Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Ungkapan om Rudi,


__ADS_3

Rasa bersalah mulai terasa di dalam hati. Rasa sesal pun perlahan menyiksa diri. Sungguh, om Rudi tidak tahu jika saat itu Anne berada di sana. Beliau tidak bisa membayangkan bagaimana psikis Anne setelah kejadian itu.


"Sekarang izinkan aku mengungkap apa yang tidak kamu ketahui, An." Om Rudi berusaha berdiri dari tempatnya saat ini. Beliau berpindah tempat tepat di hadapan Anne.


Om Rudi menceritakan apa saja yang sudah terjadi kala itu. Beliau terpaksa melakukan kejahatan itu karena dijebak pria bernama Joko, yang tak lain adalah paman Anne sendiri. Joko begitu serakah, beliau ingin menguasai semua kekayaan kakaknya. Om Rudi pun pada akhirnya terperangkap dalam jebakan yang sudah disusun oleh pria keji itu. Joko mengetahui jika om Rudi pernah bermasalah dengan kakaknya karena asmara.


"Saat itu Joko mengatakan kepada saya jika ingin membuat perhitungan kepada ayahmu! Aku pun langsung menyetujuinya padahal aku belum tahu rencana pamanmu itu,"


"Aku marah kepada ayahmu, karena ayahmu tidak bisa menjaga ibumu dengan baik. Aku tidak terima melihat ibumu sakit karena sikap ayahmu. Ibumu sakit karena tersiksa melihat ayahmu dekat dengan sekretarisnya!"


"Aku terlanjur menandatangani surat perjanjian dengan Joko. Aku pun di bawah tekanannya. Nyawaku dan Dara saat itu menjadi taruhannya. Asal kamu tahu, An! Aku tidak menginginkan kematian ayahmu! Joko yang menginginkan semua itu!"


"Joko menjadikanku sebagai alat! Aku pun tidak berdaya sama seperti ayahmu, karena saat itu aku belum mempunyai kekuasaan! Aku belum memiliki banyak uang untuk membayar bodyguard."


"Aku berani bersumpah demi apapun, jika aku tidak menerima sepeserpun harta orangtua mu! Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada ayahmu karena sudah menyianyiakan ibumu!" ujar om Rudi dengan sikap yang tenang. Pria matang itu menatap sang istri dengan lekat.


Anne mengalihkan pandangan ke arah lain setelah mendengar pengakuan om Rudi. Haruskah ia percaya dengan pengakuan tersebut? Tentu saja tidak. Apa yang dilakukan om Rudi kepada ayahnya benar-benar membuatnya murka.


"Intinya sama saja! Karena kebodohan dan cinta gila Anda, saya menjadi korban! Kenapa Anda lancang memberi pelajaran kepada ayah saya karena masalah percintaan konyol itu? Apakah otak Anda sudah tidak berfungsi, sehingga Anda lupa jika ada anak yang akan menjadi korban dari dendam tidak jelas yang anda simpan itu!" hardik Anne seraya menatap om Rudi dengan tatapan tajamnya.


"Aku melakukan semua ini karena ayahmu tidak becus menjaga ibumu! Dia mengambil ibumu dariku dan ternyata apa? Ayahmu malah menelantarkannya!" Om Rudi menatap lekat manik hitam yang ada di hadapannya itu.


"Lantas, kenapa Anda malah melakukan semua ini kepada saya? Jika memang Anda orang yang baik, maka Anda tidak akan menjerat saya dengan ikatan suci pernikahan dan ...." Anne menghentikan ucapannya saat om Rudi mulai menginterupsi.

__ADS_1


"Karena saya ingin menjaga kamu! Saya tidak mau kamu menjadi korban kejahatan pria seperti yang dirasakan ibumu! Aku tidak percaya dengan pria manapun! Aku ingin menebus semua rasa bersalahku di masa lalu!"


"Ya, aku akui! Awalnya aku memang menganggapmu sebagai Sekar! Akan tetapi semua itu berangsur pudar! Aku benar-benar mencintaimu, bukan ibumu lagi!"


"Jika memang kamu ingin membalas dan menghukumku, laporkan saja aku ke kantor polisi! Aku siap menjalaninya jika memang semua itu bisa menghapus rasa sakitmu!"


