
"Sepertinya aku tidak asing dengan wajah istrimu, Rud!" gumam tante Marlina.
Anne mengernyitkan keningnya ketika mendengar ucapan tante Marlina. Ia penasaran dengan pernyataan teman suaminya itu. Rasa penasaran semakin mendera karena tante Marlina tak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Istrimu sepertinya mirip seseorang, tapi siapa ya?" Tante Marlina masih mengamati Anne, beliau mencoba mengingat di mana pernah bertemu dengan Anne. Wanita cantik itu sepertinya pernah melihat Anne, akan tetapi entah di mana.
"Sepertinya, aku sering melihat foto istrimu, tapi aku lupa di mana," lanjut tante Marlina.
"Istriku ini adalah putrinya Sekar, teman sekelas kita, Lin!" jawab om Rudi dengan tegas.
Tentu saja semua yang ada di sana terkejut mendengar pengakuan om Rudi. Begitu pun dengan tante Marlina, wanita berparas cantik itu benar-benar terkejut mendengar jawaban om Rudi.
"Lu gila, Rud! Gak dapat Ibunya malah dapat anaknya! OMG, lu benar-benar ya!" Tanpa sadar tante Marlina melontarkan kalimat itu.
Apa yang diucapkan tante Marlina tentu saja membuat Anne tidak nyaman. Ia tetap tersenyum walau terpaksa. Kenyataan yang diucapkan tante Marlina nyatanya berhasil membuat gemuruh di hati. Perasaan yang sudah lama hilang kini hadir kembali. Namun, sekuat tenaga Anne menekan semua itu, karena ia sudah berjanji untuk melupakan apapun yang terjadi di masa lalu.
"Astaga! Maaf, maaf, Sayang! Tante tidak bermaksud menyinggung perasaanmu," ucap tante Marlina ketika melihat mendung dalam sorot mata Anne.
Tante Marlina memeluk Anne beberapa detik, beliau mengembangkan senyumnya seraya mengusap pipi Anne untuk beberapa saat. Wajah cantik Anne berhasil mengingatkannya dengan sosok teman yang dulu pernah menemaninya saat kuliah.
"Tuhan begitu adil, Lin, karena sudah mengirim dia dalam hidupku. Setiap hari aku berasa muda karena bahagia bersamanya," ucap om Rudi dengan sikap yang tenang.
"Ya, ya, ya, aku paham! Memiliki daun muda memang membahagiakan, Rud!" jawab tante Marlina seraya tertawa kecil.
"Percaya dong ya! Ehem, yang suka berondong pasti mah selalu awet muda!" sahut wanita lain yang ada di sana.
"Iya nih! Marlina dan Rudi sama saja! Penyuka yang muda! Duh, kita mah kalah! Ye kan?" ujar teman om Rudi yang lain.
Semua orang tergelak mendengar candaan beberapa orang yang ada di sana. Mereka bercengkrama dan bernostalgia membahas kenangan saat kuliah dulu.
"Kamu sudah menikah lagi, Lin?" tanya om Rudi setelah tahu bahwa suami Marlina meninggal.
"Dia mah gak nikah, Rud! Suka main-main doang sama brondong!" Tante berjilbab ikut menjawab pertanyaan om Rudi.
__ADS_1
"Sembarang! Aku udah menikah, ya! Awas saja kalau kalian tertarik sama suamiku nanti!" ujar tante Marlina.
Om Rudi hanya tersenyum melihat candaan teman-temannya. Begitu pun juga Anne, ia begitu menikmati suasana di sana, karena ternyata teman-teman om Rudi tidak seperti yang ada dalam bayangannya.
"Selamat pagi,"
Terdengar suara bariton seorang pria yang baru saja tiba di belakang om Rudi dan Anne. Suara itu membuat perasaan tidak nyaman di hati Anne, karena sangat suara itu begitu familiar di indera pendengarannya.
"Hay, Sayang! Sini aku kenalin ke temen-temen!" ujar tante Marlina.
Deg. Jantung Anne rasanya berhenti berdetak setelah melihat pria yang berdiri di sisi tante Marlina. Seorang pria yang dulu sangat berarti dalam hidup Anne, kini ikut membaur di sana.
"Bagus." Anne bergumam lirih ketika bola matanya beradu pandang dengan pria yang ada di sisi tante Marlina.
Ekspresi wajah om Rudi mendadak berubah ketika melihat kehadiran Bagus di sana. Beliau tidak menyangka jika mantan kekasih sang istri ternyata menjalin hubungan dengan teman sekelasnya dulu.
"Aku tinggal ke sana! Aku mau menemui Darto dulu!" pamit om Rudi kepada tante Marlina dan temannya, "Ayo, Sayang!" ucap om Rudi seraya menatap Anne sekilas.
