Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Cap cay di siang hari,


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Waktu begitu cepat berlalu. Musim hujan telah mewarnai hari-hari yang sudah dilalui oleh semua insan. Waktu telah meninggalkan kenangan di setiap persimpangan, entah itu suka ataupun duka. Langit nampak gelap gulita karena kekuatan awan hitam mampu menutupi keindahan rembulan dan bintang. Hujan lebat baru saja melanda kawasan tempat tinggal om Rudi sejak sore.


"Sayang, dia bergerak! Tanganku ditendang nih!" teriak om Rudi saat merasakan tendangan dari dalam perut sang istri.


"Sssst! Jangan teriak gitu kali, Mas! Ngomongnya biasa saja," ujar Anne seraya menatap om Rudi yang sedang asyik mengusap perut buncitnya.


"Maaf, maaf! Aku terlalu bahagia karena merasakan pergerakan anak kita," ujar om Rudi tanpa melepaskan tangannya dari perut sang istri.


Malam kian larut, akan tetapi sepasang suami istri itu masih asyik bercengkrama di atas ranjang. Mereka terlihat bahagia karena hari ini janin yang ada di dalam kandungan Anne bergerak aktif. Om Rudi terus berbicara di sisi perut sang istri dengan tangan yang tak henti mengusap perut buncit itu.


"Sayang, ini sudah terlalu larut. Tidur, yuk!" ajak om Rudi setelah membenarkan posisinya.


"Mas duluan saja, aku belum ngantuk," ucap Anne dengan suara yang lirih.


"Ayo sini! Nanti pasti cepat tidur." Om Rudi menepuk bantal yang ada di belakang Anne, "kamu harus istirahat, agar tubuhmu tidak lelah," lanjut om Rudi.


Anne mengikuti perintah sang suami. Ia merebahkan diri dengan disambut pelukan hangat dari om Rudi. Belaian tangan om Rudi di rambut sebahu itu terasa sangat nyaman, hingga membuat sang empu merasa tenang. Rasa kantuk pun mulai datang menghampiri wanita berbadan dua itu.


"Gini kok katanya gak ngantuk!" Om Rudi bergumam lirih setelah mendengar dengkuran halus sang istri.


...♦️♦️♦️♦️♦️...


Kehangatan sang mentari menyapa seorang wanita yang sedang melakukan yoga di tepi kolam renang. Desiran angin di pagi hari semakin menambah syahdunya suasana di teras belakang.


Anne duduk bersila di tepi kolam renang hampir tiga puluh menit. Kelopak matanya terbuka setelah merasakan tegang di perutnya. Mungkin, ini adalah sebuah kode untuk Anne jika harus mengakhiri olahraga ini.

__ADS_1


"Huh! Lumayan lah tiga puluh menit," gumam Anne setelah melihat waktu yang ada di ponselnya.


"Sekarang, waktunya istirahat. Nanti kita masak makan siang untuk papi, ya, Dek," ucap Anne seraya mengusap perutnya beberapa kali.


Anne merebahkan dirinya di kursi sun longer yang ada di tepi kolam. Di atas meja bundar itu sudah tersedia segelas jus alpukat dan beberapa makanan lain untuk Anne. Ia menghabiskan waktu di sana sambil menatap gumpalan awan yang menghiasi langit biru. Tidak ada aktifitas apapun yang dilakukan Anne setiap harinya, ia hanya olahraga, menghabiskan waktu di teras belakang dan terkadang menghabiskan waktu di taman kecil yang ada di halaman rumah.


"Aku kok tiba-tiba pengen masak capcay, ya!" gumam Anne setelah bayang-bayang sayuran itu menari-nari dalam pikiran.


Anne segera beranjak dari tempat duduknya saat ini. Ia mengayun langkah menuju dapur untuk melihat stok sayuran yang ada di dalam kulkas. Senyum manis mengembang dari bibir itu tatkala melihat sayur dan pelengkap untuk membuat capcay tersedia di sana.


