Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Ada masalah di Surabaya,


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Segala aktifitas berjalan seperti biasanya. Hari-hari sibuk di kantor telah dijalani Anne dan om Rudi setiap hari. Proposal pembangunan semakin banyak berdatangan. Kebanyakan proyek-proyek tersebut berasal dari real estate. Proyek pariwisata di Bandung yang ditangani Anne pun sudah berjalan lima puluh persen.


"Papi, saya gak habis loh makan sayur sebanyak ini!" protes Anne saat makan siang bersama di ruangan om Rudi.


"Sayang, ini semua demi kebaikan kamu. Coba lihat sekarang! Badan kamu mulai terisi loh! Lebih sexy dan menggoda," jawab om Rudi seraya menatap sang istri dengan tatapan penuh arti.


"Apaan sih, Pi!" Anne tersipu setelah beradu pandang dengan sang suami.


Ya, berat badan Anne selama satu bulan ini naik beberapa kilo. Tubuhnya semakin terlihat berisi, apalagi bagian dadanya, terlihat semakin berisi dan begitu menantang sang suami. Susu yang dibuatkan om Rudi sendiri setiap malam ternyata berhasil. Anne semakin percaya diri saat sang suami menatapnya dengan penuh kekaguman.


"Harusnya Papi yang banyak makan sayur!" ujar Anne setelah minum segelas air putih.


"Papi udah makan sayur, Sayang. Coba lihat!" Om Rudi menunjukkan sayuran yang hampir habis, "Papi gak mau menambah berat badan, takut kolestrol dan hipertensi!" ujar om Rudi.


"Bukan itu!" Anne menatap sang suami penuh arti, "Papi itu harus makan banyak sayur biar tambah kuat dan lebih tahan lama!" Anne menatap om Rudi penuh arti, "akhir-akhir ini tuh, ya, durasi Papi gak seperti biasa, gak kayak biasanya pun!" Anne berdecak kesal menatap sang suami yang sedang mengulum senyum.


"Kurang hot ya?" Satu sudut bibir om Rudi tertarik ke dalam setelah mendengar protes sang istri.


"Nah, itu Papi tahu!" Anne mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia malu karena melayangkan protes masalah s•ksualitas kepada suaminya itu.


Memang benar, jika om Rudi akhir-akhir ini sangat berbeda saat bermain di atas ranjang. Lebih lembut dan tidak seberapa lama. Permainan itu setiap kali berakhir saat posisi Anne di bawah dengan bantal yang ada di pinggulnya. Aktifitas panas itu pun tidak sesering biasanya.


"Kamu tahu sendiri kan, Sayang ... akhir-akhir ini Papi sering lembur. Nanti jika semua pekerjaan selesai, kita bisa bermain-main seperti biasanya," ucap om Rudi seraya menatap Anne penuh arti.

__ADS_1


Makan siang dengan selingan pembahasan masalah ranjang akhirnya usai. Setelah merapikan peralatan makan, Anne segera kembali ke ruangannya. Ia harus kembali bekerja untuk menyiapkan bahan rapat besok pagi karena sudah dua hari ini Risa cuti karena sakit. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan Anne hari ini.


Anne fokus pada layar laptopnya. Ia membaca rangkaian bahan rapat yang sudah tersusun di sana. Tinggal beberapa poin lagi yang harus ditambahkan maka laporan pun akan selesai.


Bunyi notifikasi pesan di ponsel Anne, membuatnya segera mengalihkan pandangan ke sisi laptop, di mana ponselnya berada saat ini. Ia membaca satu pesan dari Pras yang berhasil membuatnya tersenyum penuh arti.


Persiapkan berkas yang kemarin!


Anne segera membuka laci paling bawah yang terkunci itu setelah membaca pesan dari Pras. Ia mengeluarkan map kuning yang sudah lama tersimpan di sana. Anne menyeringai setelah membaca ulang isi berkas tersebut.


