
Obrolan dari hati ke hati berlangsung di ruang tunggu yang ada di depan ICU. Momen langka yang jarang sekali terjadi meski hubungan anak dan ayah itu begitu dekat. Om Rudi terus memberikan pengertian kepada putrinya agar menerima Anne sebagai ibu sambungnya.
"Papi harap kamu mau menerima Anne, Nak!" ucap om Rudi seraya mengusap puncak rambut sang putri.
"Dara butuh waktu, Pi. Dara sudah terbiasa berada di dekat Anne sebagai sahabat. Akan tidak nyaman jika Dara menganggap dia sebagai seorang ibu," keluh Dara dengan diiringi lenguhan panjang.
"Papi tidak memaksa kamu menganggap dia sebagai ibumu. Papi hanya ingin kamu tetap menghormati dia dan bersikap seperti biasanya, tidak membenci ataupun menjauh darinya," tutur om Rudi dengan sorot mata penuh harap.
"Papi kasihan sama dia. Sejak kejadian saat itu dia benar-benar terpukul dan mengurung diri di kamar. Papi kasihan karena dia terlalu banyak tekanan dan tekanan itu salah satunya datang dari Papi," lanjut om Rudi dengan tatapan menerawang jauh entah kemana.
Dara tak segera menjawab, ia sedang memikirkan semua permintaan sang ayah karena rasanya ia merasa canggung, padahal hanya membayangkan saja. Mungkin kah setelah ini Dara akan bersikap biasa dengan sahabat yang menjadi ibu sambungnya saat ini?
Entahlah, karena hanya waktu yang bisa menjawab semua itu.
"Pulanglah! Pasti kamu belum mandi 'kan pagi ini?" Om Rudi menebak keadaan putrinya saat ini.
"Ih! Papi nyebelin! Kenapa tahu aja sih!" gerutu Dara sambil berdecak.
Om Rudi tergelak setelah melihat bibir putrinya yang mengerucut itu. Beliau mengacak-acak rambut cokelat itu hingga menjadi berantakan. Hal itu berhasil membuat Dara semakin kesal.
"Dara mau pulang dulu, mau mandi! Biar gak dibully Papi!" ujar Dara seraya beranjak dari tempatnya saat ini.
Om Rudi tersenyum saat Dara pamit dan melenggang dari ruang tunggu, meninggalkan beliau seorang diri di sana. Setelah kepergian putrinya, Om Rudi berdiri dari tempatnya. Beliau kembali berdiri di dekat kaca besar itu untuk melihat kondisi sang istri. Anne masih tak sadarkan diri, mungkin karena obat yang diberikan oleh dokter. Ingin rasanya om Rudi masuk dan mendekap tubuh yang terlihat lemah itu. Om Rudi tidak tega melihat semua yang menimpa istrinya.
__ADS_1
"Anne, maafkan saya karena sudah membuatmu menjalani hidup yang rumit. Bersabarlah! Mungkin setelah ini kita bisa menemukan ujung benang kusut yang membelenggu hubungan kita," gumam om Rudi dalam hatinya.
"Dara pasti bisa kita taklukkan dengan cinta dan kasih," lanjut om Rudi dalam batinnya.
Setelah cukup lama memandang wajah sang istri. Om Rudi kembali duduk di ruang tunggu. Beliau mengeluarkan gawai yang tersimpan di saku jaketnya untuk menghubungi Pras dan membahas mengenai urusan kantor. Selama beberapa hari ke depan, sepertinya om Rudi tidak akan pulang ke Indonesia sampai kondisi sang istri benar-benar pulih.
...💠💠💠💠...
Keesokan hari.
Pagi telah datang tuk mengusir gelapnya malam. Aktivitas kembali dimulai seperti biasa meski ini adalah akhir pekan. Sama halnya dengan Dara, mungkin hari ini gadis berambut cokelat itu akan menghabiskan weekend di rumah sakit untuk menunggu Anne.
Dara terus menatap wajah yang sedang tertidur pulas itu. Sejak tadi malam atau lebih tepatnya pukul sebelas malam waktu Jepang, Anne sudah keluar dari ruang ICU, ia dipindahkan di ruang inap karena kondisinya berangsur membaik. Trombositnya pun kembali normal setelah mendapat penanganan di ICU. Namun, Anne lebih banyak tidur sejak kemarin karena obat yang diberikan oleh dokter. Tubuhnya membutuhkan banyak istirahat, maka dari itu dokter memberikan obat yang bisa menyebabkan kantuk.