"Ya, memang aku ini pria brengsek, hewan, keji, biadab seperti yang kamu katakan tadi! Akan tetapi kamu harus tahu, jika aku pun bertahun-tahun dihantui rasa bersalah! Aku sudah mencarimu, tapi aku tidak bisa menemukanmu hingga kamu dan Ningrum datang ke rumah ini!"


"Menikah denganmu adalah caraku menebus rasa bersalah dan dosa yang menghantui! Aku hanya ingin mencurahkan semua rasa yang aku miliki. Aku ingin memberikan kasih sayang yang tidak pernah kamu dapatkan di masa lalu!"


"Aku ingin menebus semuanya. Aku ingin menjadi sosok ayah, suami dan teman yang bisa melindungimu di sisa hidupku! Kamu harus ingat satu hal, An. Aku tidak percaya dengan pria manapun untuk menjagamu! Cukup ibumu saja yang merasakan sakitnya penghianatan!"


Om Rudi menatap lekat sang istri. Beliau pun dipenuhi emosi di dalam hati. Alasan yang sesungguhnya telah disampaikan oleh pria matang itu. Semua ini berhasil membuat Dara dan Juna bingung. Mereka tidak tahu harus bersikap bagaimana.


"Sudahi pertengkaran ini! Aku tidak tahan mendengar semua ini!" ujar Dara di sela-sela tangisnya.


"Aww!" Dara meringis kesakitan tatkala merasakan sakit yang begitu hebat di perutnya.


"Dara!" teriak om Rudi. Pria matang itu langsung menghampiri putrinya, "Apa yang terjadi, Nak?" Om Rudi terlihat khawatir melihat kondisi Dara saat ini.


"Jangan mendekat, Pi! Jangan menyentuh saya! Saya belum bisa menerima semua ini! Saya benar-benar kecewa dengan Papi dan juga kamu, An!" Dara berlinang air mata. Hatinya begitu sakit setelah mendengar semua yang terjadi malam ini.


"Sayang, bawa aku pergi dari rumah ini! Bawa aku ke rumah sakit! Perutku sangat sakit!" keluh Dara seraya menatap Juna penuh harap.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Juna segera berdiri dari tempatnya. Ia memapah sang istri dan melenggang dari ruangan panas ini. Ia tidak sempat pamit kepada om Rudi karena terlalu panik melihat kondisi sang istri.


Om Rudi tidak bisa melakukan apapun saat ini. Beliau mengusap wajahnya kasar setelah mendengar ucapan putrinya. Beliau benar-benar berada dalam situasi yang sulit.


"Silahkan Anda pergi dari ruangan ini! Saya ingin menenangkan diri!" ucap Anne dengan suara yang lirih.


Kedua kaki itu pada akhirnya tidak sanggup lagi menahan beban berat tubuhnya. Ia ambruk di lantai setelah kepergian om Rudi. Ia tergugu dan meraung untuk mengeluarkan segala sesak di dada.


Kenangan bersama ayahnya sesaat sebelum kejadian mengerikan itu terngiang dalam ingatan. Ia masih ingat betul apa saja yang dilakukan ayahnya kala itu.


"Wah! Papa bangga denganmu, Sayang! Kamu hebat! Kamu pasti bisa menjadi pemimpin perusahaan seperti Papa! Kamu harus rajin belajar agar bisa mendapat rangking satu di kelas. Sekarang lihatlah, Papa sedang mendesain villa yang mewah seperti yang diinginkan mama dulu!"


"Villa ini akan Papa persembahkan untuk dua bidadari papa. Nanti kita akan memberi nama villa ini dengan Sekarannei Village, bagus 'kan?"


Anne semakin terisak saat memori itu kembali terputar dengan jelas. Suara bariton itu seakan tidak bisa hilang di indera pendengaran Anne meski tergulung oleh waktu. Semua kenangan itu yang membuat Anne berambisi menjadi pemimpin perusahaan. Ia menganggap semua yang dimiliki om Rudi adalah milik ayahnya. Padahal pada kenyataannya pamannya sendiri yang tega melakukan semua ini.


"Kenapa Papa dan Mama tidak mengajak Anne pergi! Kenapa kalian tega meninggalkan Anne sendiri di sini! Jemput saja Anne saat ini! Anne sudah tidak sanggup melawan kerasnya dunia!" teriak Anne dengan tangis yang terdengar pilu.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Jadi bagaimana? Kalian tim om Rudi atau Anne?...


...🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2