Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Wanita selalu benar!


__ADS_3

Reuni berjalan lancar sampai di akhir acara. Semua orang terlihat bahagia karena bisa berkumpul teman lama. Suasana meja di sudut ruangan pun mulai mencair, karena Anne mencoba untuk membuang perasaan canggung. Ia malah menunjukkan kemesraan bersama om Rudi di depan Bagus.


"Wah, sebentar lagi kita akan berpisah, Rud!" ucap tante Marlina setelah acara selesai, "hari ini mau kemana saja?" tanya tante Marlina.


"Nanti kita adakan lagi reuni selanjutnya, Lin. Setelah dari sini aku mau pulang saja, istriku butuh istirahat," jawab om Rudi seraya menatap Anne penuh arti.


"Cih! Bilang saja kalau mau bermesraan!" Tante Marlina menatap sinis ke arah om Rudi.


"No, Lin! Aku sedang berpuasa, istriku sedang hamil muda," ucap om Rudi dengan diiringi senyum tipis.


"Wow! Ternyata masih produktif juga lu, Rud!" ujar tante Marlina. Wanita cantik itu seakan tidak percaya mendengar pengakuan om Rudi.


Bagus menatap Anne sekilas, ada rasa tidak percaya ketika tahu bahwa mantan kekasihnya itu bersedia mengandung benih suaminya. Kini, Bagus tahu bahwa Anne telah menyerahkan hidup kepada om Rudi.


"Selamat atas kehamilanmu, Sayang," ucap tante Marlina seraya beranjak dari tempatnya. Wanita cantik itu memeluk Anne untuk sesaat.


"Terima kasih. Semoga tante cepat menyusul," ucap Anne setelah tante Marlina mengurai tubuhnya.


Obrolan kembali berlanjut hingga acara benar-benar selesai. Om Rudi pamit terlebih dahulu karena mengkhawatirkan kondisi sang istri. Om Rudi tidak mau terjadi apapun dengan janin yang sedang tumbuh di dalam rahim itu.


"Hati-hati, Rud," ucap tante Marlina sebelum om Rudi dan Anne berlalu.


Anne bergelayut manja di lengan sang suami ketika berjalan keluar dari aula ini. Langkah demi langkah telah dilalui oleh sepasang suami istri itu hingga sampai di tempat parkir.


"Pi, jalan-jalan dulu yuk!" ajak Anne setelah keduanya masuk ke dalam mobil.


"Kok 'pi' lagi!" protes om Rudi.


"Ih!" Anne mengerucutkan bibirnya, "Mas, kita jalan-jalan dulu, yuk!" ucap Anne dengan diiringi senyum manis.


"Nah, gitu dong! Itu baru benar!" ujar om Rudi sebelum mengarahkan setir mobil keluar dari tempat parkir.

__ADS_1


"Jadi, kita mau jalan-jalan kemana?" tanya Anne dengan mata yang berbinar.


"Kita pulang! Kamu sudah terlalu lelah hari ini!" ujar om Rudi dengan tegas hingga membuat binar bahagia itu hilang begitu saja.


Anne kecewa setelah mendengar jawab om Rudi. Pasalnya Anne ingin mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan. Ia ingin belanja beberapa peralatan make up dan gaun malam. Setelah bertemu tante Marlina saat reuni tadi, berhasil membuatnya menjadi minder.


"Tapi saya ..." Anne menghentikan ucapannya saat melihat protes lewat tatapan om Rudi mengenai gaya bahasanya, "emm ... tapi saya, eh, aku pengen belanja ke mall, Mas!" ujar Anne seraya menatap om Rudi.


"Masih banyak waktu di hari esok, Sayang. Sekarang kamu harus istirahat! Ingat! Kamu sedang hamil!" elak om Rudi tanpa menatap Anne.


Anne sepertinya harus mengalah. Ia tidak mau berdebat lagi tentang hal ini. Toh, memang yang dikatakan om Rudi memang benar kebenarannya. Tubuh itu terasa begitu lelah meski di sana hanya duduk manis sambil menahan napas, karena kehadiran Bagus yang tidak pernah terduga sebelumnya.


...💠💠💠💠💠...


Langit telah berubah menjadi gelap. Gemerlap bintang menghiasi langit malam tanpa cahaya sang rembulan. Malam ini angin malam berhembus cukup kencang hingga membuat om Rudi segera menutup jendela kamarnya.


