
"Bagaimana kalau kita pergi ke Jawa timur saja biar kamu bisa makan sate ayam madura sepuasnya?" tanya om Rudi setelah menghentikan mobil di depan swalayan.
Anne menggeleng pelan. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling area swalayan. Pergi ke Jawa timur tidak ada dalam daftar keinginan di hatinya. Ia hanya ingin makan sate ayam madura di Jakarta.
"Kita keluar yuk, Pi! Itu di sana ada pujasera," ucap Anne seraya membuka sabuk pengamannya.
Om Rudi mencengkram setir mobilnya setelah melihat sang istri keluar dari mobil. Beliau lelah menghadapi sikap Anne hari ini. Mau tidak mau, om Rudi pun turun dari mobil untuk mengikuti sang istri yang sudah berjalan tak jauh dari mobil.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya om Rudi setelah langkahnya sejajar dengan Anne. Beliau merengkuh pundak sang istri sambil berjalan menuju pujasera.
"Emmm itu sepertinya ada nasi padang, Pi! Makan di sana, yuk!" ajak Anne setelah melihat kedai nasi padang di sisi pujasera.
Om Rudi menggeleng pelan melihat keinginan sang istri. Bagaimana mungkin istrinya itu bisa berubah keinginan dalam waktu sesingkat itu. Sungguh, om Rudi terlihat frustasi menghadapi Anne.
"Ayo, Pi! Duduk sini!" ujar Anne seraya menepuk kursi yang ada di sisinya.
"Kamu yakin makan di sini?" tanya om Rudi sekali lagi, "gak mau makan sate ayam madura lagi?" Om Rudi tidak melepaskan pandangan dari wajah sang istri yang sedang berseri.
"Sate ayamnya ditunda dulu, Pi! Saya mau makan kepala kakap saja, huuh! Pasti lezat!" ujar Anne seraya mengigit bibirnya. Mungkin ibu hamil satu ini sedang membayangkan betapa nikmatnya kepala kakap yang tersedia di sini.
Pesanan Anne akhirnya tersaji di atas meja. Sepasang suami istri itu menikmati makan malam berdua di kedai ini. Sesekali om Rudi menyuapkan satu sendok makanan untuk sang istri. Anne menghabiskan dua porsi kepala kakap seorang diri. Om Rudi tidak mempermasalahkan semua itu, beliau malah menambah satu porsi kepala kakap untuk sang istri. Kini, Drama sate ayam madura telah berakhir di kedai nasi padang.
Tepat pukul delapan malam, mobil yang dikendarai om Rudi sampai di rumah. Anne menunggu om Rudi sebelum masuk ke dalam rumah ini, "Papi, koper saya kemarin ketinggalan di taksi ya!" ujar Anne setelah teringat koper yang ia bawa ke Bali.
"Oh, sudah diantar langsung oleh sopir taksi kala itu, sekarang kopernya ada di kamar," ucap om Rudi setelah berdiri di sisi kiri Anne, "ayo kita masuk!" Om Rudi menggenggam tangan Anne saat menapaki satu persatu anak tangga yang ada di teras rumah.
"Selamat datang, Sayang," ucap om Rudi setelah pintu rumah terbuka lebar.
__ADS_1
Anne mengembangkan senyumnya setelah mendengar sambutan dari sang suami. Ia terus berjalan mengikuti langkah om Rudi, menapaki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.
"Oh ya, Papi sampai lupa! Kamu masuklah ke kamar dulu! Papi mau ambil obat di mobil!" ujar om Rudi setelah sampai di depan kamar. Beliau membalikkan tubuh dan kembali menapaki satu persatu anak tangga untuk kembali ke mobil.
Anne segera masuk ke dalam kamar seperti perintah dari om Rudi. Tidak ada yang berubah dari kamarnya meski beberapa hari ini ia tinggalkan. Semuanya masih tertata rapi seperti biasanya.
"Mandi air hangat sepertinya enak ini," gumam Anne setelah meletakkan tasnya di atas meja.
Setelah menghabiskan waktu selama beberapa puluh menit, pada akhirnya Anne keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe putih. Ia melihat om Rudi duduk di sofa yang ada di sana sambil membuka kemejanya.
