Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Kabar mengejutkan!


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, tidak terasa satu minggu telah berlalu begitu saja. Segala aktifitas berjalan seperti biasa dan Anne pun mulai menyesuaikan diri lingkungan kantor. Ia mulai membaur dengan beberapa karyawan bagian lain karena setiap istirahat ia selalu datang ke cafetaria perusahaan bersama Risa. Di sana Anne mulai dikenalkan Risa dengan beberapa karyawan kantor. Om Rudi membiarkan hal itu, beliau memberikan Anne ruang untuk beradaptasi dengan karyawannya dan tentu saja pengecualian untuk karyawan pria.


"An, hari ini kita akan lembur," ucap Risa setelah berdiri dari kursinya.


"Lembur? Kenapa harus lembur, Bu?" tanya Anne seraya menatap Risa yang sedang berjalan menuju almari kaca tempat berkas penting tersimpan.


Setelah melewati hari pertama kerja, Anne memutuskan memanggil Risa dan Pras dengan bahasa yang lebih formal. Awalnya mereka berdua keberatan. Namun, setelah mendengar penjelasan dari Anne, mereka tidak protes lagi. Panggilan 'pak' dan 'bu' lebih memudahkan Anne dalam berkomunikasi.


"Ya, di akhir bulan pak Rudi sering lembur. Saya dan pak Pras pun harus ikut lembur untuk membantu pak Rudi menyiapkan laporan keuangan kantor. Tidak lama kok lemburnya," ucap Risa setelah kembali duduk ke kursinya.


Bunyi telepon yang ada di meja Risa menghentikan pembicaraan mereka berdua. Risa masih berbicara dengan penelpon yang tak lain adalah om Rudi. Anne tahu akan hal itu, karena beberapa kali Risa menyebut nama suaminya.


"An, kamu disuruh pak Rudi membantu mengecek laporan di ruangannya. Sekaligus bawa laporan yang ada di map kuning, ya," ucap Risa setelah panggilan tersebut terputus.


"Baik, Bu," ucap Anne seraya berdiri dari tempat duduknya. Ia mengambil berkas sesuai dengan yang disebutkan oleh Risa.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Anne masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia segera duduk di kursi yang ada di sebrang meja kerja, tak lupa ia menyerahkan berkas yang disebutkan oleh Risa tadi.


"Pi, hari ini lembur, ya?" tanya Anne tanpa menatap sang suami.


"Iya, kita harus lembur, Sayang," jawab om Rudi seraya membuka berkas yang dibawa oleh Anne, "kenapa? Apa kamu lelah?" tanya om Rudi setelah menatap Anne sekilas.


"Bukan saya yang lelah, tapi saya khawatir saja dengan kesehatan Papi," ucap Anne, kali ini ia menatap wajah yang sedang serius tersebut.


Kedua sudut bibir itu tertarik ke dalam saat mendengar perhatian kecil dari sang istri. Ada rasa hangat yang menjalar dalam hati tatkala Anne mengkhawatirkan keadaannya. Mungkin, Anne sudah mulai memiliki rasa yang sama dengannya. Begitu pikir om Rudi.

__ADS_1


"Sayang, bisa buatkan Papi kopi hitam?" tanya Om Rudi setelah berpuluh-puluh menit fokus pada laporannya, "Sekalian bawa kacang favorit Papi yang sudah tersedia di pantri," lanjut om Rudi.


Setelah mendengar perintah dari om Rudi, segera Anne keluar dari ruangan tersebut menuju pantri untuk menyiapkan request dari atasannya itu. Beberapa menit kemudian, Anne telah kembali dengan membawa nampan berisi kopi dan kacang permintaan dari om Rudi.


"Pi, jangan makan kacang berlebihan! Ingat! Papi udah berumur loh!" ujar Anne setelah meletakkan toples kacang itu di sisi kanan sang suami.


"Belum juga dimakan, Sayang!" protes om Rudi seraya menatap Anne yang baru saja duduk di kursi.


"Saya hanya ingin mengingatkan saja, karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik!" ucap Anne tanpa menatap wajah sang suami.


Mendengar hal itu, membuat om Rudi kembali tersenyum. Keduanya kembali fokus ke pekerjaan masing-masing tanpa adanya pembahasan seputar kacang dan lain-lain.


...💠💠💠💠...


Tepat pukul delapan malam Anne sampai di apartment. Ia menghempaskan diri di atas sofa ruangan tamu untuk meregangkan otot-otot tubuh yang kaku. Lembur beberapa jam saja sudah membuat Anne merasa lelah. Tak lama setelah itu, Ia segera merogoh tas yang ada di sisinya setelah mendengar ponselnya berdering.


