Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Kirana Diajeng Ardani Satya,


__ADS_3

Satu bulan kemudian,


Siluet jingga terlukis indah di cakrawala barat. Langit kota Bandung nampak indah dengan sorot jingga dibalik awan putih. Apalagi, angin senja mulai hadir untuk menyapa seorang wanita yang baru saja keluar dari mobil.


"Ayo kita masuk!" ajak om Rudi seraya meraih tangan Anne untuk digenggam.


Sepasang suami istri itu baru saja tiba di salah satu rumah sakit elit di Bandung. Mereka mengunjungi Dara yang sedang melahirkan di rumah sakit ini. Setelah menerima kabar dari Juna jika Dara akan melahirkan petang ini, om Rudi dan Anne langsung bertolak menuju Bandung diantar oleh sopir.


"Dara di ruangan mana, Mas?" tanya Anne setelah masuk ke dalam lobby rumah sakit.


"Dia masih di ruang operasi," ucap om Rudi tanpa mengalihkan pandangannya.


Gurat kekhawatiran terlihat jelas di wajah pria matang tersebut. Beliau takut terjadi sesuatu kepada Dara dan cucu pertamanya. Dara terpaksa harus melahirkan dengan cara caesar karena posisi bayinya sungsang.


"Itu Juna, Mas!" ucap Anne setelah melihat Juna sedang duduk di ruang tunggu.


Sepasang suami istri itu semakin mempercepat langkah agar segera sampai di tempat Juna berada. Juna tidak sendirian di sana, ada kedua orangtuanya yang mendampingi.


"Papi," ucap Juna setelah melihat kehadiran om Rudi dan Anne.


"Bagaimana istrimu? Apa dia baik-baik saja?" tanya om Rudi setelah berdiri di depan Juna, "kenapa kamu tidak menemani dia?" cecar om Rudi.


Anne segera menyentuh lengan sang suami, agar mengontrol perasaannya, "Mas, sabar dulu! Berikan Juna waktu untuk menjawab," tutur Anne dengan suara yang lirih.


"Dara baik-baik saja, Pi. Dia sudah masuk ke ruang operasi sejak tiga puluh menit yang lalu. Dara tidak mau saya temani, Pi. Dia keukeh ingin sendiri," keluh Juna dengan helaian napas yang berat.


Belum sempat om Rudi menanggapi keluhan menantunya. Orang tua Juna datang menghampiri untuk menyambut kedatangan om Rudi. Pada akhirnya, om Rudi pun duduk bersama besannya, diikuti dengan Anne.

__ADS_1


Obrolan ringan berlangsung di ruang tunggu. Ketegangan om Rudi sedikit teralihkan karena beliau fokus dengan besannya. Begitu pun Anne, ia sibuk bercengkrama dengan ibunya Juna. Keramahan mertua Dara itu berhasil membuat Anne merasa nyaman.


Setelah menunggu tiga puluh menit, seorang perawat memanggil Juna agar ikut masuk. Bayi yang ada dalam rahim Dara berhasil dilahirkan dengan selamat. Tinggal menunggu Juna untuk mengadzani bayi yang sudah selesai dibersihkan itu.


"Saya masuk dulu," pamit Juna sebelum berlalu dari ruang tunggu.


Anne tersenyum tipis setelah mendengar kabar dari suster, jika operasinya berjalan lancar. Kondisi Dara dan bayinya pun dalam keadaan sehat dan tidak kurang dari apapun. Keempat orang yang ada di ruang tunggu tersebut, akhirnya, bisa bernapas lega.


"Alhamdulillah," gumam Anne dengan mata yang berembun. Ia merasa bahagia karena pada akhirnya Dara bisa melewati semua ini.


...♦️♦️♦️♦️♦️...


Kebahagiaan menyelimuti semua orang yang berada di dalam kamar inap VVIP. Dara sudah dipindahkan ke dalam ruang Inap setelah kondisinya membaik pasca operasi. Penunjuk waktu sudah berada di angka sepuluh malam, akan tetapi om Rudi masih berada di sana.


"Udah, Papi pulang saja! Dara gak papa kok, Pi!" ujar Dara seraya menatap om Rudi yang duduk di kursi di sebelah bed nya.


