Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Membujuk istri merajuk!


__ADS_3

Rona jingga terlukis jelas di cakrawala barat. Sang raja sinar mulai bergerak turun menuju peraduan. Burung-burung berterbangan untuk mencari sarangnya. Suara kicauannya berhasil mengusik sosok yang sedang bersantai di teras belakang. Om Rudi membuka kelopak matanya ketika mendengar derap langkah seseorang.


"Ada apa, bi Una?" tanya om Rudi setelah melihat kehadiran asisten rumah tangganya di sana.


"Ada kiriman untuk Bapak di ruangan keluarga," ucap bi Una.


Om Rudi bergegas bangkit dari kursi sun longer setelah mendengar kabar tersebut. Beliau berlalu dari teras belakang menuju ruangan keluarga. Senyum di bibir om Rudi mengembang sempurna setelah melihat buket bunga yang sangat indah ada di atas meja.


"Akhirnya, datang juga!" Om Rudi bergumam setelah meraih buket tersebut. Tak lupa beliau membawa satu kotak coklat yang ada di sisi buket tersebut ke dalam kamar.


Misi untuk meluluhkan istri yang merajuk akan segera dimulai. Kali ini om Rudi bertekad untuk menaklukkan bumil yang sejak tadi siang mengurung diri di kamar. Senyum manis terlukis dari bibir tersebut setelah om Rudi membuka pintu kamar. Beliau melihat sang istri masih terlelap di atas ranjang.


"Aku harus menang!" gumam om Rudi seraya berjalan mendekat ke ranjang, di mana sang istri berada saat ini.


Om Rudi berdiri di sisi ranjang seraya menatap wajah tenang sang istri. Sebenarnya, beliau tidak tega untuk menganggu tidur nyenyak itu, akan tetapi beliau ingin segera mengakhiri semua ini.


"Sayang ...."


"Sayang, Bangunlah!"


"Sayang!"


Om Rudi berusaha membangunkan Anne beberapa kali, hingga usahanya pun, pada akhirnya membuahkan hasil. Pria matang itu kembali mengembangkan senyumnya ketika melihat kelopak mata yang mengerjap pelan.


Anne tertegun melihat apa yang ada di hadapannya. Ia seperti mimpi kala melihat sang suami membawa buket bunga dan kotak berwarna gold di tangannya. Beberapa kali Anne menepuk pipinya untuk memastikan bahwa apa yang ada di hadapannya adalah nyata.


"Sayang, bangunlah! Kamu tidak bermimpi," ucap om Rudi setelah duduk di tepi ranjang, "ini bunga dan cokelat untukmu, Sayang." Om Rudi tersenyum penuh arti ketika melihat ekspresi wajah sang istri. Anne duduk bersandar di headboard ranjang seraya menatap om Rudi dengan lekat.


"Mas, minta maaf karena sudah membuat perasaanmu terluka. Mas, tidak akan mengulang hal yang sama. Apakah kamu bersedia memaafkan suamimu ini, Sayang?" tanya om Rudi seraya menyerahkan kedua barang yang ada di tangannya.


Anne menerima pemberian dari om Rudi. Ia mengamati kedua barang tersebut bergantian. Tak lupa Anne menghirup aroma bunga segar itu dengan mata yang terpejam. Cukup lama, Anne menghirup aroma wangi bunga tersebut. Setelah puas, ia meletakkan buket itu di atas nakas. Lantas, ia segera membuka kotak persegi itu.

__ADS_1


"Waw!" Mata indah itu berbinar ketika melihat cokelat favoritnya ada di dalam kotak tersebut.


Apa yang sedang ditunjukkan Anne saat ini berhasil membuat om Rudi tersenyum simpul. Pria matang itu bisa menebak jika sang istri telah luluh. Tangan kanan om Rudi terulur ke kaki mulus tersebut. Beliau menggerakkan tangannya dengan gerakan lembut di sana.


"Sayang, Mas minta maaf ya," ucap om Rudi seraya menatap Anne dengan sorot penuh cinta.


Anne menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia tidak bisa mengucapkan apapun karena mulutnya masih dipenuhi dengan cokelat. Tatapan penuh amarah, kini terganti dengan sorot penuh cinta.


