Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Pernikahan Resmi,


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Pernikahan adalah suatu hal sakral yang didambakan semua orang. Apalagi, pernikahan itu di dasari dengan perasaan cintai dari keduanya. Dua warna yang berbeda membaur menjadi satu dalam ikatan suci sang mempelai.


Kebahagiaan menyelimuti kedua keluarga yang sedang menyiapkan segala keperluan untuk akad nikah resmi Juna dan Dara di hari esok. Seperti rencana yang disusun Anne dan om Rudi sebelumnya, pernikahan itu diselenggarakan di dua tempat yang berbeda.


Saat itu, keluarga inti Juna sengaja datang ke Jakarta untuk membicarakan pernikahan putranya. Tentu kedatangan mereka disambut dengan baik oleh om Rudi dan Anne. Mereka membahas hari baik untuk pernikahan dua sejoli yang berada di Jepang kala itu. Pada akhirnya pak Arif menyetujui bagaimana acara tersebut akan digelar.


Akad nikah akan digelar di ruang tamu yang sudah di dekorasi dengan begitu indahnya. Dara menolak untuk menyewa hotel hanya untuk akad nikah saja. Ia ingin acara sakral itu dilaksanakan di rumahnya sendiri, di mana banyak kenangan yang tersimpan rapi di tempat masa kecilnya ini.


Resepsi pernikahan akan digelar di Bandung. Resepsi itu akan digelar outdoor di salah satu kawasan hutan pinus yang biasa dipakai untuk resepsi pernikahan. EO profesional telah ditugaskan Anne untuk mengurus semua persiapan resepsi mewah putri sambungnya.


"Mici, terima kasih sudah menyiapkan semua ini untukku," ucap Dara seraya memeluk wanita super yang sedang mengamati dekorasi indah di ruang tamu.


Dara Dan Juna pulang dua minggu setelah wisuda. Mereka sudah menyelesaikan segala urusan di Jepang. Mungkin setelah resepsi dan bulan madu, mereka akan mulai bekerja di perusahaan yang ada di Bandung. Beberapa waktu yang lalu, mereka berdua sudah meninjau seperti apa kondisi di dalam perusahaan tersebut.


"Kamu bahagia, Dar?" tanya Anne setelah menatap wajah putri sambungnya sekilas.


"Tentu. Aku sangat bahagia. Impianku selama ini terwujud. Lusa aku akan menjadi prinses seperti cita-citaku dulu," ucap Dara tanpa melepaskan kedua tangannya dari pinggang Anne.


Anne tersenyum simpul mendengar penuturan Dara. Ia bisa merasakan betapa bahagianya Dara saat ini karena bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi ratu sehari semalam. Ada rasa sakit yang menjalar di hati saat kenangan pahit itu kembali hadir di kepalanya. Tentu, ada perasaan iri yang merasuk ke dalam hati ketika melihat semua pesta ini. Sekuat tenaga Anne menyingkirkan semua rasa yang menyesakkan dada.


"Andai Papa dan Mama masih ada di sini. Mungkin nasibku tidak seperti ini. Aku pasti bisa merasakan apa yang dirasakan Dara saat ini," bantin Anne saat pandangannya menyapu segala yang ada.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak boleh seperti ini! Aku bisa bahagia walaupun tanpa semua ini. Aku harus bersabar, mungkin sebentar lagi semua impianku terwujud." Anne bergumam dalam hati seraya menyeka air mata yang sempat membasahi pipi.


Dara mengurai tubuhnya setelah menyadari jika ekspresi wajah Anne berubah sendu. Ia menatap wajah Anne dari samping hingga ibu sambungnya itu sadar dari lamunannya.


"Apa yang membuatmu sedih?" tanya Dara setelah Anne tersenyum ke arahnya walau hanya sesaat.


Anne menggeleng pelan setelah mendengar pertanyaan itu. Ia berusaha tersenyum kembali walau berat. Hati terlanjur sedih karena suatu hal yang tidak bisa diungkapkan.


"Tidak ada, aku hanya ingat Mama dan Papa," jawab Anne dengan suara yang lirih.