"Papa, doakan semuanya lancar," gumam Anne di dalam hati. Sosok ayah yang sangat dicintainya itu tiba-tiba terlintas dalam angan.


Beberapa menit kemudian, Anne segera beranjak dari tempatnya setelah menerima pesan kedua dari Pras. Ia membawa map itu keluar dari ruangannya. Ia mengayun langkah menuju ruangan sang suami.


"Papi!" ujar Anne setelah membuka pintu ruangan tersebut. Ia terkejut karena om Rudi berada di balik pintu.


Anne tertegun setelah mendengar berita itu. Namun, ia segera sadar jika membutuhkan tanda tangan sang suami. Segera ia mengejar suaminya itu sebelum masuk ke dalam lift.


"Papi, ada berkas yang membutuhkan persetujuan Papi!" ujar Anne setelah sampai di belakang sang suami.


"Berkas apa lagi, Sayang? Bisa ditunda saat Papi pulang 'kan?" tanya om Rudi seraya menatap Anne.


Pras sudah berada di depan lift. Ia menatap interaksi om Rudi dan Anne, hal itu membuatnya tersenyum tipis. Pada akhirnya perjanjian dengan Anne akan selesai setelah ini. Tugas yang menyita waktu di luar jam kerja akan selesai. Ia bisa bernapas lega setelah ini.


"Papi harus membaca laporannya dulu, Sayang," sergah om Rudi karena Anne tetep keukeh pada pendiriannya.

__ADS_1


"Papi mau berangkat 'kan? lebih baik ini ditanda tangani dulu, Pi. Dengan begitu semua akan berjalan lancar!" Anne tidak mau kalah berdebat dengan sang suami.


Tanpa berpikir panjang, om Rudi pun menandatangi semua berkas yang ada di dalam map tersebut. Beliau tidak sempat membaca semua isi kertas yang diberikan Anne.


"Terima kasih, Pi," ucap Anne setelah om Rudi selesai menanda tangani semua berkas darinya, "nanti kabari saya setelah Papi sampai di sana!" ucap Anne sebelum mendaratkan kecupan mesra di bibir sang suami.


Tentu hal itu membuat Pras segera mengalihkan pandangannya. Ia malu melihat kemesraan sepasang suami istri itu. Sebagai seorang single membuatnya merasa tertampar melihat adegan seperti itu.


"Aiih! Suami istri sama saja! Apa gak ada tempat buat salam perpisahan selain di sini!" gerutu Pras di dalam hati.


Anne melambaikan tangannya sebelum pintu lift itu tertutup rapat, "Hati-hati, Pi!" ujarnya seraya tersenyum manis.


Anne segera kembali ke ruangannya. Ia duduk bersandar di kursinya seraya mengembangkan senyum tipis. Tatapan matanya tak lepas dari map kuning yang ada di depan mejanya. Sungguh, ia tidak menyangka jika semua rencananya tersusun dengan rapi. Apa yang diinginkannya akan segera terwujud setelah ini.


"Tuhan, terima kasih karena Engkau sudah melancarkan jalanku," gumam Anne dalam hatinya.


Rasa di dalam dada membaur menjadi satu setelah Anne membuka map tersebut. Sekali lagi ia membaca semua surat yang sudah diberikan Pras kepadanya. Seberkas sinar harapan terlihat menerangi jalannya meraih semua mimpi yang ia inginkan. Kedua sudut bibir itu tak henti tersenyum saat membayangkan bagaimana keseruan kejutan saat sang suami pulang nanti.


"Tidak sia-sia aku bersabar selama beberapa tahun ini. Aku telah belajar dari pengalaman pahit yang selama ini aku rasakan. Semua kebenaran itu akan terkuak!" batin Anne setelah selesai menutup map tersebut,


"Papa ... putrimu ini berhasil menjadi wanita sukses! Papa tenanglah di sana," gumam Anne seraya menutup kelopak matanya. Bulir air mata tiba-tiba saja mengalir dari pelupuk mata.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Ada apakah setelah ini??? Kuy tulis di kolom komentar😂...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2