"Sayang, susunya cepat diminum dong! Nanti keburu dingin!" ujar om Rudi setelah melihat susu yang masih utuh di atas nakas


Om Rudi berdecak kesal melihat sang istri yang sibuk membaca majalah sejak usai makan malam. Pria matang itu segera naik ke atas ranjang dan merebut majalah yang ada di pangkuan sang istri.


"Mas!" teriak Anne, ia tidak terima jika om Rudi mengganggu kegiatannya.


"Besok masih ada waktu untuk membaca majalah ini! Sekarang cepat habiskan susunya!" ujar om Rudi setelah meletakkan majalah tersebut di atas nakas yang ada di sisi tempat tidurnya.


Anne berdecak kesal setelah beradu pandang dengan sang suami. Ia segera meraih gelas tersebut dan habislah segelas susu putih pemberian om Rudi. Setelah meletakkan gelas tersebut di atas nakas, Anne merebahkan diri di atas pangkuan om Rudi. Ini lah yang dilakukan Anne setiap malam, karena bermanja-manja dengan om Rudi berhasil menyingkirkan mual yang selalu datang di waktu yang tidak menentu.


"Mas!" ucap Anne seraya menatap om Rudi.


"Hmmm, ada apa?" om Rudi menundukkan kepalanya agar bisa menatap wajah sang istri.


"Tante Marlina kenapa bisa cantik begitu sih, Mas? Padahal kan udah seumuran Mas," tanya Anne tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang suami.

__ADS_1


"Mungkin dia perawatan. Tapi dari dulu Marlina penampilannya tidak seperti itu," jawab om Rudi.


"Aku tuh minder waktu ada di samping tante Marlina! Dia udah setengah abad tapi cantik banget! Aku iri deh sama tante Marlina," ujar Anne dengan diiringi helaian napas yang berat.


Kalimat panjang yang diucapkan Anne berhasil membuat om Rudi mengernyitkan keningnya, karena semua itu terdengar ambigu, "maksudnya kamu iri dengan Marlina karena dia yang menjadi istri mantanmu itu?" tanya om Rudi.


Anne terkesiap setelah mendengar pertanyaan om Rudi. Sungguh, bukan itu yang dimaksud oleh Anne. Bahkan, tidak ada sedikitpun rasa iri karena tante Marlina yang menjadi istri sah Bagus.


"Mas, jangan negatif dulu dong! Bukan itu maksudnya!" kilah Anne setelah duduk di sisi om Rudi.


"Aku tuh iri sama tante Marlina karena penampilannya. Beliau di usia sekarang saja masih terlihat cantik dan sexy, lah apalagi dulu? Pasti Papi pernah suka ya?" tuduh Anne tanpa melepaskan pandangannya.


"Tidak. Aku tidak pernah tertarik dengan Marlina." Om Rudi melipat kedua tangannya di depan dada, "Dulu Marlina tidak secantik sekarang, dia banyak berubah setelah menikah dengan suami pertamanya dulu. Sekarang dia kelihatan cantik meski sudah berumur," ucap om Rudi sambil mengingat bagaimana sosok Marlina di masa lalu.


"Berarti cantikan dia ya daripada aku?" tanya Anne setelah mendengar penjelasan sang suami.


Om Rudi gelagapan setelah mendengar pertanyaan itu. Feeling om Rudi mulai mengatakan jika setelah ini akan terjadi perdebatan tidak penting dengan sang istri.


"Tidaklah! Kamu adalah yang tercantik dan terbaik!" ujar om Rudi sambil mengusap pipi Anne untuk beberapa saat.


"Tapi tadi Mas bilangnya kalau tante Marlina itu cantik! Berarti saya masih kalah sama dia dong!" ujar Anne dengan ekspresi wajah yang berubah menjadi masam.


Om Rudi menggaruk tengkuknya setelah mendengar jawaban sang istri. Perdebatan ini tidak akan pernah dimenangkan oleh om Rudi karena Anne selalu benar. Tinggal bagaimana saja om Rudi menyikapi sikap labil sang istri.


"Astaga! Keadaan ini akan rumit jika perdebatan tidak penting ini diteruskan, karena wanita selalu benar!" batin om Rudi setelah melihat sang istri yang merajuk.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Selamat menikmati hari minggu😍...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2