Anne tak henti tersenyum ketika melihat bayi lucu yang sedang tertidur pulas di dalam box bayi. Ingin rasanya ia menggendong bayi tersebut. Namun, ia takut karena masih terlalu kecil. Lagi pula bayi tersebut baru saja tenang setelah menangis cukup lama.


"Dar, siapa nama putrimu?" tanya Anne seraya menutup Dara. Ia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju tempat Dara berada.


Suara handel pintu yang ditarik, membuat Anne mengalihkan pandangan. Ternyata Juna baru kembali setelah mengantar kedua orang tuanya pulang. Ia segera bergabung dengan Anne dan om Rudi.


"Say, ditanya Anne nih, siapa nama anak kita?" Dara menatap Juna dengan diiringi senyum tipis.


"Saya sudah menyiapkan nama untuk putri pertama kami. Saya minta izin kepada Papi, untuk memberi dia nama dengan unsur jawa, karena saya adalah keturunan orang jawa," ucap Juna seraya menatap om Rudi.


"Kenapa harus minta izin? Dia putrimu. Kamu berhak memberi nama untuk dia," ujar om Rudi.

__ADS_1


Kirana Diajeng Ardani Satya—sebuah nama yang sudah disiapkan Juna untuk putri pertamanya. Nama itu sudah disiapkan Juna beberapa waktu yang lalu. Sebuah nama yang memiliki makna— putri bangsawan yang suci dan memiliki hidup yang bersinar.


"Bagus sekali namanya!" Gumam Anne seraya menatap Juna dan Dara bergantian, "aku juga mau pakai nama jawa ah untuk dia," ujar Anne seraya mengusap perutnya beberapa kali.


"Memangnya kamu sudah tau jenis kelaminnya?" tanya Dara dengan suara yang lirih.


"Udah dong!" Anne tersenyum manis seraya menatap om Rudi, "adikmu nanti juga cewek! Bersiaplah untuk bersaing dengannya nanti." Anne berkelakar.


Dara hanya bisa meringis saat mendengar ucapan Anne. Rasa nyeri di perutnya mulai terasa saat tubuhnya melakukan pergerakan walau untuk sebentar saja, "Heleh! Mau bersaing bagaimana?" cibir Dara, "justru aku takutnya kamu tuh yang bersaing sama cucumu sendiri, Oma!" lanjut Dara seraya menatap Anne sinis.


"Ih, apaan sih! Kok Oma?" protes Anne seraya dengan bibir yang mengerucut.


"Terus apa dong? Anakku kan berarti cucunya Papi. Lah, kamu kan istrinya Papi, berarti benar dong kalau anakku memanggil kamu Oma!" jelas Dara seraya mengembangkan senyumnya.


Pada akhirnya, tawa om Rudi dan Juna meledak setelah melihat wajah masam Anne. Om Rudi hingga menitikkan air mata karena merasa lucu saja dengan situasi ini. Apalagi, setelah melihat kekesalan sang istri. Beliau semakin tertawa lepas hingga membuat bayi lucu itu menangis.


"Sayang, buruan ambil putri kita!" titah Dara seraya mengalihkan pandangan ke samping.


Juna terlihat kaku saat mengangkat putrinya. Ia sangat hati-hati karena bayi mungil itu menggeliatkan tubuhnya yang ada dalam bedong bayi, "Kiran sama Oma, ya? Bunda kan belum bisa gendong," ucap Juna saat mendekatkan putrinya dengan Anne.


Anne berdecak kesal setelah mendengar Juna memanggil dirinya dengan sebutan 'Oma'. Ingin rasanya ia memaki sepasang suami istri yang terus menggodanya itu. Meski memang benar kenyataannya seperti itu, akan tetapi Anne merasa geli saja jika putrinya Dara, benar-benar memanggilnya dengan sebutan Oma.


"Aku tuh belum Jadi 'Mama' loh! Jangan panggil Oma dong! Duh! Kacau kalian ini!" protes Anne setelah menenangkan Kiran di atas pangkuannya.


...🌹Selamat membaca 🌹...


...Anne naik pangkat nih😀jadi Oma muda 🤭...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2