Wajah berseri berselimut rasa bahagia sirna begitu saja saat Dara menyadari ibu sambungnya sedang tidak baik-baik saja. Ia tahu apa yang membuat wanita itu menangis. Sungguh, Dara sangat prihatin saat teringat segala takdir yang sudah dijalani oleh Anne.


"Maaf." hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Dara. Ia menundukkan pandangannya karena tidak sanggup menatap kesedihan wanita yang ada di sisinya itu.


"Tidak ada yang perlu dibahas, Dar, semua sudah berjalan dua tahun lebih," ucap Anne seraya menatap Dara dengan mata yang berembun.


Sekali lagi, Dara mendekap tubuh itu. Ia tidak sanggup menatap wajah sendu ibu sambungnya. Ada rasa nyeri ketika membayangkan semua itu menimpa dirinya.


*****


Pagi telah hadir kala sang mentari menampak diri di cakrawala timur. Kediaman om Rudi sudah dipenuhi banyak tamu private dan keluarga besar om Rudi maupun pak Arif. Mereka semua sudah siap menjadi saksi pernikahan sakral diantara Dara dan Juna. Tinggal menunggu penghulu yang masih berada di jalan.


Beberapa menit kemudian, penghulu itu datang dan tak lama setelah itu, terlihat dari ruang keluarga Dara berjalan bersama Anne menuju ruang tamu. Putri semata wayang om Rudi itu terlihat sangat anggun dengan balutan kebaya modern berwarna putih tulang—salah satu hasil karya designer kondang di Indonesia. Pagi ini Dara sengaja memakai hijab untuk acara sakral yang sebentar lagi akan dimulai. Ia duduk di sisi Juna dengan wajah yang tertunduk.

__ADS_1


Semua orang sudah siap mendengarkan lantunan ayat suci yang dibacakan seorang ustadz sebelum ijab kabul dimulai. Juna mulai menjabat tangan pak penghulu yang ditunjuk om Rudi sebagai wali yang mewakili beliau. Pria berusia lima puluh tahun itu belum siap menikahkan putrinya sendiri. Maka dari itu, daripada nanti salah dalam mengucapkan nama, beliau memilih untuk pasrah kepada pak penghulu saja.


Suara lantang Juna menggema di dalam ruang tamu tersebut saat mengucapkan akad nikah untuk yang kedua kalinya. Ia begitu fasih dan lancar dalam berikrar. Meski ini bukan ijab kabul yang pertama, akan tetapi rasanya lebih mendebarkan dari pernikahan siri kala itu.


"Saudara Juna Satya Agung dan saudari Danira Puspa Baskoro, anda berdua dinyatakan sah sebagai seorang istri. Ini surat pernikahan untuk kalian berdua. Mohon disimpan dengan baik," ucap pak penghulu setelah sepasang suami istri itu menandatangani surat-surat yang ada di dalam map.


Semua orang ikut tersenyum tatkala melihat Dara dan Juna beradu pandang dengan senyum manisnya. Anne sampai menitikkan air matanya tatkala melihat sahabat sekaligus putri sambungnya itu bahagia bersama Juna.


Setelah pak Penghulu dan jajarannya pamit pulang, semua orang yang hadir di sana bergantian mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin itu.


"Selamat, Baby. Selamat karena impianmu terwujud selama ini. Aku mengucapkan semua ini sebagai sahabatmu—sahabat yang menjadi saksi cinta kalian selama ini," ucap Anne seraya menatap Dara penuh arti.


"Terima kasih, Baby. Kamu memang yang terbaik." Dara kembali merengkuh tubuh wanita cantik yang menemaninya selama ini.


Om Rudi hanya bisa tersenyum melihat kedekatan anak dan istrinya. Beliau sangat bersyukur karena Tuhan mengirim dua wanita cantik itu dalam hidupnya. Tidak ada hal lain yang beliau inginkan selain kerukuranan dalam rumah tangganya.


"Tetaplah seperti ini. Jangan pernah kalian bertengkar hingga menimbulkan perpecahan keluarga," ucap om Rudi setelah menatap Anne dan Dara.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Kuy besok hadir dalam resepsi pernikahan Juna dan Dara😁siapkan amplop yee mak😂jangan lupa bawa tas gede, siapa tahu berguna buat nyulik hidangan di sana nanti....


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2