka pintu mobil saat Roy sudah masuk melalui pintu sebelah kanan. Namun, bukannya masuk ke dalam mobil, Anne malah membalikkan diri dan berlari sekuat tenaga untuk kabur dari Roy.
Sesekali Anne menengok ke belakang, ternyata Roy pun mengejarnya. Anne semakin takut karena Roy sudah berteriak dengan mengancam akan menembak kaki Anne.
"Aaaw!" Anne menjerit ketika kakinya masuk ke dalam jalan berlubang dan pada akhirnya ia tersungkur di atas aspal tersebut. Segera ia membalikkan tubuh untuk melihat Roy.
"Kamu mau kemana, Nona cantik?" ujar Roy dengan napas yang terengah, ia berkacak pinggang di dekat kaki Anne, "rupanya kamu ingin merasakan timah panas ini, Sayang!" Roy mulai menarik pelatuk senjatanya.
Air mata itu semakin mengalir deras. Anne bergerak mundur saat Roy mulai mengarahkan senjata ke arah kakinya. Anne ketakutan, ia hanya bisa pasrah saat ini. Apalagi saat merasakan rasa nyeri di perutnya.
Dor!
...🌹Selamat membaca🌹...
...Waduh!!!! apa ya yang terjadi?...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1