"Dara!" sapa Anne dengan suara yang lirih saat menemukan Dara duduk di sisi bednya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Dara dengan pandangan yang tak lepas dari wajah pucat itu.
"Aku baik-baik saja kok, Dar! Agak gak enak saja," keluh Anne seraya mencari posisi tidur yang nyaman.
Keadaan kembali hening, karena keduanya belum ada bahan untuk dibicarakan. Dara sibuk menatap Anne yang terlihat tidak nyaman dengan bantal yang dipakainya. Dara sendiri sebenarnya ingin bicara dengan Anne, akan tetapi ia bingung harus mulai dari mana, padahal Dara hanya bersama Anne saja di ruangan ini karena om Rudi sedang mencari sarapan di cafetaria rumah sakit.
"An ...." ucap Dara setelah Anne tenang di tempatnya.
__ADS_1
"Iya, kenapa Dar?" Anne menatap sahabatnya yang terlihat resah itu.
"Aku minta maaf karena sudah mencaci, menghina dan yang paling fatal, aku sudah menamparmu karena tidak bisa mengontrol emosi," ucap Dara seraya menatap Anne dengan tatapan mata yang sendu.
Anne mengembangkan senyumnya setelah mendengar itu. Kalimat panjang yang diucapkan oleh Dara berhasil menambah imun dalam tubuhnya. Beban berat yang menyesakkan dada seakan terangkat dan hilang begitu saja
"Seharusnya aku yang minta maaf kepadamu, Dar, karena aku tidak berterus terang sejak awal. Aku minta maaf karena sudah menyembunyikan semua ini darimu," ucap Anne dengan suara yang lirih.
"Aku tidak tahu, An, setelah ini harus bersikap bagaimana denganmu. Aku pun bingung harus memanggilmu apa? Aku takut hubungan ini membuat kita menjadi canggung," keluh Dara tanpa menatap Anne. Ia terus menundukkan kepalanya.
Anne mengalihkan pandangan ke arah lain, mencoba mencerna keresahan Dara. Apa yang diucapkan Dara memang benar adanya, ia sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada Dara setelah ini.
"Kita jalani saja, Dar! Tetaplah bersikap seperti biasanya, jangan membuat jarak diantara kita hanya karena aku istri ayahmu. Sudah lebih dari cukup bagiku jika kamu bersedia menerima kehadiranku sebagai istri ayahmu, karena aku lelah terus-terusan bermain petak umpet, Dar," ucap Anne seraya menatap Dara penuh arti.
"Baiklah kalau begitu, aku harap kamu bisa membahagiakan Papi dan menjadi istri setianya. Aku titipkan Papi kepadamu, An! Tapi ... aku butuh waktu, untuk bisa menerima kamu sebagai ibu sambungku karena aku butuh proses untuk mengubah perasaan sayangku kepadamu sebagai seorang saudara menjadi seorang ibu," ujar Dara tanpa melepaskan tatapannya dari wajah yang sedang mengembangkan senyum.
Sementara itu, di depan pintu ruang inap ada sosok pria yang sedang tersenyum manis. Raut wajahnya terlihat bahagia setelah melihat pemandangan indah lewat keca yang ada di pintu. Om Rudi bernapas lega setelah mengamati istri dan putrinya sedang berbicara dengan diiringi senyuman. Beliau bisa menebak jika hubungan keduanya kembali baik-baik saja. Sebenarnya, om Rudi berada di depan pintu tersebut sejak beberapa menit yang lalu. Namun, beliau mengurungkan niatnya untuk masuk saat melihat Dara sedang berbicara dengan Anne.
"Setelah ini, kita akan menjalani hidup normal seperti suami istri pada umumnya, An," gumam om Rudi sebelum membuka pintu tersebut.
...🌹Selamat membaca 🌹...
...Setelah ini mau bernapas dan seru-seruan dulu atau langsung masuk konflik kedua nih? Othor kasih tau bocoran ye, kali ini konfliknya rada beratðŸ¤eits tapi tenang aja, di sini gak akan ada pelakor ataupun pebinor!! okay?...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...