
"Kemarilah, Sayang!" Om Rudi menepuk pahanya, sebuah kode agar Anne duduk di atas pangkuannya.
Gadis berambut pendek itu beringsut naik ke atas pangkuan sang suami. Ia tersenyum manis untuk memikat pria matang yang ada di hadapannya itu. Ada rasa aneh yang menggelitik dalam diri saat om Rudi melingkarkan kedua tangannya di balik punggung Anne.
"Saya mau ini dihilangkan! Saya tidak suka kumis dan jenggot tebal!" ucap Anne dengan suara yang manja tatkala menyentuh wajah sang suami.
"Ya ... ya ... ya ... Rupanya istriku banyak maunya!" Om Rudi tak melepaskan pandangan dari wajah sang istri. Terbesit rasa bahagia yang menjalar dalam diri pria matang itu.
"Salah sendiri kenapa Om menikah sama anak kuliahan!" ujar Anne dengan tangan yang masih bermain-main di jenggot tersebut.
Om Rudi hanya tersenyum menanggapi jawaban dari Anne. Beliau semakin gemas melihat sikap yang ditunjukkan Anne malam ini. Rasanya, ingin sekali beliau menerkam istri kecilnya itu saat ini juga untuk menikmati malam pertama yang belum sempat terlaksana.
"Apa saja yang kamu lakukan di salon bersama Dara?" tanya om Rudi.
"Kami menghabiskan uang untuk semua jenis perawatan!" jawab Anne tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Sepertinya, setelah ini Om harus bekerja lebih keras lagi deh! Karena saya mulai menikmati kartu ajaib yang Om berikan kala itu!" Anne menepuk bahu om Rudi beberapa kali.
Om Rudi tergelak mendengar penuturan sang istri. Beliau mer°mas kedua bongkahan padat yang ada di atas pangkuannya itu, "Uang Om tidak akan habis walau kamu menggesek kartu itu untuk membeli pulau! Tapi sepertinya, setelah ini kamu harus sering menghabiskan waktu di ruang gym!" ujar om Rudi.
Anne menautkan kedua alisnya setelah mendengar ucapan itu. Ia turun dari pangkuan om Rudi setelah melihat penunjuk waktu yang ada di kamar tersebut. Anne merapikan gaun malam yang tersingkap itu sebelum bertanya maksud ucapan sang suami.
"Kenapa begitu?" tanya Anne, jujur saja ia sangat penasaran akan hal itu.
"Karena kamu harus menjaga stamina supaya bisa mengimbangi permainan kita nanti!" Om Rudi ikut berdiri dari tepi ranjang.
Anne mengulum senyum mendengar hal itu. Bahkan, ia tidak percaya jika tenaga om Rudi masih prima di atas ranjang. Ia segera mengayun langkah menjauh dari om Rudi dan berniat kembali ke kamarnya.
"Memangnya Om masih kuat bermain lama?" tanya anne sebelum membuka handle pintu.
"Kita buktikan saja! Siapa yang akan kalah dalam permainan!" ujar om Rudi dengan bangga.
__ADS_1
Anne hanya menjulurkan lidahnya sebelum keluar dari kamar tersebut. Ia melambaikan tangan sebelum menghilang di balik pintu berwarna putih itu. Ia tidak mau jika sampai ada orang rumah yang melihatnya berada dalam kamar utama rumah tersebut.
...****************...
Mentari pagi sebentar lagi akan hadir untuk memberikan senyum hangat kepada semua insan. Siluet kekuningan masih menghiasi cakrawala timur karena sang raja sinar belum menampakkan diri sepenuhnya.
"An, Anne!" Dara mengguncang tubuh sahabatnya yang masih terlelap itu.
"Ih! An! Anne ...," teriak Dara dengan suara yang lebih lantang agar gadis yang masih bergelung di balik selimut tebal itu segera membuka kelopak mata.
Setelah beberapa menit mengguncang tubuh Anne, pada akhirnya gadis berambut pendek itu membuka kelopak mata. Ia masih terlihat ngantuk dan tidak semangat untuk menyambut pagi.
"Ada apa, sih, Dar?" tanya Anne tanpa menatap Dara.