"Nya, sedang mencari apa?" tanya bi Sari setelah masuk ke dalam dapur, "biar saya yang menyiapkan makan siang untuk Nyonya," ucap bi Sari. Wanita paruh baya itu tidak enak hati melihat sang majikan berkutat di dapur.


"Saya ingin masak sendiri, Bi," kilah Anne ketik bi Sari berusaha mengambil bahan-bahan yang sudah disiapkan oleh Anne.


"Jangan, Nya! Nanti Pak Rudi bisa marah kalau tahu Nyonya masak sendiri." Bi Sari masih tetap dengan pendiriannya.


Bi Sari terpaksa mengikuti perintah dari Anne. Kedua wanita tersebut pada akhirnya sibuk dengan tugas masing-masing. Anne sangat cekatan saat menyiapkan bumbu yang dibutuhkan. Sesekali ia menyeka keringat yang membasahi keningnya.


Beberapa puluh menit kemudian, cap cay racikan Anne siap dihidangkan. Ia pamit kepada bi Sari sebelum berlalu dari dapur. Anne mengayun langkah menuju kamarnya, untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke kantor om Rudi untuk makan siang bersama.


Setelah selesai bersiap, Anne kembali menapaki satu persatu anak tangga, ia harus kembali ke dapur untuk mengambil capcay yang sudah disiapkan bi Sari di kotak makan.


"Saya pergi dulu, ya, Bi!" Pamit Anne sebelum melenggang dari dapur.


Menjelang makan siang Anne berangkat menuju perusahaan om Rudi, tentu saja dengan di antar seorang sopir. Mobil putih milik Anne melenggang dari halaman rumah.


Perjalanan menuju perusahaan cukup lancar tanpa ada halangan. Anne segera turun dari mobil dengan membawa kotak makan berisi masakan yang tadi ia siapkan bersama bi Sari.

__ADS_1


"Selamat siang, Bu Anne," sapa resepsionis yang bertugas di lobby kantor.


"Selamat siang." Anne tersenyum manis saat menjawab sapaan wanita berparas cantik itu.


Langkah demi langkah telah dilalui Anne hingga sampai di lantai teratas perusahaan ini. Ia segera keluar begitu pintu lift terbuka lebar. Senyum manis seakan tidak pernah pudar dari bibir tersebut.


"Hay, Bu Risa," sapa Anne setelah masuk ke dalam ruangan sekretaris sang suami.


"Hallo, Bumil," jawab Risa setelah melihat kehadiran Anne di depan meja kerjanya, "wah udah besar aja ini perut," ucap Risa setelah berdiri di hadapan Anne. Ia mengusap perut buncit itu beberapa kali.


Kedua wanita itu memutuskan ngobrol sejenak untuk melepas rindu, karena sudah lama Anne tidak berkunjung ke perusahaan ini. Gelak tawa keduanya menggema di ruangan yang tidak seberapa luas itu.


"Kamu mau masuk ke ruangan Pak Rudi sekarang?" tanya Risa setelah melihat Pras keluar dari ruangan atasannya itu.


"Iya. Sebentar ya, aku ke ruangan mas Rudi dulu, nanti kita lanjutkan pembicaraannya," pamit Anne sebelum pergi dari hadapan Risa.


"Eh, tunggu!" Risa menahan tangan Anne, "pak Rudi masih ada tamu di dalam," ucap Risa dengan ekspresi wajah yang berubah.


Risa baru ingat jika di dalam ruangan tersebut ada seorang wanita. Sepertinya wanita yang ada di dalam sana adalah rekan sekolah om Rudi. Risa pernah melihat wanita tersebut beberapa kali datang ke kantor ini, saat ia pertama kali menjadi sekretaris om Rudi. Kini, Risa bingung, haruskah Risa menahan Anne di sini atau membiarkan wanita berbadan dua itu masuk ke dalam.


"Ada tamu siapa? Tumben kok langsung ke ruangan utama?" selidik Anne tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Risa.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Hayo ... siapa kira-kira tamunya? Ada yang tahu gak?...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2