"Aku sayang banget sama Mas," ucap Anne setelah meletakkan kotak cokelat tersebut, "terima kasih, ya, Mas, hadiahnya membuatku bahagia." Anne tersenyum manis setelah mengucapkan hal itu.


Senyum penuh kemenangan mengembang dari kedua sudut bibir pria matang tersebut. Om Rudi merasa lega setelah melihat respon sang istri, "sama-sama, Sayang," ucap om Rudi dengan suara yang lirih.


"Jadi, tidak marah lagi 'kan?" Om Rudi memastikan bagaimana suasana hati sang istri saat ini.


"Tidak, Pi." Anne menggeleng pelan seraya menatap om Rudi penuh arti.


Bunga-bunga cinta di hati om Rudi semakin bermekar indah setelah melihat senyum hangat sang istri. Beliau tidak mau banyak bicara saat ini, karena takut salah ucap dan membuat sang istri tersinggung. Tangan om Rudi tak henti memijat kaki Anne, gerakan tangannya semakin ke atas, hingga membuat Anne berhenti mengunyah coklat tersebut.


"Loh, ini adalah salurannya, Sayang!" ujar om Rudi dengan yakin.


"Modus!" sarkas Anne seraya menatap om Rudi penuh arti. Tentu dia tahu apakah yang diinginkan sang suami saat ini.


Om Rudi tergelak setelah mendengar sarkasme sang istri. Beliau segera menggeser tubuh untuk memijat bagian tubuh yang lain. Tangan om Rudi semakin bergerak aktif ke beberapa titik yang lain. Gerakan tangan yang lembut, nyatanya bisa membuat Anne menjadi tak karuan.


Permainan terus berlanjut meski sang mentari semakin bergerak turun. Penghujung senja menjadi saksi betapa hangatnya kedua insan yang sedang melebur kasih di atas ranjang empuk tersebut.


******


Waktu makan malam telah tiba. Dara dan Juna sudah duduk manis di kursi masing-masing. Mereka masih menunggu kehadiran dua orang yang masih mengurung diri di dalam kamar. Keadaan ini membuat Dara menjadi kesal, ia harus menahan keinginannya ketika melihat berbagai macam hidangan yang tersaji di sana.


"Duh, lama banget, sih!" gerutu Dara dengan bibir yang mengerucut.

__ADS_1


"Sabar," ucap Juna seraya mengusap telapak tangan sang istri.


"Apa aku panggil ke kamarnya saja, ya?" Dara menatap sang suami penuh arti.


"Jangan!" sergah Juna seraya mencekal tangan Dara, "sudahlah! Kita tunggu di sini saja, mungkin, setelah ini Papi keluar," ucap Juna seraya menatap Dara.


"Kamu tahu sendiri 'kan, jika Anne sedang marah saat ini. Pasti Papi masih berusaha meluluhkan Anne. Kamu pasti tahu kan maksudku?" Juna menatap Dara penuh arti.


Dara menutup bibirnya dengan tangannya setelah mendengar ucapan Juna. Ia terkekeh setelah membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam kamar orangtuanya saat ini.


"Hey! Kamu ini kenapa?" Juna menatap heran sang istri.


"Say, coba bayangin, deh! Mereka ngapain ya di dalam kamar?" Dara tidak bisa menahan tawanya agar tidak meledak.


Pada akhirnya, gelak tawa Dara menggema di sana karena membayangkan om Rudi dan Anne. Apa yang terjadi saat ini, berhasil membuat Juna merasa geli. Ia tahu jika sang istri pasti sedang membayangkan bagaimana adegan ranjang orang tuanya.


"Yang! Gak boleh gitu! Gak usah dibayangin!" Juna memperingatkan sang istri, agar menghilangkan pikiran konyolnya itu.


"Habis lucu, sih!" Dara semakin tergelak.


"Apanya yang lucu!"


Tiba-tiba terdengar suara bariton itu di dalam ruangan makan. Juna langsung bungkam begitu melihat kehadiran mertuanya di sana. Begitupun juga Dara, wanita yang sebentar lagi akan melahirkan itu segera membungkam mulutnya.


"Wah, pasti ada cerita lucu ini! Kasih tahu dong, Dar!" ujar Anne setelah duduk di kursinya.


...🌹Selamat membaca🌹...


...wah si om romantis juga 😂...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2