Kemudian, Dara ikut merebahkan tubuh di sisi Anne. Ada hal penting yang harus ia bicarakan pagi ini bersama Anne. Semua pasti tak jauh dari sang kekasih, Arjuna Satya Agung.
"Aku ingin pergi ke Bandung lagi dalam kurun waktu yang lama!" keluh Dara tanpa menatap Anne. Ia mengamati langit-langit kamar itu sambil menunggu jawaban dari Anne.
"Eh tunggu deh!" Dara mengendus-endus ketika hidungnya mencium aroma yang sangat familiar itu.
"Di sini seperti ada aroma parfumnya ... emmm siapa ya? Aduh pakai lupa lagi!" Dara masih sibuk mencari dari mana asalnya aroma tersebut.
Mata kantuk Anne seketika terbuka lebar setelah mendengar pernyataan dari Dara. Irama jantungnya pun semakin berdetak tak karuan karena takut Dara tahu jika om Rudi tadi malam menyusulnya tidur di kamar ini.
"Jangan aneh-aneh deh!" Anne mencoba menetralkan ketakutannya.
"Iya, An! Aku serius! ini seperti aroma parfumnya siapa gitu ya?Aku sering kok mencium aroma ini!" Dara masih mencari sumber aroma parfum tersebut.
"Jangan ngaco! Aku jadi takut deh tidur di kamar ini!" kilah Anne dengan raut wajah yang dibuat ketakutan.
Anne bersikap layaknya orang sedang ketakutan agar Dara tidak curiga kepadanya. Beberapa kali ia mencari kesempatan untuk mencium aroma tubuhnya sendiri. Memang benar jika parfum om Rudi tercium di sana.
__ADS_1
"Ah sudahlah! Daripada kita menerka yang Enggak-Enggak! Lebih baik kamu membantu ku mencari ide saja deh, An!" ucap Dara ketika teringat permasalahan pagi ini.
Dara mengatakan jika ingin pergi ke Bandung selama satu minggu. Ia ingin menemani Juna yang sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan tadi malam. Namun, Dara sendiri takut berpamitan kepada om Rudi. Pasti ayahnya itu akan memberikan banyak pertanyaan untuknya.
"Terus bagaimana keadaan Juna sekarang?" tanya Anne, ia pun khawatir dengan pacar sahabatnya itu.
"Dia mengalami patah tulang di tangan, An!" jawab Dara dengan suara yang lirih.
"Duh! Kok bisa sih?" Anne terkejut mendengar kabar itu.
"Entahlah! Aku harus alasan apalagi kepada Papi, An?" Dara benar-benar dilanda rasa bingung.
Duduk bersandar di headboard ranjang sambil memikirkan cara agar putri sambungnya bisa menemui sang kekasih di Bandung. Hingga beberapa detik berlalu, Anne tak kunjung menemukan ide untuk berbohong lagi.
"Lebih baik kamu jujur aja deh, Dar!" ucap Anne hingga membuat Dara menoleh ke arahnya.
"Jangan cari mati deh, Anne Malila!" Dara berdecak mendengar saran dari sahabatnya itu.
Keheningan kembali menyapa saat kedua gadis itu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dara terlihat cemas karena memikirkan kondisi sang kekasih. Bagi Dara, Juna adalah pria sejati yang paling mengerti dirinya. Dara benar-benar bucin kepada pria tersebut, lagi pula keluarga Juna pun sangat menyayangi putri semata wayang om Rudi itu.
"An, aku ada ide nih! Tapi kamu harus terlibat kali ini!" Dara menatap Anne penuh arti.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan!" Anne menatap putri sambungnya itu dengan intens.
Bukannya segera menyampaikan idenya, Dara malah tersenyum sendiri dengan pandangan lurus ke depan. Mungkin, kali ini idenya terlalu lucu untuk dilakukan sampai-sampai Dara tak mampu menahan senyum manisnya. Beberapa menit kemudian, Dara mendekat ke tempat Anne. Ia menyampaikan rencananya dengan suara yang lirih.
"Jangan gila deh, Dar!" ujar Anne setah mendengar apa yang disampaikan oleh Dara.
...🌷Selamat Membaca🌷...
...🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1