"Ya sudah, Papi gak udah nginep di sini! Papi di rumah saja dari pada harus bolak-balik!" ucap Anne sambil memijat pangkal hidungnya, "jangan lembur terlalu malam, Pi! Jaga kesehatan ya, Pi!" ucapnya sebelum panggilan tersebut terputus.


Anne segera bangkit dari ruang tamu, ia mengayun langkah menuju kamar untuk membersihkan diri sebelum beristirahat. Malam ini ia harus tidur sendirian di kamar ini, rasanya pun agak berbeda karena Anne sudah terbiasa tidur dalam dekapan hangat sang suami.


"Baru seminggu kerja udah capek banget!" gerutu Anne sambil memijat pundaknya yang terbalut bathrobe putih.


Anne baru saja keluar dari kamar mandi setelah mengguyur tubuhnya dengan shower air hangat. Tubuhnya terasa lebih rileks dari sebelumnya. Ia segera mengambil piyama yang tersimpan di almari sebelum naik ke atas ranjang.


"Gak enak banget ya sendirian di sini! Biasanya ada temennya ngobrol. Eh, sekarang terasa sunyi sepi," gerutu Anne setelah merebahkan diri di ranjang empuk tersebut.

__ADS_1


Waktu terus berlalu begitu saja. Anne masih belum bisa tidur meski penunjuk waktu hampir sampai di angka dua belas. Ia merasa sepi dan hampa berada di kamar luas itu seorang diri. Tidak ada belaian hangat yang biasa ia rasakan. Mungkin ini yang bisa disebut rindu.


"Duh! Harus ngapain lagi sih ini!" gerutu Anne seraya duduk bersandar di headboard ranjang.


Ia meraih ponsel yang baru saja diletakkan di atas nakas tersebut.


Anne membuka galeri ponselnya. Jari itu terarah menyentuh folder berisi foto-foto lama keluarganya. Bibir tipis itu mengembang begitu saja saat menatap orang-orang terkasih yang sudah tenang di alamnya. Sesekali bulir air mata itu turun begitu saja membasahi Pipi.


"Pa, Ma, Anne sebenarnya rindu! Tidak bisakah kita bertemu walau hanya lewat mimpi?" gumam Anne dengan pandangan yang tak lepas dari layar ponsel yang menampilkan foto keluarga usang saat dirinya masih kecil dulu.


"Anne akan berusaha hidup lebih baik, Ma." Anne tersenyum getir setelah mengatakan hal itu, "Anne pasti akan berjuang mendapatkan cita-cita yang dulu pernah Papa impikan!" gumamnya lagi seraya mengusap pipi yang basah itu.


Anne kembali merebahkan diri di ranjang tersebut tatkala memori otaknya kembali memutar kenangan di masa lalu. Anne menghabiskan malam yang sunyi ini dengan mengenang momen indah bersama mendiang ayahnya dulu.


Waktu terus berjalan tanpa henti. Langit yang gelap mulai berubah cerah karena sang mentari mulai hadir di cakrawala timur. Penunjuk waktu sudah berada di angka enam, tetapi Anne masih bergelung di balik selimut tebal yang menghangatkan tubuh. Bunyi alarm berkali-kali pun tidak bisa membangunkan tidur nyenyaknya.


Handphone itu beberapa kali berdering sejak setengah jam yang lalu. Sudah lebih dari sepuluh panggilan belum terjawab karena Anne masih asyik berkelana di alam mimpi.


Beberapa menit kemudian, Anne mulai mengerjapkan mata setelah mendengar ponselnya kembali berdering. Ia meraih ponsel yang ada di atas nakas untuk melihat siapa yang sudah menghubunginya beberapa kali.


"Dara?" Anne menjauhkan wajahnya setelah tahu siapa yang sejak tadi menghubunginya, dengan segera ia menggeser icon hijau itu agar panggilan terhubung.


Anne terhenyak dari tempatnya saat ini ketika mendengar kabar yang disampaikan oleh Dara. Ia segera turun dari ranjang dan berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri secepatnya.


"Oke, Dar! Sebentar lagi, aku akan ke rumah utama! Katakan pada bi Una atau bi Sari agar menunggu kedatanganku," ujar Anne sebelum memutuskan panggilan bersama Dara. Ia terlihat panik setelah mendengar kabar tentang om Rudi yang baru saja disampaikan oleh Dara.

__ADS_1


...🌹Selamat membaca🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2