Pergi ke tempat lain sepertinya jauh lebih baik daripada harus berada di sana bersama Bagus. Om Rudi mengajak Anne untuk bertemu dengan teman yang lain. Kini, sepasang suami istri itu bergabung dengan om-om yang membawa pasangan.
Setelah pamit kepada teman-temannya. Om Rudi membawa Anne ke tempat yang disediakan untuk acara nanti. Om Rudi memilih tempat di sudut ruangan, cukup nyaman untuk bersantai karena agak jauh dari kerumunan.
"Papi, saya sudah lapar!" ujar Anne setelah duduk di kursinya. Ia duduk bersanding dengan om Rudi dan membiarkan dua kursi lainnya kosong.
"Sayang, kenapa panggil papi lagi?" tanya om Rudi seraya menatap sang istri.
"Tadi kan hanya pura-pura di depan teman-teman Papi," ucap Anne seraya menatap sang suami.
"Tapi Papi suka loh jika kamu mau memanggil Papi dengan sebutan 'Mas' dan pakai bahasa yang biasa saja. Serasa jadi suami istri beneran gitu," ucap om Rudi seraya menatap Anne.
Anne membuang muka ke arah lain karena malu mendengar permintaan sang suami. Memang sih tidak ada salahnya jika mengalihkan panggilan menjadi 'Mas', akan tetapi Anne merasa aneh saja karena tidak terbiasa memangil dengan sebutan itu.
"Udah ah! Gak mau bahas itu lagi," ucap Anne seraya mencubit Punggung tangan om Rudi.
__ADS_1
"Mau ya?"
"Sayang ... mau ya, ya, ya, ya!" Om Rudi semakin menggoda Anne. Beliau tidak menghiraukan keadaan di sekitar.
"Ih! Nakal banget sih!" Anne berdecak kesal melihat kelakukan sang suami, "udah ah! Itu loh acaranya sudah dimulai! Diam dulu!" ujar Anne setelah mendengar suara panita yang mengintruksikan para undangan agar duduk di tempat masing-masing.
Semua orang mencari tempat sebelum acara benar-benar dimulai. Perasaan tidak nyaman mulai menjalar dalam diri Anne ketika melihat tante Marlina berjalan ke arahnya. Terlihat sekali jika wanita tersebut bingung mencari tempat duduk karena semuanya sudah terisi penuh.
"Rud, boleh aku gabung di sini? Gak kebagian tempat nih!" tanya tante Marlina.
"Silahkan, Lin." Om Rudi terpaksa mempersilahkan tante Marlina duduk karena tidak enak hati jika menolak.
Atmosfer udara di sudut ruangan mendadak berubah tidak nyaman ketika tante Marlina dan Bagus duduk di sana. Memang benar, Anne sudah tidak mencintai Bagus. Namun, berada dekat bersama seseorang yang pernah menjadi sosok spesial tentu tidaklah mudah. Masih ada rasa canggung dan tidak nyaman.
"Duh! Semoga Papi gak mikir aneh-aneh!" batin Anne tanpa mengalihkan pandangan dari pengisi acara yang berdiri di atas panggung.
Anne tahu, jika Bagus sesekali mencuri pandang ke arahnya. Itulah yang membuatnya menjadi tidak nyaman. Anne takut om Rudi marah karena perihal yang tidak penting ini. Apalagi, setelah acara berlangsung, panitia memanggil om Rudi dan tante Marlina ke depan untuk menyampaikan sambutan sebagai alumni berprestasi.
Sungguh, Anne semakin tidak nyaman ketika berada di sana hanya berdua saja dengan Bagus. Ia hanya diam tanpa menoleh ke arah Bagus. Ingin rasanya ia lari dari tempat ini karena semakin situasi semakin membuatnya tidak nyaman.
"Bagaimana kabarmu, An?" tanya Bagus setelah beberapa menit terdiam.
"Aku baik-baik saja," ucap Anne seraya menatap Bagus sekilas, "kamu sendiri bagaimana?" Anne terpaksa bertanya untuk sekedar basa-basi.
"Seperti yang kamu lihat, An," ucap Bagus tanpa melepaskan pandangan dari Anne. Ia bersikap biasa saja di depan Anne, seakan tidak pernah terjadi apapun di masa lalu.
Pembicaraan terus berlanjut meski hanya sekadar basa-basi. Anne semakin tidak nyaman karena Bagus mencoba mengakrabkan diri kepadanya. Anne hanya takut saat melihat pengawas yang sedang berdiri di atas panggung.
"Astaga! Serasa diintai CCTV!" batin Anne setelah manik hitamnya beradu pandang dengan om Rudi.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Setuju gak kalau kisahnya Bagus dan tante Marlina ditulis setelah novel ini tamat?...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...