"Sayang, kenapa harus mandi? Kamu baru keluar dari rumah sakit loh!" protes om Rudi setelah Anne duduk di sisinya.
Om Rudi menyerahkan segelas susu putih kepada Anne. Susu ini dibuat langsung oleh beliau, akan tetapi kali ini susu khusus untuk ibu hamil yang diberikan dokter kandungan.
"Ini bukan susu yang kemarin 'kan?" Anne memastikan susu tersebut sebelum meminumnya.
"Bukan, Sayang! Minumlah!" ujar om Rudi seraya tersenyum penuh arti, "Papi mau mandi dulu," ucap om Rudi sebelum beranjak dari tempatnya.
"Papi pasti gak suka lihat piyama ini," gumam Anne setelah melihat penampilannya dari pantulan cermin. Ia terkekeh setelah membayangkan wajah masam sang suami nanti.
Anne bergegas keluar dari ruangan ini setelah selesai bersiap. Ia membawa pakaian ganti untuk sang suami dan diletakkan di atas ranjang. Sementara itu Anne duduk di tepi ranjang untuk menunggu sang suami.
"Nah, gitu dong! Pakai piyaman lengan panjang! Lucu!" ujar om Rudi begitu keluar dari kamar mandi.
Apa yang diucapkan om Rudi berhasil membuat Anne mengernyitkan keningnya. Sungguh, ia tidak percaya mendengar ucapan itu. Penampilan seperti ini bukanlah yang diinginkan om Rudi selama ini.
"Papi yakin suka dengan piyama ini?" tanya Anne seraya menatap om Rudi yang sedang sibuk mengenakan pakaian.
__ADS_1
"Tentu! Papi sangat yakin!" ujar om Rudi dengan diiringi senyum yang sangat manis.
"Pisah ranjang selama beberapa bulan ternyata membuat selera Papi berubah, ya!" gumam Anne sambil mengamati setiap yang dilakukan sang suami.
Anne segera naik ke atas ranjang setelah om Rudi merebahkan diri di tempatnya. Beliau memberikan kode agar sang istri mendekat ke arahnya, "Papi tidak berubah selera, Sayang! Papi hanya ingin menjaga pertahanan agar tidak runtuh," ucap om Rudi sambil membelai rambut sang istri.
Anne menjauhkan tubuhnya dari om Rudi setelah mendengar pengakuan tersebut. Ia menaikkan satu alisnya karena belum paham apa maksud ucapan om Rudi.
"Pertahanan bagaimana, Pi?" tanya Anne penasaran.
"Ya, pertahanan agar tidak mencetak gol di gua licin!" jawab om Rudi seraya penuh arti.
Anne tergelak mendengar pengakuan om Rudi. Ia baru tahu jika sang suami sedang menahan hasratnya. Bahkan, Anne tidak percaya jika om Rudi bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
"Hei! Kenapa kamu membuka kancing piyama?" Om Rudi terhenyak dari tempatnya saat ini. Beliau mendekat ke tempat Anne berada saat ini.
Tanpa diduga, om Rudi merapikan kembali piyama yang hampir terlepas itu. Rona merah terlukis jelas di kedua pipi pria matang tersebut tatkala bola matanya tertuju pada dua bukit ranum yang terlihat menantang.
"Memang kenapa sih, Pi? Papi gak kangen sama saya?" tanya Anne setelah piyamanya rapi.
"Bukan begitu, Sayang! Papi sangat merindukanmu. Papi pun ingin sekali mendengar suara manjamu seperti dulu, akan tetapi ...." Om Rudi menghentikan ucapannya sejenak.
Anne semakin penasaran mendengar pengakuan tersebut. Ia terus menunggu sampai om Rudi melanjutkan ucapannya. Anne mengembangkan senyum tipis ketika merasakan tangan om Rudi mengusap perutnya beberapa kali.
"Papi tidak mau bermain-main dulu! Papi takut jika anak kita nanti terancam keberadaannya karena guncangan yang kita lakukan," ucap om Rudi dengan suara yang lirih.
...🌹Selamat membaca 🌹...
__ADS_1
...Maap yeee up telatðŸ¤Habis dari pasar euy😎...
...🌷🌷🌷🌷...